Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 6] p151-178

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

1. 6 Demi Indonesia Aku Kembali “Yang penting selalu berkontribusi dan turut memperbaiki Indonesia.” (Suyoto Rais)

20. “Pada saat bekerja di SEWI kami beberapa kali bertemu. Saya seperti menemukan harapan baru dengan hadirnya Pak Suyoto. Sayangnya ternyata dia tidak bekerja selamanya di sana, seperti juga saya yang terpaksa mencari jalan lain yang lebih baik. Kami tetap menjalin kontak setelah itu dan berharap bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Buku ini akan jadi bacaan menarik sambil mengenang saat-saat bersamanya.” Gagarin Tan Mantan kolega di SEI Group dan sahabat yang menjadi profesional di Singapura “Saya kenal beliau pada saat baru kembali ke Indonesia dulu dan segera terkesan kalau dia sangat profesional dan ringan tangan kepada sesamanya. tetapi wajah penuh semangat itu berubah sedemikian sedih pada saat bertemu saya pasca PHK dulu. Saya tidak tega dan memperkenalkan dengan seseorang berhati mulia yang kemudian memberinya kesempatan untuk berkarier. Saya turut bahagia melihat sahabat saya akhirnya menemukan jalannya kembali sebagai seorang profesional global. Buku ini akan menjadi sahabat saya selanjutnya yang akan memberi inspirasi dan motivasi tak terbatas.” Sukma Nugraha, M.M. Sahabat penulis. Pemilik dan presiden direktur PT Mutiara Global Industry, Bogor 170

6. dari Indonesia. Dia sebenarnya selalu kunasihati agar sedikit-banyak Sariraya bisa menjadi pintu masuknya produk-produk halal dari Indonesia, dia juga ingin bisa impor semuanya dari Indonesia. Sebagai negara yang penduduknya beragama Islam terbesar, seharusnya Indonesia juga bisa menjadi eksportir produk-produk halal terbesar pula. Tetapi sayangnya dalam hitung-hitungan bisnis sering tidak memenuhi target harga. Akhirnya apa yang kukawatirkan terjadi, Sariraya terpaksa membikin MoU dengan produsen Malaysia untuk mengimpor produk dari negara sebelah. “Mas, aku terpaksa akan impor dari Malaysia. Inginnya dari Indonesia sesuai rencana kita dulu, tetapi harganya tidak bisa masuk hitungan bisnis di Jepang”. Itu adalah sepenggal SMS dari Teguh. Sudah sekian kali dia mengeluh, sering bolak-balik ke Indonesia untuk bertemu dengan beberapa produsen makanan yang siap ekspor ke Jepang, sering harus bertemu dengan dirjen dan pejabat terkait di negeri ini. Tetapi hasilnya belum bisa dirasakan. Maka, dia akhirnya menandatangani MOU dengan salah seorang produsen makanan halal dari Malaysia. Apa boleh buat, cinta tanah air tidak bisa diartikan harus mengorbankan bisnis dan masa depan. Sudah hampir 10 tahun Sariraya kami dirikan. Mulai dari jualan keliling ke komunitas-komunitas Indonesia, hingga sekarang sudah bisa mengelola pabrik tempe, restoran dan pengolahan makanan Indonesia di dekat Nagoya. Juga impor bahan makanan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Ada yang dilakukan sendiri, ada yang kerjasama dengan importir Jepang lainnya. Kalau di Jepang, sekarang semakin mudah untuk mendapatkan produk-produk halal dari ASEAN, Sariraya sedikit banyak punya kontribusi. Produknya telah menjangkau hampir semua toko dan restoran halal atau resto/ toko Indonesia di Jepang. Mungkin tidak berlebihan kalau “Halo Jepang” edisi Maret lalu menulis liputan khusus tentang Sariraya sebagai “Penguasa Produk Halal di Jepang”. Sayangnya untuk produk impor masih didominasi dari Thailand dan Malaysia. Lagi-lagi karena QDC ( quality-delivery-cost ) yang lebih baik dari kaca mata pembeli. Bukannya tidak suka produk negeri sendiri. Jujur saja masih banyak yang perlu dibenahi: birokrasi yang kadang tak jelas, broker-broker yang tidak memberi nilai tambah sepadan, infrastruktur yang bikin biaya logistik mahal, inefisiensi di internal produsen, dan sebagainya. Hmm, semoga segera ada solusinya! [] 156

16. kanker yang sedang membelah (berkembang biak) akan mematikan sel tersebut, sementara kalau mengenai sel biasa tidak ada pengaruhnya. Jaket dengan alat pemancar gelombang yang digerakkan dengan bateray 30V tersebut, mampu menghasilkan panas yang bisa membinasakan sel kanker dan daya basminya lebih dahsyat dibanding dengan kemo yang selama ini dikenal masyarakat. Bedanya, kemo memiliki pengaruh ke sel-sel normal di sekitar wilayah bidik, dan bisa mengakibatkan rambut rontok dan lain-lain, sementara “jaket- Warsito” cenderung lebih aman. Alat-alat medis untuk kemo juga masih diimpor 100% dan konon ini biaya terbesar untuk terapi kanker. “Jaket-Warsito” sudah bisa diproduksi 100% di dalam negeri dan alat pemancar hanya dipasang di lokasi tertentu setelah lokasi sel kanker diidentifikasi. Jelas, ini akan mempengaruhi banyak pihak, mulai dari pengimpor alat-alat medis sampai dokter-dokter yang menggunakannya. Mungkin karena itu pula, “jaket-Warsito” terkena berbagai dampak regulasi dan ditentang oleh IDI. IDI juga belum menemukan hasil analisa dan kajian ilmiah yang membuktikan kalau sel kanker bisa mati karena radiasi sinar gelombang pendek. Karena itu belum bisa mengeluarkan izin sampai saat ini. Dr. Warsito telah mencoba banyak pintu untuk bisa mendapatkan izin produksi dan izin jual. Bahkan pernah juga dibantu oleh orang-orang dekat RI 1, tetap saja mentok. Tetapi dia belum menyerah. Bersama temannya dan memakai dana yang dihasilkan dari jualan paten di Amerika dan juga aset keluarganya, dia meminjam ruko di Tangerang untuk melanjutkan penelitiannya. Saat ini banyak pasien kanker yang datang berkonsultasi, dan tentu saja dia tidak bisa menolak karena rata-rata mereka yang datang adalah pasien yang sudah tidak punya pilihan di tempat lainnya. Sejak laboratorium Edwar (dari nama Edy dan Warsito) didirikan tahun 2011 yang lalu, telah lebih dari 10.000 pasien yang menggunakan “jaket-Warsito” dan data-datanya menunjukkan sekitar 80% sembuh dari kanker. Sementara mereka yang tidak sembuh umumnya justru yang stadiumnya masih rendah dan pergerakan sel kanker belum aktif. Dia masih ingin me- level up alatnya dan sepanjang harinya disibukkan dengan penelitian data-data pasien dan juga improvisasi. Sambil seminggu sekali mengajar 166

19. dicari di internet, medsos dan kadang diekspos media massa. Bahkan sempat ditulis sebagai salah satu tokoh dunia di buku Who’s Who in the World 2010 . Salut dan turut bangga, kawan! Tetapi tetap saja dia menyimpan kegalauan. Niatnya untuk menjadikan MOCAF bukan hanya makanan sampingan belum kesampaian. Dalam sebuah percakapan via telepon beberapa waktu lalu, dia mengatakan kalau perjuangan belum selesai. Dia masih melihat potensi-potensi dari MOCAF masih belum sepenuhnya digali dan dikembangkan. Dia juga belum melihat keseriusan pemerintah untuk menurunkan angka impor gandum dan mendukung pangan alternatif. Dia belum melihat keseriusan para produsen mi instan, roti dan kue untuk berpindah mengganti bahan baku impor ke bahan baku lokal. Hitung-hitungan kasar, kalau saja pemerintah berani menekan angka impor gandum sampai 50% dari kondisi sekarang dan “memaksa” para produsen mi instan, roti dan makanan lain berbahan baku gandum beralih ke MOCAF maka puluhan juta orang akan mendapat pekerjaannya dengan layak di daerah masing-masing. Industri ini bisa dibangun dari hulu sampai ke hilir di banyak wilayah di Indonesia. Dan itu telah dibuktikan oleh Pak Bagio. Tantangan lain yang juga harus dihadapi adalah mengedukasi konsumen, supaya bisa menikmati singkong dan modifikasinya. Tetapi menurutnya tantangan yang paling besar yang terus diperjuangkan: kebijakan pemerintah yang mendukung pangan alternatif. Dalam obrolan di telepon beberapa waktu lalu, saat ini dia sedang mengembangkan proyek singkong di tanah gambut Kalimantan. Sekitar 100 hektar akan dikembangkan, dan masyarakat di sekitarnya akan diberdayakan untuk bekerja mulai dari hulu sampai ke hilir. Kapasitas bahan baku di Jawa sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen MOCAF saat ini dan salah satu alternatifnya melirik daratan luas di Kalimantan. “Tanahnya belum tentu cocok memang, tetapi ini justru tantangan para peneliti bekerja sama dengan pebisnis dan masyarakat sekitar. Aku sudah menemukan solusinya, Pak. Yang jelas, perjuangan masih panjang. Kita perlu bersinergi yang melibatkan banyak insan-insan Indonesia lagi....” demikian dia menutup teleponnya untuk berjanji akan melanjutkan obrolan lagi suatu saat nanti. [] 169

22. Dulu, ketika kontrak penelitian di Denso hampir selesai, saya pernah mengajukan permohonan untuk kembali ke BPPT dan sayangnya ditolak. Setelah itu pernah dipanggil sekali, tanggal dan jam ditentukan secara sepihak, dan saya minta ditunda karena pada saat yang ditentukan itu tidak bisa pulang ke Indonesia. Tetapi tidak ada balasan dan saya juga tidak komunikasi lagi setelah itu. Saya lupa siapa yang kontak saya saat itu. Saya juga tanya ke teman-teman mantan karyasiswa yang saya kenal. Sayangnya semua memberikan jawaban yang tidak jelas. Kesamaannya, tidak ada yang memenuhi kewajiban. Mohon dijelaskan kepada siapa dan kapan sebaiknya saya berkonsultasi masalah ini. Selama aturan dan pelaksanaannya jelas, insya Allah saya akan memenuhi kewajiban saya. Tentunya semampu saya ya Pak... (^-^). Mungkin dengan materi, mungkin dengan keterampilan/pengalaman atau bentuk lainnya mendukung BPPT dari luar sistem. Bahkan kalau saya diminta kembali dan ada tempat berkarya yang pas, saya juga akan mempertimbangkannya, misalnya kalau ada proyek/program pengembangan mobil nasional ke skala mass pro , penguatan industri manufaktur kita atau proyek-proyek lainnya yang sekiranya bisa saya ikuti dengan sedikit keterampilan/pengalaman saya. “Saya menunggu kabar/instruksi lanjut dari bapak. Mohon maaf juga untuk tambahan kesibukan ini. Salam hormat selalu.” Aku pikir, aku akan segera dipanggil dan disidang di BPPT untuk mempertanggung-jawabkannya. Ternyata setelah jawaban itu, ada info baik dari beliau kalau testimoni sudah dikirim ke email. “Pak Suyoto Rais, bahan testimoni sudah saya kirim via email. Semoga buku pak Suyoto bisa memberikan manfaat dan inspirasi bagi generasi muda bangsa Indonesia.” Pesan singkat ini membuatku merasa sangat lega. Dengan testimoni ini juga, aku akhirnya memberanikan diri untuk menghadap ke Pak Wardiman (sesepuh BPPT dan mantan mendikbud kita) dan juga meminta dukungannya untuk bisa diterima Pak Habibie. [] 172

28. “Saya beberapa kali ikut pertemuan bisnis dengan beliau dan calon investor dari Jepang. Dia bukan hanya lihai bahasa Jepang, tetapi juga mampu membuat relasi bisnis dari Jepang sangat percaya dan menghormatinya. Kemampuannya bernegosiasi ternyata luar biasa juga, meskipun tidak terlalu ditonjolkan di buku ini. dan buku ini mengungkapkan fenomena yang actual, jujur dan apa adanya, realitas digambarkan dengan lugas ,Saya menyambut buku ini dengan senang hati dan sukses selalu.” Didi Supriyadi Presiden Direktur PT Hanei Indonesia, relasi bisnis. “Pak Suyoto bekerja di perusahaan auto-part yang menjadi salah satu mitra pemasok komponen ke perusahaan kami. Meskipun secara usia dan sebagai alumni Jepang, Pak Suyoto itu senior saya, tetapi beliau bisa menempatkan diri dengan baik antara urusan bisnis dan pribadi. Saya mengagumi dedikasi yang luar biasa dalam pekerjaan dan tentunya terhadap pendidikan di Indonesia. Di luar kantor, kami terlibat aktivitas sosial bersama untuk membantu pendidikan manufaktur di Indonesia.” Shodiq Wicaksono MM., M.Eng. Deputy Director PT Suzuki Indomobil/Motor Indonesia 178

5. Mendirikan Pusat Produksi Makanan Halal Indonesia “Ketika produk halal mulai dicari di Jepang, Indonesia seharusnya bisa banyak berperan.” (Suyoto Rais) Ada lagi satu aktivitasku di luar kantor. Membangun bisnis bersama adikku, Teguh Wahyudi. Ceritanya setelah lulus S1 Pertanian di UB Malang, dia berniat melanjutkan ke S2 di Jepang. Sudah kusiapkan semuanya, termasuk biaya, kursus bahasa Jepang dan pencarian universitas. Tetapi di tengah jalan, dia berubah pikiran, yaitu ingin berbisnis di Jepang. Selama mahasiswa di Malang, dia memang sudah terbiasa memiliki bisnis kecil- kecilan pengemasan makanan ringan. Produknya dibeli dari produsen skala rumah tangga yang banyak bertebaran di Malang, dikemas rapi dan dijual di supermarket. Lumayan untuk membantu biaya kuliahnya. Dia ingin meneruskannya di Jepang. Akhirnya kami mendirikan Sariraya Co. Ltd. yang memiliki pabrik tempe, restoran Indonesia dan usaha impor bahan-bahan makanan dari Indonesia (www.sariraya. com). Kalau sekarang produk-produk makanan dari Indonesia semakin mudah didapat di Jepang, sedikit banyak Sariraya juga memiliki andil nyata. Sariraya mungkin satu-satunya perusahaan Jepang yang didirikan oleh putra- putri Indonesia yang tidak memiliki darah Jepang atau istri/suami orang Jepang. Tidak mudah untuk mengawalinya dan sempat jatuh bangun, tetapi akhirnya bisa tetap eksis sampai sekarang. Sariraya mempekerjakan beberapa tenaga dari Indonesia dan juga karyawan Jepang. Bisnis tersebut bisa didaftarkan sebagai perusahaan resmi di Jepang karena jaminanku yang saat itu berstatus sebagai karyawan Denso. Di tengah perjalanan, Takahito Sato dan Kazuyo Nakao (mantan koordinator BFC) bergabung. Sekarang Sariraya sedang membangun fasilitas pabrik dan kantor yang lebih luas. Juga mulai mencari mitra di Indonesia, selain Malaysia dan Thailand untuk menyuplai produk- produk makanan halal dari ASEAN. Teguh sering mengeluh, untuk produk yang sama kebanyakan harga impor dari Malaysia dan Thailand jauh lebih murah dibanding 155

2. “Tidak banyak orang yang tahu apa yang terjadi di Jepang pada saat Indonesia mengalami krisis berat di tahun 1998. Di Indonesia ada gerakan reformasi yang salah satunya dimotori Amien Rais, di Jepang ada gerakan untuk lebih mengenal dan mencintai Indonesia “ Love for Indonesia ” yang dimotori oleh Suyoto Rais (konon keduanya masih seibu, yaitu ibu pertiwi!). Saat itu, saya dipanggil Mas Suyoto ke Osaka untuk ikut mengisi konser amal bersama Katon Bagaskara. Kami tergerak untuk mendukungnya. Kemudian dilanjutkan setelah dia pindah ke Nagoya untuk “ Save Aceh ”, “ Panorama Indonesia ”, dan kegiatan amal lainnya berkolaborasi dengan artis-artis lainnya. Kadang dia sendiri yang menyopiri saya, meskipun kemampuannya jadi sopir masih diragukan. Semua untuk kegiatan amal dan promosi Indonesia. Keinginannya untuk terus berkontribusi bisa dibaca dari buku ini. Semoga suatu saat bisa dipanggil kembali ke Jepang bukan untuk konser amal. He... he... he...” Didik Nini Thowok Penari profesional dari Yogyakarta yang telah “mendunia” “Dr. Suyoto salah satu penerima beasiswa OFP-BPPT yang memilih untuk tetap tinggal di jepang setelah menyelesaikan studinya. Sangat disayangkan, tetapi juga perlu diberi apresiasi atas keberaniannya untuk membuat pilihan yang tidak mudah. Ternyata berkat kerja kerasnya akhirnya membuahkan prestasi menjadi peneliti dan praktisi manufacturing system di Jepang. Dia pernah mendapatkan “ Technology Award ” dari JSME untuk penelitiannya mengenai “ Intelligent Manufacturing System ” dan juga berpengalaman mengembangkan atau mengelola sistem produksi aktual yang digunakan di industri manufaktur. Semoga apa yang telah didapatkan kelak bisa bermanfaat bagi Indonesia. Sebagai sesama alumni Jepang, saya turut bangga dan gembira menyambut terbitnya buku ini.” Dr. Unggul Priyanto Alumni Jepang yang menjadi Kepala BPP Teknologi “Buku ini sangat inspirational. Saya merekomendasikan buku ini terutama untuk mereka yang masih muda. Pengarang buku ini, Suyoto Rais, memiliki anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Ia memiliki semangat perjuangan yang patut dikagumi. Ia memiliki bakat yang besar dan masa depan yang cerah. Semoga Allah SWT memberkatinya secara berkelimpahan, dan ini bermanfaat untuk banyak pihak.” Shanty Meidya Sari Mantan anak buah dan manajer PGA di PT Ohkuma Industries Indonesia 152

10. masing-masing. Ini untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman, bahwa semua pekerjaan mereka itu sebenarnya untuk membantu lini produksi. Hanya lini produksi lah yang sebenarnya memberikan nilai tambah yang akan dibeli oleh customer. Maka harus ada keinginan yang kuat agar mereka bisa memberikan servis dan dukungan terbaik untuk orang-orang di lini produksi. Saya juga sering dinasihati atasan dan para senior setiap pergi ke pabrik. Guru yang sesungguhnya adalah orang-orang di lini produksi. Mereka penentu kondisi aktual baik-tidaknya pemanufakturan yang memiliki data-data aktual primer.” Mahasiswa juga kuajak berkunjung ke perusahaan-perusahaan manufaktur di salah satu jam kuliah sehingga bisa lebih tahu permasalahan di industri riil. Aku ingin para mahasiswa mendapatkan pengalaman yang mendekati kondisi riil di industri manufaktur. Menurutku, inilah sebenarnya kekurangannya akademik kita. Dan itu pula yang ingin kutularkan ke para mahasiswa yang konon terbaik di Indonesia ini. Mungkin, aku juga hanya punya ini untuk bisa ditularkan di kampus teknik terbaik di negeri ini. Mulai Oktober jam kuliah kuubah Jumat sore, atas izin dari big boss di Jepang. Setelah aku jelaskan panjang lebar, dan niatku bukan untuk cari uang, mereka sangat mendukung aktivitasku ini meskipun harus memangkas sebagian jam kantor. Aku mandapat izin khusus untuk pergi dari kantor setelah salat Jumat. Beberapa kali aku absen dan hanya mengirimkan tugas pada saat pekerjaan benar-benar tidak bisa ditinggal. Tanggal 5 Desember 2014 kuliahku berakhir. Selama semester depan aku akan istrirahat dulu sambil instropeksi dan memperbaiki materi kuliah, baru berpikir kembali di semester ganjil berikutnya. Selain ITB, setelah itu ada beberapa permintaan mengajar di Jakarta dan sekitarnya. Mudah-mudahan ada kelonggaran waktu dan skill untuk menjawabnya. Sambil tetap memprioritaskan tugas utamaku di kantor tentunya. [] 160

26. Sepuluh kemampuan utama tersebut memang mudah dijual di Jepang dan mungkin juga di luar negeri lainnya. Banyak industri manufaktur di sana yang memerlukannya untuk efisiensi aset produksi saat ini dan juga pengembangan ke depan. Karena itu pilihan sebagai ekspatriat Jepang di Indonesia mungkin alternatif terbaikku saat ini. Tetapi aku tetap ingin membuka diri, kalau pengalaman dan keahlianku memang diperlukan untuk negeri ini, aku pun siap berbagi sebatas kemampuan yang ada. Bersama beberapa kawan alumni Jepang, saat ini aku sedang menggagas pendirian forum studi untuk meningkatkan wawasan global masyarakat Indonesia. Kami namai Formasi-G mengambil kata-kata dari Forum Studi dan Informasi Global. Gagasan ini bermula dari keprihatinan melihat membanjirnya produk- produk dari ASEAN, Cina, dan luar negeri lainnya di negeri ini. Misalnya, mengacu data-data perdagangan antara Indonesia dan ASEAN yang dirilis di website Departemen Perdagangan, dari tahun ke tahun memperlihatkan angka-angka yang cukup memprihatinkan. Tahun 2009 masih surplus 3,5 milyar USD, 2010 = surplus 1,8 milyar USD dan mulai tahun 2011 telah defisit 680 juta USD, 2012 = defisit 3,5 milyar USD, 2013 = 6,7 milyar USD, serta tahun 2014 defisit semakin membesar sekitar 10,8 milyar USD. Sementara MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) akan segera dimulai dan kalau kita tidak bisa memperbaiki kondisi saat ini, kemungkinan defisit akan semakin membesar. Itu pasti juga akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Untuk memperbaikinya, kita memerlukan banyak insan Indonesia yang bisa berpikir lebih obyektif di dalam melihat permasalahan dan mencarikan solusinya bersama-sama. Inilah tujuan inti dari Formasi-G. Setelah gagasan mulai mengerucut, aku berkonsultasi ke Para Pengurus IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie), di mana aku juga salah seorang anggotanya. Kemudian I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional), di mana Wakil Ketua Umumnya Dr. Riza Muhida, kawan sesama alumni Osaka yang pernah bersama- sama di Jepang dulu. Lalu, MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) yang dipimpin Dr. Warsito P. Taruno. Alhamdulillah mereka segera mendukung. Bersama ketiga organisasi pendukung ini, Formasi-G siap mendeklarasikan diri bersamaan waktunya dengan rilis bukuku. Semoga diridai oleh-Nya dan akan membawa manfaat untuk negeri ini. 176

14. mengeluhkan kurangnya tenaga insinyur untuk membangun banyak industri riil di tanah air. Kondisi ini bisa diperbaiki kalau kita bisa memikirkan adanya pendidikan manufaktur yang menarik mahasiswa dan juga meminta dukungan dari pihak industri untuk membantu selama proses pendidikan, misalnya mengirimkan expert , meminjamkan sebagain fasilitas produksi di kala libur atau senggang, menghibahkan mesin-mesin yang sudah tidak aktif tetapi masih bisa digunakan untuk pelatihan dan yang terpenting menerima lulusannya untuk bekerja di industri manufaktur. Ini tidak bisa dilakukan oleh sepihak. Pihak kampus harus bergandeng tangan dengan pihak industri, atau sebaliknya. Dr. Kojima menawarkan konsep untuk saling bergandeng tangan itu, dan aku diminta untuk meminta masukan dari rekan- rekan alumni Jepang yang sekiranya bisa mendukung. Akhirnya bulan Februari 2015, kami bertemu di sebuah hotel di Bekasi. Kojima San hadir bersama 5 orang Jepang lainnya, ada yang dari akademis ada yang mewakili pemerintah Jepang. Kami berdiskusi santai sambil makan malam bersama. Dan pertemuan awal itu akan dilanjutkan di kemudian hari. Aku jadi teringat pada saat Mendikbud Wardiman di pertengahan tahun 90 yang lalu pernah mencetuskan Program “ Link and Match ” antara akademik dan industri. Tetapi sampai sekarang pun apa yang beliau impikan kabarnya masih sulit diwujudkan, meskipun tetap ada kemajuan. Aku agak pesimis juga pada awalnya, tetapi mungkin aktivitas ini beda. Dimotori oleh industri, baru akademik dan pemerintah mengikuti bersama-sama. Kalau kondisi ini bisa diupayakan, sangat mungkin “ Link and Match ” bukan hanya impian. Sampai saat ini, diskusi intensif masih terus kami lakukan dan mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama akan segera bisa dirilis bentuk dukungan untuk pendidikan manufaktur di Indonesia. Di sini perlu banyak orang-orang ahli di bidang manufaktur, bukan hanya akademisi. Mungkin, ini adalah salah satu tempat aku bisa berkontribusi. [] 164

11. Mengunjungi “Ahli Motor” Ricky Elson di Tasikmalaya “Perlu banyak manajer, engineer , dan pihak-phak terkait yang saling bersinergi untuk bisa membikin produk-produk andalan Indonesia.” (Suyoto Rais) Namanya mudah dicari di google dan medsos. Dia memang “ hero ” anak-anak muda di tanah air. Ricky Elson, begitu namanya. Lelaki kelahiran Padang tahun 1980 yang pernah kuliah di Jepang sampai S2 dan kemudian masuk ke perusahaan motor terkemuka di Jepang, Nidec. Dan di situlah pertama kali aku berjumpa dengannya Juni 2011 yang lalu. Setelah Nidec tidak jadi membangun pabrik besar di Indonesia, aku dengar dari kawan di Nidec, dia ditugaskan ke Indonesia untuk mencari pasar dan mencari model bisnis yang tepat untuk memasarkan kincir angin 500W yang telah diproduksi Nidec, di mana salah satu product developer -nya Ricky. Nidec menaruh harapan sangat besar karena Ricky banyak kenal pejabat-pejabat tinggi di Indonesia, termasuk Dahlan Iskan. Beberapa contoh produk dipasang di Tasikmalaya dan Sumbawa sambil mengukur kecepatan angin dan memikirkan bentuk baling-baling yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Di tengah perjalanan, akhirnya dia memilih untuk keluar dari Nidec dan tetap melanjutkan ”Pusat Studi dan Pengembangan Teknologi Energi Terbarukan” yang diberi nama Lentera Angin Nusantara (LAN) di desa Ciheras, Kec. Cipatujah, Tasikmalaya. Dari kabar yang kudengar, LAN tidak pernah sepi oleh kunjungan anak- anak muda yang ingin belajar mengenai motor. Ricky juga sering diminta untuk memberikan kuliah khusus di kampus atau ceramah ke sana ke mari. Tetapi rasanya sayang sekali kalau Ricky hanya bisa cerita “kehebatan masa lalu”. Karena rasa penasaran dan keinginan untuk membantu agar ide-ide briliannya bisa melangkah ke tahap berikutnya sampai ke produksi massal, aku berkunjung ke sana bersama Dr. Candra Dermawan, kebetulan dia juga kenal Ricky waktu masih di Jepang. 161

12. Kami berangkat dari Bekasi tengah malam dengan harapan bisa sampai di tempat Ricky pagi hari. Kamis malam, jalanan ke arah pantai selatan itu tidak terlalu macet. Jumat pagi sekitar jam 06.00 aku sudah sampai. Dan tidak sulit menemukan LAN di desa Ciheras. Selain kami sudah mendapat petunjuk via SMS, kami juga bisa bertanya ke orang-orang di perjalanan. Pagi itu aku ketemu kembali dengan Ricky setelah pertemuan lebih dari 3 tahun yang lalu di kantor pusat Nidec. Dia menjelaskan mengenai motor untuk kincir angin 500W dari Nidec yang diklaim sebagai yang teringan dan terbagus di kelasnya. Bicaranya meluap-luap pada saat bercerita tentang masa lalunya di Nidec dan juga impiannya ke depan untuk menghasilkan energi alternatif. Tetapi ketika ditanya bagaimana tahapan demi tahapan untuk memproduksinya di Indonesia? Terlihat sekali dia kesulitan menjawab. “Kedatangan kami ke sini sebenarnya ingin membantumu. Feeling -ku kamu tidak bisa sendiri. Kamu memang tahu banyak mengenai motor listrik, tetapi kalau sudah bicara bagaimana untuk membikin komponen ini dan komponen itu, kamu perlu banyak project manager dan process engineer . Tanpa itu mustahil kamu bisa memproduksi motor yang kamu impikan di Indonesia,” begitu aku memulai diskusi. “Mungkin masalah ini malah lebih besar daripada regulasi dan pencarian modal. Saya rasa bukan tidak ada dukungan pemerintah, tetapi kita kekurangan orang- orang yang bisa mendukung pembuatannya. Kita harus proaktif untuk mencarinya, bahkan membinanya. Aku mulai mengajar di ITB salah satunya juga untuk itu. Aku yakin mereka akan mendukung.” Setelah berdiskusi panjang lebar, Ricky akhirnya berkata ingin bisa bekerja sama dengan banyak pihak yang lebih baik. Semoga Ricky segera menemukan mitra- mitra yang bisa mendukung pembuatan komponen-komponen motor untuk mewujudkan gagasan-gagasannya. [] 162

17. di salah satu universitas negeri di Jakarta. Maka, kalau dia masih mau menerima kami untuk makan bersama-sama sambil ngobrol, itu termasuk kesempatan langka. Terus berkarya Dr. Warsito! Keep fighting and smile, mudah-mudahan beberapa tahun mendatang akan ada panggilan untuk menerima hadiah nobel! [] “Dr. Suyoto bukan hanya seorang praktisi dan pimpinan industri manufaktur di Indonesia, tetapi juga seorang akademisi yang telah dibuktikan dengan membagi keterampilan dan pengalamannya di institusi kami. Dengan membaca buku ini, kita akan tahu tahap demi tahap perjuangannya yang tidak mudah dan keinginannya untuk terus berkontribusi buat Tanah Air Tercinta.” Prof. Dr. Yatna Yuwana Martawirya Dekan Fakultas Mesin dan Dirgantara ITB Bandung “Apapun alasan Pak Suyoto keluar dari SEWI (PT Sumitomo Electric Wintec Indonesia), bagi para mantan anak buahnya tetap menjadi atasan yang diidolakan dan panutan. Saya selalu merindukan kehangatan dibalik ketegasan saat-saat bekerja sama dengannya dulu. Satu lagi yang selalu Saya ingat adalah sebuah pelajaran hidup bagaimana beliau sangat mencintai tanah airnya walaupun sudah merasakan hujan emas di negeri orang. Hal itu tersirat juga di buku ini.” Abu Yazid Busthomi Mantan anak buah di SEWI. Sekarang menjadi manajer di Hitachi Group “Dia adalah Genba Leader yang tegas dan sangat perhatian terhadap anak buah. Kadang berada di kantor, kadang seharian pindah ke tengah-tengah operator di lini produksi dan membawa notebook -nya. Sosok yang membuat kami tenang bekerja dan sering merindukan setelah kepergiannya. Beliau bukan hanya leader tetapi bisa menjadi rekan diskusi yang memberi banyak masukan. Terus terang, saya pindah dari SEWI, lalu ke FACO dan masuk ke Ichikoh, salah satunya karena mengikuti jejak beliau dan ingin bekerja bersamanya terus. Sayangnya kemudian saya pun harus berpisah kantor kembali dengannya. Saya akan menikmati kisahnya di buku ini.” Putut Handonowarih Mantan anak buah yang sekarang menjadi manajer di Ichikoh Indonesia 167

27. Bagi Anda yang ingin bergabung atau hanya sekadar melihat update informasi di Formasi-G, bisa akses ke www.formasi-g.ne t atau klik akun Facebook Formasi-G. Aku masih punya harapan, suatu saat akan tumbuh “Industri Rakyat” di seluruh wilayah nusantara yang membawa kesejahteraan kepada seluruh masyarakat Indonesia di masing-masing daerah. Dan industri ini pelan tapi pasti akan memiliki daya saing di kancah global. Untuk itu kita memerlukan banyak inovator, banyak process engineers dan juga manajer-manajer yang tahu persis tahapan demi tahapan yang harus dilalui. Juga orang-orang yang mampu berpikir dengan logis dan seobjektif mungkin untuk menganalisis permasalahan dan mencari solusi terbaiknya. Aku selalu membayangkan, setiap pulang kampung. Alangkah nyamannya kalau kita bisa melakukan perjalanan darat tanpa macet. Di situ ada kereta dua rel yang menghubungkan semua kecamatan atau desa di seluruh Indonesia. Ada juga tol pinggir pantai yang di beberapa tempat dilengkapi dengan peristirahatan untuk mencicipi kuliner khas daerah dan keindahan pemandangan masing-masing. Kita punya sumber alam melimpah dan sumber daya manusia cukup, salahkah kalau aku punya impian ini? Terima kasih untuk para pembaca yang telah berkenan membaca buku ini! [] “Pertama kali bertemu Pak Suyoto, saya langsung putuskan untuk mengajak beliau bergabung ke perusahaan kami. Saya melihat semangat dan kesunguhannya. Hanya tiga bulan memang dia bergabung dan membimbing kami, tetapi waktu itu akan menjadi kenangan termanis kami semua.” Kiki Munarky Pemilik dan presiden direktur PT FACO Global Engineering “Haji Suyoto Rais yang dikenali seorang yang berprinsip, berwawasan,berfikiran jauh dan konsisten dalam segala bidang yang diceburinya. Perjalanan dan pengalaman sepanjang di Jepun sangat berharga untuk membangun bangsa indonesia yang cemerlang dan gemilang pada masa masa hadapan. Saya bernasib baik bisa ke Tanah Suci bersamanya.” Dr. Nik Mohd Izual Nik Ibrahim Kawan haji dari Malaysia yang menjadi Doctoral Researcher Kyushu University, Japan 177

13. Ikut Memikirkan “ Link and Match ” Kembali “Kita harus selalu berpikir siapa dan bagaimana pengguna di tahap berikutnya.” (Suyoto Rais) Awalnya ada email dari Dr. Kojima, mantan atasan di Denso, yang bilang ingin ke Indonesia dengan tim Jepang yang ingin membantu pendidikan manufaktur di sini. Sebenarnya dia sudah sering mengirim email dan juga sesekali menelepon. Tetapi kali ini emailnya agar serius. Dia bercerita kalau dia sudah memasuki masa pensiun di Denso, tetapi tenaganya masih diperlukan sebagai expert manufacturing system seluruh grup Denso. Dia juga menjadi profesor tamu di Waseda University, salah satu universitas swasta terbaik di Tokyo. Dia juga ingin sisa-sisa hidupnya bisa berguna untuk pendidikan manufaktur atau istilahnya monozukuri di Indonesia. Di dalam email kali ini, dia ingin bertemu aku, dan kalau bisa bersama beberapa alumni Jepang yang bekerja di industri manufaktur, khususnya perusahaan Jepang. Ini tidak sulit kulakukan. Maka pada saat hari yang diminta, aku mengundang teman- teman alumni Jepang. Kami bertemu di sebuah hotel di Bekasi pada pertengahan bulan Februari 2015, berdiskusi sambil makan malam bersama. Ada sebelas orang dari Indonesia dan enam orang dari Jepang yang dikoordinir Kojima San. Saat itu Kojima San menjelaskan maksud kedatangannya kali ini, yaitu ingin mengajak kami bersama-sama memikirkan untuk mendukung perbaikan pendidikan monozukuri di Indonesia. Dia sering mendengar keluhan dari para ekspatriat Jepang yang bekerja di Indonesia. Mereka sangat kekurangan tenaga manajemen menengah yang bisa menerjemahkan sikap dan pemikiran manajemen atas hingga sampai ke lini produksi. Ini pula yang menyebabkan beberapa lembaga penyalur tenaga kerja “meraih keuntungan” karena banyaknya perpindahan orang. Dan bagi kebanyakan perusahaan Jepang, tentu itu bukan hal yang diinginkan. Selain itu, ada data-data yang mengatakan kalau lulusan teknik di negeri ini tidak suka bekerja di industri manufaktur. Lebih memilih ke tambang, minyak, bank, konsultan IT dan bidang jasa lainnya. Sementara pemerintah Indonesia sering 163

4. Jepang dan juga KBRI, KJRI dan instansi Indonesia di sana. Kami bahu-membahu menunjukkan kepada khalayak Jepang bahwa Indonesia akan tetap eksis selamanya. Kami adalah insan-insan Indonesia yang akan menjadi tulang punggung nantinya. Demikian antara lain niat di dalamnya. Dari serangkaian aktvitas di Osaka, Kyoto, Kobe dan Okayama ini ada beberapa juta yen yang bisa dikumpulkan dan dikirimkan ke Indonesia sebagai beasiswa mahasiswa yang terancam berhenti kuliah karena krisis ini. Tempat berganti, waktu pun berganti. Dari Osaka aku pindah ke Nagoya. Kali ini waktuku tidak sebebas pada saat menjadi mahasiswa. Aku terikat kontrak dengan perusahaan dan harus bisa berperan sebagai seorang profesional. Di Nagoya dan sekitarnya ini ternyata banyak sekali WNI over stay bekerja di perusahaan kecil menengah yang kondisinya kadang memprihatinkan. Ada kecelakaan kerja, kesejahteraan tidak diperhatikan, kadang juga tidak dibayar sesuai perjanjian. Selain itu, di antara para WNI sendiri kadang terjadi persaingan tidak sehat yag mengakibatkan pertengkaran mulut dan fisik, hingga pernah beberapa kali sampai mendatangkan pihak keamanan setempat. Ada juga WNI yang meninggal tanpa ada keluarga dan pihak yang bertanggung-jawab untuk menanganinya. Kalau sudah demikian, umumnya aku merasa harus turut membantu. Termasuk membentuk organisasi sosial dan keagamaan, untuk membuat para WNI lebih memahami pentingnya menjaga kebersamaan. IKMI Mikawa (Ikatan Keluarga Muslim Indonesia) dan FORMASI-J (Forum Persahabatan Masyarakat Indonesia-Jepang) aku dirikan bersama teman-teman di sana. Yang pertama masih eksis sampai sekarang, yang kedua bubar bersamaan dengan kepulanganku ke Indonesia. Dengan ormas-ormas tersebut, pada saat terjadi gempa hebat di Aceh, kami menyelenggarakan kegiatan “ Save Aceh ” dengan mengumpulkan dana dan konser amal. Pada saat ada gempa di Yogya, kami mengadakan “ Save Yogya ”. Atau pada saat tidak terjadi apa-apa pun, kami mengadakan promosi Indonesia dengan menggelar “ Panorama Indonesia ”, atau dalam skala lebih kecil memasak bersama, lomba karaoke, olahraga bersama, dan lain-lain. Itu semua dengan niat turut berkontribusi untuk negeri meskipun berada di rantau. [] 154

7. Diskusi Mobnas dengan Pak Dahlan Iskan “Berbincang dengan orang berilmu, adalah kebahagiaan yang tak tergantikan.” (Suyoto Rais) Pada saat molinas sedang banyak diberitakan dulu, aku diberi kesempatan untuk menghadap Pak Dahlan Iskan (DI). Saat itu diantar Profesor Dr. Suhono H. Supangkat, senior di Jepang yang menjadi guru besar di ITB. Pertemuan terjadi di akhir Desember 2012. Aku datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Ini adalah pengalaman pertama kali datang ke gedung BUMN di dekat Monas. Banyak tamu dan karyawan berbaju putih dan mulai dari resepsionis tidak kaku sebagaimana kantor pemerintah yang kubayangkan. Pada jam yang diminta, aku dipanggil masuk ke ruang kerja Pak Dahlan Iskan di lantai atas Gedung BUMN di sebelah Monas. Ruang kerja yang sangat sederhana untuk ukuran seorang menteri BUMN. Di dalamnya sudah menunggu Pak Dasep Ahmadi, perakit prototype molinas, dan beberapa staf khusus Pak Dahlan. “Sebelum di kantor sekarang, saya dulu bekerja sekantor dengan Ricky Elson. Bedanya dia bekerja sebagai staf engineer di lab motor Nidec, sementara saya di manajerial kantor pusat dan ditugaskan sebagai direktur produksi di Cina,” demikian saya mengawali perkenalan saya. Tak lupa aku juga tanya kabar Ricky Elson, “putra petir” besutan DI. Saat presentasi, aku mencoba menjelaskan bahwa yang paling sulit untuk mengembangkan mobil nasional bukanlah perihal membuat prototype dan perakitannya. Tetapi, bagaimana membuat model bisnis yang tepat agar mobil nasional bisa laku di pasaran dan didukung oleh para pemasok komponen. Sekitar 70% nilai tambah mobil ada di komponennya. Untuk itu seluruh insan pengembangan mobil nasional di tanah air harus bersatu padu dan dikoordinir dalam satu konsorsium yang didukung semua pihak. Tanpa itu mobnas hanya akan berhenti sampai prototipe. Pengembangan mobil nasional juga harus bertujuan yang jelas, yaitu menambah lapangan kerja dan mengembangkan daya saing 157

3. “Untukmu Indonesiaku” dari Jepang “Cinta tanah air tak akan pernah punah oleh waktu dan tempat.” (Suyoto Rais) Ketika Indonesia di tahun 1998 mengalami krisis multidimensional hebat yang mengakibatkan kepercayaan dunia hancur, aku mengajak teman-teman mahasiswa di Osaka dan sekitarnya untuk menggalakkan aktivitas “ Love Indonesia ” atau disingkat LOVIN. Tahun 1998 benar-benar adalah masa-masa sangat sulit bagi negara kita. Indonesia yang sampai tahun 1997 mengalami kemajuan pesat dan diramalkan akan segera mengejar NIES, ternyata fondasi ekonomi dan sosialnya rapuh. Nilai mata uang Rupiah anjlok, dari sekitar Rp2.500 per dolar menjadi Rp13.000 per dolar ketika itu. Para investor asing pun, banyak yang menarik dananya atau tidak jadi menanam modal ke Indonesia. Wisatawan asing menurun drastis karena kondisi keamanan tidak terjamin. Banyak negara asing, termasuk Jepang yang jelas-jelas menghimbau agar tidak ke Indonesia jika tidak karena terpaksa. Indonesia mengalami krisis kepercayaan internasional. Kondisi-kondisi ini begitu membuat pilu semua insan Indonesia, tak terkecuali kami yang di Jepang. Hal tersebut semakin membuat kita merasa underdog di sana. Padahal dalam kondisi normal sebelumnya pun, hanya sedikit publik Jepang yang mau menganggap WNI sebagai manusia sederajat dengan mereka. Karena itu kami merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. “Kita harus bisa menunjukkan ke saudara-saudara kita di tanah air, bahwa seluruh insan Indonesia di seluruh dunia ikut prihatin dan berusaha memberikan uluran tangan bersama-sama untuk agar segera bisa lepas dari krisis ini”, demikian yang selalu kukatakan ke teman-teman saat itu. Kemudian lahirlah kegiatan LOVIN di Osaka dan meluas di wilayah sekitarnya. Mulai dari promosi Indonesia di berbagai kesempatan dan terakhir mengadakan konser amal untuk menyambung masa depan dan persahabatan “ Love Indonesia ”. Gerakan ini mendapat banyak simpatik dari sahabat-sahabat Jepang, para WNI di 153

21. Tanggung Jawabku ke BPPT Sudah Selesai? “Tanggung jawab adalah janji yang harus ditepati.” (Suyoto Rais) Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan karena aku tidak kembali ke BPPT setelah lulus S3. Ketika awal tahun 2015 profilku dimuat di Detik dengan judul “Resign dari PNS, peneliti ini sukses di Perusahaan Jepang”, ada tanggapan yang pro dan kontra. Begitu juga setelah aku dimuat di Figur Halo Jepang edisi Februari 2015 dengan judul “Menyerap di Jepang, Menerapkan di Indonesia”, setelahnya juga ada tanggapan serupa. Sejak aku memutuskan untuk tidak pulang ke BPPT, dan terlihat sedikit nongol, selalu saja ada hal serupa. Di milis alumni, di pertemuan darat, dan di forum-forum lainnya, hal ini sering menjadi perbincangan hangat yang tidak pernah ada jawaban pastinya. Terakhir yang menanyakannya adalah Dr. Unggul Priyanto, Kepala BPPT, pada waktu kumintai testimoni beberapa waktu lalu. Beliau orang yang tegas dan juga tidak ingin memberikan testimoni sembarangan, meskipun sama-sama alumni Jepang. “Saya sangat bangga dan appreciate atas apa yang anda capai, tapi kalau boleh ada yang ingin saya klarifikasi. Apakah ketika Pak Suyoto tidak kembali ke Indonesia sudah menyampaikan ke BPPT dan menyelesaikan semua kewajiban sesuai aturan yang berlaku? Itu saja yang ingin saya tanyakan karena ini menyangkut aturan dan dalam posisi saya harus menanyakan.” Demikian tanyanya melalui inbox di FB setelah aku mengirimkan permohonan testimoni dan draft buku via email. Aku menjawabnya sebagai berikut: “Makasih untuk responnya Pak. Jujur saja belum saya selesaikan penuh. Justru karena itu saya ingin mendengar dari Bapak langsung. Bagaimana pun BPPT adalah instansi impian saya sejak kecil. Kebanggaan saya, bahkan sampai saat ini. Karena itu kalau saya sudah siap merilis buku saya tidak ingin menyembunyikan yang satu ini. Mohon petunjuknya, ya Pak. 171

24. yang bisa memahami dan mengikutinya. Kita tetap kekurangan orang-orang yang bisa mempromosikan nilai tambah di semua aspek kehidupan. Juga link and match dengan para pengguna berikutnya.” Tidak hanya kata-kata bijak saja yang kudengar. Beliau juga sering memberikan data-data konkret yang menandakan kalau beliau memang seorang birokrat dan sekaligus teknokrat yang selalu bicara dengan data. Sampai sekarang pun masih tajam ingatannya. Hampir tiga jam kami ngobrol sambil makan siang. Dan menjelang akhir, beliau secara khusus memberikan masukan untuk bukuku. “Suyoto, kamu harus lebih hati-hati di dalam memilih kata-kata kalau itu menyangkut orang lain, instansi atau publik. Meskipun kenyataannya memang begitu, pemakaian kata-kata yang lembut bisa menghindari kesalahpahaman dan juga membuat orang lain tidak tersinggung. Contohnya alasanmu tidak kembali ke BPPT di halaman ini.” Di luar dugaan, ternyata beliau telah membaca hal-hal penting di bukuku. Waduh! “Hindari juga kebanggaan yang berlebihan, keinginanmu untuk menonjolkan kepinteranmu, lebih-lebih sampai merendahkan orang lain. Kamu telah membuktikan diri jadi alumni Jepang yang sukses dan bisa mengalahkan orang Jepang. Tidak perlu ditambah dengan paparan mengenai kehebatanmu lagi. Kita harus selalu andap asor dan ojo dumeh .” Wah! Kena juga deh... nasihatnya mengena sekali, batinku. “Aku juga sudah menelepon ke Unggul. Awalnya dia kaget dan tidak menyangka ditelpon mantan atasan dan mantan menteri hahaha... Dan lebih kaget lagi saat kutanya mengenai Suyoto. Dia bilang kalau kamu memang sudah tidak di BPPT. Tetapi katanya, masih lebih baik mau kembali ke Indonesia.” Benar-benar tidak kusangka. Beliau ternyata orang yang sangat perhatian dan selalu konfirmasi untuk hal-hal yang dianggap penting. Untung sebelumnya sudah ada testimoni dari Pak Unggul Priyanto, Kepala BPPT. “Jangan lupa juga memperbanyak rasa syukur, dan jangan hanya kamu tulis di pembuka dan penutup buku. Ini juga agar kamu selalu terbiasa humble . Nanti aku akan meminta Pak Makka untuk membaca draft bukumu semua. Dan setelah itu memberikan tanggapan. Semoga sukses.” Terima kasih “Sesepuh Negeri”. Beberapa hari setelah itu testimoni dari beliau kuterima. Alhamdulillah ! [] 174

15. Bertemu “Calon Penerima Nobel”, Dr. Warsito P. Taruno di Tangerang “Regulasi kadang bisa jadi penghambat kreativitas.” (Suyoto Rais) Lagi-lagi difasilitasi Dr. Candra Dermawan, mantan ketua umum PPI Jepang yang banyak network -nya. Sebab dia orangnya supel, mudah bergaul dengan siapa saja. Dan tahukah, akhirnya aku pun bisa bertemu dengan seseorang yang juga sedang menjadi hero di Indonesia. Namanya Dr. Warsito P. Taruno. Anda mungkin pernah dengar nama itu, karena beberapa kali pernah diundang sebagai guest di acara talk show beberapa TV swasta. Kiprahnya, sering menjadi bahan berita segar di media massa maupun medsos. Ya, dialah penemu alat pembasmi sel kanker yang temuannya diakui dunia. Namun, sayangnya di negeri sendiri kurang diakui dan didukung. Kami pun berkenalan dan segera bisa terlibat diskusi akrab. Usut punya usut, ternyata dia mantan penerima beasiswa Habibie juga. Orangnya fokus hanya di bidang yang ditekuni dan pada akhirnya berhasil menyabet berbagai penghargaan ilmiah di tingkat nasional maupun internasional untuk hasil penelitiannya. Awalnya dia belajar kimia hingga S2, dan S3-nya elektro. Lalu, pada saat dikontrak penelitian di Jepang dan Amerika, dia belajar fisika terapan pula. Tiga bidang berbeda inilah yang membuatnya bisa menemukan “jaket sakti pembasmi sel kanker” yang pertama kali diujicobakan pada kakaknya pada tahun 2011 yang lalu. Saat itu kakaknya mengidap kanker stadium 4 dan divonis dokter bahwa nyawanya tinggal 2 tahun lagi. Tidak ada alat medis dan obat yang bisa menyembuhkannya. Maka pilihannya hanya dua, menunggu kematian atau menjadi “kelinci percobaan” Dr. Warsito dan akhirnya mereka memilih yang kedua. Dr. Warsito membuatkan jaket yang bisa dipakai dan memancarkan radiasi gelombang pendek yang pernah dipakai NASA untuk mengidentifikasi obyek-obyek di luar pesawat ulang-alik luar angkasa. Konon, kalau gelombang ini mengenai sel 165

18. Kawanku Prof. Dr. Achmad Subagio, “ Superhero ” dari Jember “Peneliti perlu peduli kebutuhan masyarakat di sekelilingnya.” ( Suyoto Rais) Kawan yang satu ini termasuk multi talenta. Dosen, ilmuwan, inovator dan sekaligus pengusaha. Dialah Prof. Dr. Achmad Subagio, guru besar dari Universitas Jember yang namanya melejit setelah menemukan tepung singkong yang diberi nama MOCAF ( MOdified CAsava Flour ). Konon, tepung ini dapat digunakan sebagai bahan baku dari berbagai jenis makanan, mulai dari mi, bakery , cookies hingga makanan semi basah, karena mempunyai spektrum aplikasi yang mirip dengan tepung terigu dan tepung lainnya. Pada tahun 2012, beliau dikukuhkan menjadi guru besar di Universitas Jember dengan pidato ilmiah berjudul Nasionalisme Pangan untuk Kedaulatan dan Kesejahteraan Indonesia . Aku bertemu pertama kali dengannya pada saat masuk ke Osaka Prefecture University di tahun 1995. Kebetulan kami satu kampus, meskipun beda jurusan. Kami sering bersama di kampus, maupun ikut kegiatan PPI dan lainnya di luar kampus. Saat itu aku baru saja masuk ke program S3, dan Pak Bagio, demikian kami biasa memanggilnya, masuk ke Program S2 di universitas yang sama. Aku di teknik mesin, dia di fakultas pertanian. Bukan hanya di kampus, pada saat ada kegiatan mahasiswa di luar kampus, PPI misalnya, kami sering datang bersama- sama. Dia termasuk anak muda yang ringan tangan untuk melakukan bakti sosial bersama. Dia juga mahasiswa yang sangat rajin dan disukai pembimbingnya karena selalu memprioritaskan studi dan sangat loyal terhadap penelitiannya. Aktivitasnya di tanah air setelah kembali dari Jepang ternyata luar biasa dan membanggakan. Satu lagi yang membuat langkahnya perlu diapresiasi adalah keberhasilannya meristis bisnis MOCAF dari hulu sampai ke hilir. Dimulai dari produksi skala koperasi di Trenggalek, kini MOCAF telah diproduksi dengan skala industri dan dijual dengan berbagai merek dagang. MOCAF telah menjamur dengan baik di nusantara. Wajar kalau dia mendapatkan banyak penghargaan di tingkat nasional dan internasional atas kerja keras dan dedikasinya itu. Namanya pun mudah sekali 168

23. Nasihat dari “Sesepuh Negeri” yang tak Pernah Kehilangan Semangat “Selamanya aku tidak pernah merasa dewasa di depan orang-orang bijak.” (Suyoto Rais) Usianya sudah lewat 80 tahun. Tetapi bicaranya masih tegas. Dulu beliau dikenal sebagai seorang atasan yang “sering memarahi” anak buahnya agar bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Dan beliau sangat konsisten dengan ucapannya. Nasihatnya perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Tidak salah kalau Presiden Soeharto mengangkatnya menjadi Mendikbud ke-19 RI. Beliau adalah Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, yang juga dipercaya Pak Habibie untuk mengelola beasiswa OFP, STAID, dan STMDP. Publik Indonesia mengenal sosok Pak Wardiman sebagai mendikbud yang berani mencetuskan program wajib belajar 9 tahun dan link and match . Saat bertemu di THC (the Habibie Canter), aku memberikan draft buku ini. Beliau segera membaca bagian-bagian terkait. Sementara aku juga mendapatkan dua buah buku beliau Pak Wardiman yang Saya Kenal dan Link and Match Pendidikan dan Kebudayaan . Setelah beberapa lama, beliau mengajak ke restoran terdekat untuk makan siang. Saat itu ada sahabat sejak di Jepang, Dr. Candra Dermawan, bergabung. Juga Pak Andi Makmur Makka, penulis lebih dari 60 buku yang sekarang sama-sama mengabdi di THC. Di situlah aku baru tahu kehebatan beliau yang tidak pernah pudar oleh waktu. “Kalian, seperti saya juga, dikarunia dua kekayaan oleh Allah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Kecerdasan dan keberuntungan bisa belajar ke luar negeri sampai lulus S3. Sebagai salah satu rasa syukur, kalian harus bisa membaginya kepada mereka yang kurang beruntung, kepada rakyat Indonesia. Semampumu, dan dengan cara yang kamu yakini benar. Mungkin menyumbang materi, mungkin pemikiran atau lainnya. Pokoknya harus selalu berjiwa sosial. Itulah sebenarnya yang diperlukan di negeri ini.” “Kalian juga harus selalu memikirkan nilai tambah baik untuk produk-produk kita maupun untuk manusianya. Pak Habibie sebenarnya telah memulai langkah yang tepat sepanjang masa baktinya dulu. Sayangnya belum banyak birokrat kita 173

8. manusia Indonesia. Tanpa kedua tujuan tersebut, mobil nasional hanya akan berarti sebagai pencitraan dan dinikmati oleh segelintir orang di negeri ini. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung 30 menit tersebut akhirnya menjadi lebih dari 2 jam dan sempat diajak makan siang bersama dengan menu nasi padang yang dipesan dari restoran terdekat. “Melihat perkembangan mobnas di Korea, Cina dan juga Malaysia. Ada kesamaan yang membuat mereka berhasil. Yaitu, ada ada seseorang yang sangat kuat yang berhasil mengerucutkan dukungan politik dan ekonomi untuk bersama-sama membangun mobnas. Dibutuhkan banyak project manager dan process engineer yang tahu tahapan demi tahapan yang harus dilalui untuk mencapai produksi massal. Bersamaan pengembangan mobnas, mereka juga mengembangan industri- industri tier-1 , tier-2 , dan tier berikutnya yang memasok komponen. Jadi sejak masih konsep sudah dipikirkan terbentuknya industri otomotif dari hulu sampai ke hilir. Sudah dipikirkan model bisnisnya yang tepat di masing-masing negara. Mereka juga tidak segan untuk membeli lisensi teknologi di awal berdirinya. Tapi punya target yang jelas untuk melakukan berbagai penelitian dan pengembangan agar bisa mengembangan merek sendiri dengan teknologi sendiri, meskipun belum 100%,” begitu aku menjelaskan. “Kondisi saat ini, di mana pasar sudah dikuasai oleh para pemain kelas kakap dari luar negeri, tidak mungkin kita bisa mengembangkan mobnas sendiri dari awal. Paling-paling hanya sebagai perakit dan jujur saja nilai tambahnya kecil, tidak sampai 30%. Nilai tambah yang terbanyak di otomotif sebenarnya ada di pembikinan komponennya,” Aku menambahkannya sambil memperlihatkan slide terkait. Tampaknya DI tidak terlalu tertarik dengan konsep yang kupresentasikan. Mungkin materinya terlalu umum di mata beliau, mungkin juga cara presentasiku yang kurang menarik. Setelah pertemuan itu, kami tidak saling kontak. Aku juga merasa lebih baik tetap fokus di pekerjaan sekarang, sambil mengamati dari luar sistem, misalnya menulis opini di media massa, melihat-lihat work shop tempat merakit mobnas atau sekadar mendengar kabar di media massa. Perjalanan mobnas di Indonesia nampaknya masih panjang. [] 158

9. Mulai Mengajar di ITB “Ada kalanya, kita membutuhkan keheningan untuk sekedar melakukan refleksi diri.” (Suyoto Rais) Selain tugas utama di perusahaan, aku juga mulai memikirkan kontribusi yang lebih luas ke tanah air tercinta ini. Mulai awal September 2014, aku mengajar Sistem Produksi Lanjut di ITB. Seminggu sekali ke Bandung sebagai bagian dari caraku berbagi keterampilan dan pengalaman di industri manufaktur selama ini. Ada sekitar 20 mahasiswa di jurusan Teknik Mesin yang sangat antusias mengikuti kuliahku setiap Sabtu pagi. Kuliah ini kubuat agak khusus. Para mahasiswa kukelompokkan menjadi 4 tim. Di dalamnya ada mahasiswa S3, S2 dan S1. Masing-masing tim kuminta menentukan produk contoh yang akan dijadikan simulasi pengembangan sistem produksi. Jadi, mereka adalah para desainer sistem produksi atau perencana proses. Masing- masing anggota memiliki tugas untuk mempersiapan dokumen yang digunakan untuk review sistem di setiap tahapan. Pada akhir semester, diharapkan semua tim bisa mempresentasikan hasilnya berupa rencana sistem produksi yang akan dikembangkan untuk produk tersebut. Aku memakai kurikulum dari pendidikan internal perusahaan yang pernah kudapatkan pada waktu memulai karier sebagai process engineer dan project engineer dulu. Aku berharap, dari para mahasiswa ini nantinya akan ada yang mau berkarier juga untuk menjadi pengontrol, project manager , pengembang produk, dan lain-lain terkait dengan industri pemanufaktur yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah, dan selalu memikirkan “ link and match ” dengan para pengguna di proses berikutnya, sampai kepada end user di masyarakat umum. Sesekali aku juga memberikan gambaran umum mengenai perbedaan industri manufaktur di Jepang dan Indonesia, dan juga beberapa negara yang pernah kualami. “Perbedaan utama industri manufaktur di Jepang dan di Indonesia, menurut saya adalah kedekatan antara white collar dan blue collar . Staf di kantor, desainer atau person lainnya dilatih di lini produksi terlebih dulu sebelum bekerja di tempat 159

25. Penutup dan Keinginan untuk Terus Berkontribusi “Sebaik-baiknya orang adalah yang memiliki tangan di atas.” (Suyoto Rais) Selama ini rasanya tak terhitung kebajikan yang kuterima sampai bisa mengantarku seperti sekarang, dan mungkin ini saat yang tepat untuk membalas semua kebajikan itu. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Aku bukan Ricky Elson yang bisa membuat dan mengajari motor listrik, atau Dr. Warsito yang mampu membikin jaket pembasmi kanker. Juga bukan Prof. Subagio yang bisa memberi manfaat masyarakat luas lewat tepung singkong MOCAF. Keahlianku mungkin “hanya” sebagai manajer untuk mengoordinir orang- orang di dalam suatu organisasi agar bisa bekerja sebaik-baiknya menuju ke satu tujuan bersama. Agar semua aset perusahaan bisa dimanfaatkan dengan seefisien mungkin untuk menekan biaya internal dan juga meningkatkan omzet penjualan. Ada 10 core skills yang kudapat selama merantau ke Jepang, Eropa, Cina, Thailand, dan Indonesia selama ini, yaitu sebagai berikut. (1) Plant control / company management , (2) Project management to develop new product and / or special events , (3) Improvement of SQCD ( safety , quality , cost , delivery ), (4) Process planning ( planning / design / preparation /SOP/ improvement of production lines ), (5) System developing ( include programming and collaborated with vendors etc .), (6) Research , analysis and observation works ( include reporting and documentations ), (7) Build and activate organization ( include setting / control job descriptions ), (8) Foreign language skill ( Japanese , English ), (9) Global mind and working experiences in overseas , (10) Coaching / training to skill - up employee , students, and communities . 175

Views

  • 93 Total Views
  • 74 Website Views
  • 19 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 2

  • 2 ijb-net.balaikota.info
  • 1 ijb-net.org