Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 5] p107-150

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

22. pihak luar. Akan ada tambahan lini produksi dan tambahan produk baru, perlu tambahan staf dan karyawan. Sampai akhir tahun depan, divisi otomotif akan menjadi divisi yang paling untung dan paling tinggi omzetnya di Dalian. Sebuah tawaran yang cukup menarik. Sementara itu, aku mendengar selentingan kabar dari pusat, bahwa proyek di India akan segera dimulai, setelahnya Myanmar dan Vietnam. Indonesia tidak disebutkan. Bahkan salah satu kantor Nidec di Batam juga ditutup dan produknya digabung ke Thailand. Tinggal beberapa anak perusahaan Nidec dan ini kabar yang kurang menggembirakanku. Banyak pertimbangan untuk menambah investasi atau tidak ke Indonesia tentunya. Mungkin juga situasi saat itu yang kurang mendukung, sering demo para buruh menuntut kenaikan gaji, jarak besar antara iklim investasi yang digemborkan para pejabat di atas serta kenyataan di lapangan, dan lain-lainnya. Aku hanya sedih kepulanganku ke Indonesia semakin tertunda. Keinginan untuk berkontribusi ke Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja baru juga semakin sulit. Sementara keluarga setiap saat selalu bilang ingin aku pulang secepatnya dan tidak peduli aku punya uang banyak atau tidak. Kalau ada sedikit harapan, Nidec kabarnya bisa mendapatkan dana hibah dari pemerintah Jepang untuk penelitian pengembangan energi terbarukan dan akan dilakukan di Indonesia. Nidec tetap akan membangun pusat uji coba kincir angin 500 W di Indonesia sambil mencari pasar dan model bisnis yang tepat. Kemungkinan Ricky Elson akan ditugaskan untuk uji coba dan investigasi tersebut. Tetapi tidak ada kejelasan kapan pabrik di Indonesia akan dibangun dan apa yang dijadikan kriteria penentuannya. Selama di Cina, aku tetap dilibatkan oleh orang-orang atas di Nidec untuk berbagi informasi mengenai pengembangan motor-motor energi terbarukan dan untuk mobil listrik. Saat itu, Nidec sudah berhasil membuat produk kincir angin 500 W yang diklaim terbaik dan teringan di kelasnya. Contoh produknya dipasang di atas gedung Shiga Technical Center dan bisa dilihat setiap hari oleh para karyawan Nidec. Katanya, Nidec juga sedang mencari tempat lain untuk uji coba dan sekaligus mulai mencari strategi pemasarannya. Salah satunya adalah pulau-pulau terpencil dan desa-desa di Indonesia yang belum terjangkau oleh listrik PLN. Aku mulai membantu mencari informasi dengan bertanya teman-teman di PLN. [] 128

34. masuk ke dalam masjid. Selanjutnya tidak bisa maju dan tidak bisa mundur sesuai keinginan. Aku hanya bisa ikut arus saja. Sampai terdengar suara adzan Ashar dan orang-orang segera berhenti membentuk barisan untuk salat. Beberapa kali aku berpindah ke sana ke mari mencari celah kosong. Sampai akhirnya menemukan celah sedikit pada saat imam sudah mengumandangkan takbirotul ihram imam. Aku baru sadar setelah selesai salat. Ternyata ini adalah taman Roudloh yang diperebutkan ribuan orang setiap saatnya! Dan setelah salat selesai hanya diberi waktu berdoa kurang dari 1 menit, para petugas sudah mengusir semua orang yang ada di dalamnya. Aku kembali terombang-ambing menuju pintu keluar Roudloh. Tapi pada waktu hendak keluar, tiba-tiba petugas memintaku duduk. Disuruh mengaji. Kulihat orang-orang di kanan-kiriku juga memegang Alquran untuk mengaji. Ternyata itu adalah waktu mengaji dan semua orang yang duduk diberi Alquran adalah orang-orang khusus yang diperbolehkan duduk sampai waktu salat Maghrib. Aku pun membuka Alquran kecilku yang selalu kubawa kemana-mana. Dan ikut membaca beberapa surat bersama-sama. Tidak ada seorang pun wajah Indonesia dan wajah yang kukenal. Saat itu aku duduk persis di antara mimbar Nabi dan makam beliau. Di belakang tempat imam kecil yang sudah tidak digunakan mengimami lagi. Konon, ini lah pusat Taman Surga yang diperebutkan semua pengunjung Masjid Nabawi. Atas panggilan dan izin Nya, aku bisa duduk membaca Alquran dan berdoa sepuas hati selama lebih dari 3 jam! Setelah salat Maghrib pun petugas masih memberiku kesempatan berdoa cukup lama dan tidak mengusirku. Aku akhirnya keluar sendiri memberi kesempatan jamaah yang sudah antri di belakang pagar. “Terima kasih Ya Allah. Engkau yang memanggilku kemari. Engkau pula yang membawa ke salah satu tempat yang dicintai Rasulku dan paling dekat dengan- Mu... “ Hari-hari berikutnya aku juga mencoba lewat di pintu yang sama. Tetapi pintu Abu Bakar Assidiq nomor 2 yang berada di tengah itu selalu tertutup siang dan malam. Aku tidak pernah menemukan jawaban, kenapa saat itu saja terbuka dan ada seseorang yang mendorongku masuk ke Taman Surga. Dari Madinah, kami menuju Mekah untuk mengikuti prosesi haji sampai selesai. Sepulang dari haji, ternyata sudah ada dua panggilan wawancara di Tokyo. Salah satunya adalah pekerjaan untuk membangun dan memimpin pabrik baru di Indonesia, yaitu Ohkuma. [] 140

6. “Kata orang yang bijak, hubungan baik kedua negara itu sebenarnya ditentukan seberapa banyak masyarakatnya yang menjalin hubungan baik secara pribadi. Dan ini kubuktikan juga sangat bermanfaat pada saat anak-anakkku membutuhkannya.” Aku tetap bersyukur dengan keputusanku mengajak keluarga ke Jepang. Ada satu harapan lagi setelahnya, aku tidak boleh menyerah dengan keadaan. Aku harus bisa bekerja lagi di Jepang untuk memulihkan kepercayaan diri dan juga menafkahi anak istri. Aku punya semangat baru lagi. Aku mulai menyebar profil lagi di internet dan mengirimkan ke beberapa agen pencari kerja, baik di Indonesia maupun di Jepang. Di Indonesia rasanya lebih dari 30 lamaran kukirim via internet, tetapi hasilnya nihil. Hanya dipanggil sekali, tetapi pada saat pewawancara tahu kalau aku pernah di-PHK, ia langsung mundur. Begitu juga agen Jepang. Meskipun awalnya banyak yang kontak dan tertarik profilku, tetapi pada saat aku bercerita alasan berhenti dari SEI, setelah itu tidak ada kontak lagi dari mereka. Aku mulai kehilangan harapan dan rasa percaya diri. Juga mulai meragukan bentuk kasih sayang Tuhan yang tidak mudah diterima seperti ini! Akhir hari-hariku di Sumitomo group membawa keputusasaan yang luar biasa. Akankah hubunganku dengan Jepang yang sudah kurakit lama dengan susah-payah juga berakhir di sini? [] 112

4. sekali (sekarang lima tahun sekali). Hak ini juga dihapus mendadak. Anak buahku yang kupamiti banyak yang menangis. Begitu juga sopir yang mengantarku pulang ke rumah untuk terakhir kalinya. Saat itu rasanya aku seperti kehilangan pijakan. Ada pikiran untuk segera mengakhiri hidup. Tetapi istri dan anak-anakku hanya memiliki aku sebagai gantungan hidupnya. Aku akhirnya pasrah. Istriku juga demikian dan malah jauh lebih tegar. Mengenai PHK ini, aku tidak menjelaskan ke anak-anak. Kami tidak mau kesulitan rumah tangga diketahui mereka dan ikut menjadi beban pikirannya. Anak- anak juga sudah tahu kalau akhir Januari akan ke Jepang. Mereka sudah kontak teman-temannya di Jepang dan menunggu saat itu dengan penuh kegembiraan. Kepada mereka aku hanya bilang kalau mulai besok akan cuti agak lama untuk mengistirahatkan diri. Selama itu, aku akan mengantar-jemput ke sekolah mereka dan menyopir sendiri. Anak-anak terlihat senang akan memiliki waktu lebih banyak bersamaku. Mudah-mudahan mereka tidak sampai tahu gejolak di hati ini, begitu juga harapanku saat itu. [] “Adalah kenyataan bahwa Dr. Suyoto seorang WNI yang karena kemampuannya bisa direkrut oleh Denso Corporation Japan dan bekerja di head office . Sesuatu hal yang tidak mudah bagi orang Jepang sekalipun. Bukan karena faktor keberuntungan, tetapi dia memang layak mendapatkan semua itu karena prestasinya yang tinggi. Sayangnya, karena pertimbangan tertentu dia tidak tertarik untuk bergabung dengan PT Denso Indonesia dan memilih untuk berkarier di tempat lain sekembalinya ke Indonesia. Kami masih sering kontak sampai sekarang dan berharap dia bisa semakin sukses pada masa mendatang. Buku ini bercerita tentang perjuangannya yang menginspirasi dan sisi positif lainnya yang pantas untuk diteladani selama di Jepang untuk meraih mimpinya.” Antonius Hartoyo Direktur PT Denso Indonesia 110

1. 5 Titik Balik “Tidak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan demi perubahan.” (Suyoto Rais)

32. sebaiknya tidak usah ragu-ragu untuk pergi. Berbisnis dengan Allah itu pasti untung dunia dan akhirat. Demikian kira-kira jawaban mereka. Istriku juga memberikan jawaban sama. Tentu saja dia tahu kalau untuk itu aku akan kehilangan pekerjaan dan gaji tinggi selama ini. Akhirnya aku memilih mundur dari Ichikoh dan pergi ke Mekah. Seorang direktur dari kantor pusat datang khusus untuk membujukku. Agar aku memikirkan anak-anakku yang masih kecil, agar aku bertahan sebentar lagi. Nanti kalau sudah bertugas kembali ke Indonesia, kesempatan itu pasti ada. Dia juga bilang kalau meskipun aku orang nomor dua di Thailand, tetapi gaji dan tunjanganku lebih tinggi dibanding presdir Jepang sendiri. Itu adalah bentuk apresiasi dan juga harapan ke aku yang sangat tinggi, begitu katanya. Tetapi aku tidak mengubah keputusanku lagi, dan menyodorkan surat pengunduran diri. Saat akan ke Tanah Suci, aku belum punya gambaran kerja apa setelahnya. Jangankan mencari gaji sebesar di Ichikoh, separuhnya saja belum tentu dapat. Aku hanya sempat memperbaiki CV dan mengirimnya ke beberapa agen yang kukenal. Pada saat singgah beberapa hari di Tokyo (rombongan haji yang kuikuti berangkat dari Tokyo), aku masih sempat menemui beberapa agen head hunter di sana dan wawancara ringan, tetapi tidak ada hasil yang berarti. Kegalauanku masih berlanjut sampai akhirnya aku menginjakkan kaki pertama kali di tanah suci pada tanggal 6 Oktober 2013 yang lalu. Rombongan kami terlebih dulu ke Madinah dan berziarah ke masjid Nabawi. [] 138

28. “Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda, di mana semua itu bisa dijembatani melalui komunikasi.” (Suyoto Rais) “Meskipun baru beberapa kali ketemu, tetapi saya segera tahu kalau Mas Suyoto, bukan hanya ramah dan profesional, tetapi juga selalu optimis dan berpikir ke depan. Mas Suyoto tampak selalu peduli terhadap lingkungan dan berusaha ikut memberi kontribusi untuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang maupun bagi bangsa Indonesia. Sebagai sesama alumni Jepang, saya turut bangga  dengan terbitnya buku ini.” Dr. Ir. Muhammad Taufiq, SH., M.Sc. Staf Ahli Menkop dan UKM dan juga senior di Jepang “Kami dari KAJI (Komunitas Alumni Jepang di Indonesia) turut gembira atas terbitnya buku perjalanan hidup Dr. Suyoto. KAJI beranggotaan sekitar 2000 orang yang pernah di Jepang dan/atau memiliki minat untuk meningkatkan persahabatan Indonesia- Jepang (sementara follower di FB ada sekitar 6000 orang). Kami pernah meminta beliau berbagi pengalamannya tinggal di Jepang selama 25 tahun. Audiens sangat antusias mendengarkannya, dan banyak yang menunggu terbitnya buku ini. Buku ini bisa memberikan inspirasi kepada generasi yang akan datang dengan spirit berjuang lebih baik dan pantang menyerah walaupun banyak keterbatasan.” Fuad A. Kadir, MBA, M.Eng Presiden Direktur PT Kayana Indnesia dan Chairman KAJI 134

20. Pabrik Nidec Dalian cukup besar. Memiliki karyawan sekitar 7.000 orang dan dibagi menjadi 3 divisi, yaitu motor elektronik, motor untuk komputer, dan motor untuk otomotif. Divisi otomotif baru dibuka dengan karyawan sekitar 500 orang. Pelanggan utamanya produsen komponen otomotif Tier1 di Cina, ada perusahaan Jepang dan ada juga perusahaan Eropa. Waktu mengawali tugas di Cina, kesulitan pertama adalah meyakinkan para staf lokal kalau aku mampu menjadi pimpinan mereka. Orang-orang Cina memiliki gengsi yang tinggi. Di antara mereka juga ada rivalitas, yang kadang baik dan kadang buruk. Jadi, pada masa awal aku bekerja di sana, wajah-wajah keheranan pun tertuju padaku. Mungkin dalam benak mereka ada pertanyaan, “Siapa orang Indonesia ini dan kenapa tiba-tiba harus menjadi atasan?” Untuk menyelesaikannya, taktikku sederhana saja. Aku lebih berpengalaman di pabrik otomotif, sementara mereka selama ini lebih ke produk elektronik. Aku tahu mana yang baik dan seharusnya diterapkan. Tetapi aku tidak mau otoriter. Aku tanya dulu sebanyak-banyaknya masalah dan keinginan mereka, baru kuikuti dan kutunjukkan pelan-pelan. Prinsipnya aku harus bisa membuktikan kalau keberadaanku akan membuat kerja mereka lebih nyaman dan output- nya lebih baik. Mereka harus bisa merasakan kalau aku bisa bermanfaat buat mereka dan perusahaan. Sekitar tiga bulan setelah itu, anak-anak buahku ternyata cukup penurut dan respek. Aku mulai bisa menikmati kerjaku di Dalian. Pemasangan beberapa lini baru juga berjalan sesuai jadwal. Pelan tapi pasti, divisi otomotif mulai terlihat makin besar. Beberapa tahun ke depan, diprediksi akan menjadi divisi terbesar di Nidec Dahlian. Kami mulai menambah staf dan operator, termasuk memindahkan dari divisi lain. “Raihlah ilmu sebanyak-banyaknya, dari mereka yang kaya-raya pengalaman hidupnya.” (Suyoto Rais) 126

12. “Saya mengenal Mas Suyoto sejak di Jepang. Dia seorang senior di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang. Beliau sering memberikan nasihat dan bantuan kepada para mahasiswa Indonesia saat itu meskipun telah lulus. Jiwa sukarelawan, tulus dan profesional dalam bekerja memang demikian adanya sebagaimana yang tertulis pada buku ini. Buku ini dapat  memberikan inspirasi dan motivasi positif kepada para pembaca bagaimana harus bertahan dalam menjalani hidup di luar maupun di dalam negeri.”   Dr. Candra Dermawan Presiden Direktur PT. Perkasa Mandiri Cemerlang,  Mantan Ketua Umum PPI Jepang. “Saya pertama kali berjumpa dengan Suyoto San di Jakarta pada saat mencari partner bisnis dan perlu konsultasi ke dia. Orangnya ramah, pintar bahasa Jepang dan banyak memberi nasehat ke saya. Setelah beberapa kali pertemuan, setiap ke Jakarta saya jadi sering main ke rumahnya di Bekasi dan makan masakan Indonesia asli bikinan Mbak Tri, istrinya. Beberapa kali saya mengajaknya berbisnis bersama, dan gagal di tengah jalan karena kesalahan saya. Tetapi dia tidak pernah memutus hubungan kami sampai sekarang. Saya senang bisa berteman dengannya.” Takashi Amaki Pengusaha dan sahabat penulis di Mie, Jepang 118

7. Mendapatkan Kembali Harapan yang Hancur “Tidak ada harapan yang hancur selain kepercayaan diri yang hancur sebelumnya.” (Suyoto Rais) Ketika semuanya hilang bukan berarti aku berhenti berjuang. Aku tetap berusaha untuk bisa mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Uang pensiun di Jepang yang telah kubayarkan selama lebih dari 10 tahun, gaji yen di Jepang dan fasilitas dolar di Indonesia. Atau wewenang lainnya sebagai ekspatriat. Kadang aku sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa hanya karena lalai administrasi, aku kena PHK dan harus kehilangan semua? Ini jelas tidak adil! Maka aku tetap berusaha melamar kembali ke Jepang. Aku berjuangan untuk mendapatkan kembali apa yang sudah pernah aku dapatkan. Tidak mudah sama sekali, perjuangan yang teramat sulit sebab cap pernah di-PHK yang telah melekat sangat sulit dihilangkan. Beberapa perusahaan yang kulamar menolak. Bahkan agen yang awalnya memintaku melamar, setelah tahu CV terbaruku buru-buru mundur. Itu realitas yang harus aku hadapi. Kondisi yang sangat tidak mudah. Setiap hari begitu banyak hal dan strategi apa yang harus dilakukan. Harapan merupakan salah satu hal yang aku miliki di saat itu. Dalam kondisi terpuruk, aku tidak pernah kehilangan harapan. Aku masih yakin langit itu terlalu luas untuk semua pemungut rezeki. Aku yakin Allah itu adil pada semua umat-Nya. Aku yakin perjuangan itu akan menghasilkan kebaikan. Aku yakin akan ada orang dan atau perusahaan yang masih memerlukanku. Aku tetap berusaha mengirim lamaran, sambil tetap bekerja di Bogor. Dan kepada Pak Kiki dan Pak Sukma, juga sudah kujelaskan kalau aku hanya akan bertahan beberapa bulan. Aku masih punya harapan untuk bisa ke Jepang dan bekerja di perusahaan Jepang lainnya. 113

31. Antara karier dan Tanah Suci “Berhaji, adalah panggilan nurani.” (Suyoto Rais) Setelah sekitar empat bulan bertugas di Thailand, mulai ada tanda-tanda membaik dan terkontrol. Saat itu bulan puasa mendekati akhir. Ada info dari Jepang kalau masih ada kursi haji 2 orang. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendaftar bersama istri. Kebetulan kami memiliki KTP dan izin tinggal permanen di Jepang. Dengan itu kami bisa mendaftar haji lewat Jepang. Tidak perlu antri sekian tahun. Ongkos juga tidak banyak selisih dengan ongkos ONH di Indonesia dan lebih murah daripada Haji Plus. Jadi untuk standar di Jepang, terbilang bisa dibayar oleh banyak orang. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu rindu suasana keheningan malam seperti di SMA dulu, saat aku tinggal di pondok pesantren pada masa-masa sulit dulu. Ada keinginan yang begitu besar untuk segera menunaikan ibadah haji. Hak cutiku yang nyaris tidak pernah kuambil bisa diakumulasikan dan masih 40 hari. Aku segera mengirimkan permohonan ke kantor pusat. Beberapa hari ada jawaban kalau cutiku tidak bisa diberikan. Sebagai pimpinan aku tidak diperbolehkan lama meninggalkan perusahaan meskipun memiliki hak cuti. Efeknya ke pelanggan dan juga motivasi kerja anak buah. Aku belum menyerah. Aku tetap minta izin cuti, tidak digaji selama cuti tidak apa-apa. Dan ini juga ditolak. Maka pilihan tinggal satu. Tidak jadi pergi haji atau mengundurkan diri dari Ichikoh. Aku mencoba kontak agen haji di Tokyo bagaimana kalau hajiku ditunda tahun depan. Kebetulan aku dan keluarga punya visa permanen di Jepang, jadi bisa mendaftar haji dari Jepang. Prosesnya mudah, biaya lebih murah dan tidak harus mengantri sekian tahun. Jawaban agen tersebut, uang yang sudah disetorkan tidak bisa kembali karena sudah dialokasikan dan sebagian sudah dibayarkan untuk berbagai persiapan. Jadi harus daftar lagi tahun depan dengan membayar ulang. Lalu aku coba bertanya ibu di kampung, adik-adik dan beberapa sahabatku yang sudah berangkat ke tanah suci duluan. Jawaban mereka seragam. Haji adalah panggilan Allah, tidak bisa dipaksa dan tidak bisa ditolak. Kalau sudah waktunya, 137

33. Tiga Jam Tersesat di “Taman Surga” “Setiap muslim, pasti akan mengalami perasaan yang sulit didefinisikan saat menginjakkan kaki ke tanah suci.” (Suyoto Rais) Aneh sekali, aku merasa sangat tenang dan tidak ada lagi kegalauan sedikit pun. Aku pasrahkan sepenuhnya kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan membaca Al-Quran yang selalu kubawa ke mana-mana. Haji dari Jepang berbeda dari Indonesia. Tidak ada pemandu khusus. Kami hanya diantar ke penginapan, diberi tahu jalan ke masjid dan setelahnya dilepas sendiri. Semua pengunjung masjid Nabawi pasti berebut bisa berdoa di Taman Roudloh, yang diyakini umat Islam sebagai bagian dari Taman Surga, yang hanya memuat sekitar 300 orang ini. Padahal masjid Nabawi kapasitasnya lebih dari 1 juta orang! Hari pertama aku hanya melihat dari kejauhan dan rasanya sangat sulit untuk bisa sampai ke pintu antrian Taman Roudloh. Taman Roudloh selalu diberi pembatas sekelilingnya, dibuka sebentar untuk memberi giliran keluar-masuk dan selebihnya dijaga ketat para petugas masjid. Pengunjung yang beruntung hanya diberi waktu berdoa beberapa menit. Aku mencoba datang lagi setelah larut malam. Ternyata juga sama. Taman Roudloh ini selalu dipadati lautan manusia yang rela antri berjam- jam hanya untuk berdoa selama beberapa menit. Aku pun menyerah, dan tidak lagi memikirkan bagaimana bisa masuk ke dalamnya. Di mana pun, kalau kita berdoa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh pasti akan dikabulkan, begitu aku menghibur diri sendiri. Hari kedua setelah makan siang, aku kembali mengajak teman-teman sekamar ke masjid. Tetapi mereka ingin beristirahat di kamar. Aku akhirnya pergi sendiri ke Masjid Nabawi. Tidak ada rekan Indonesia yang pergi bersamaku, termasuk istriku. Aku berjalan sendiri di panas terik selepas waktu Dzuhur. Sambil berkelililing melihat-lihat kemegahan masjid Nabawi, aku mengarah ke pintu Abu Bakar Assidiq. Ada pintu untuk ziarah ke makam Rasul dan pintu di sebelah Taman Roudloh yang selalu padat orang. Ketika aku melintas di dekat pintu-pintu itu, seperti ada kekuatan yang mendorong, tiba-tiba saja aku terseret 139

8. Saat itu aku tidak lagi berpikir harus ekspatriat di Indonesia. Yang penting adalah aku bisa kembali bekerja di Jepang, dan syukur kalau suatu saat bisa kembali ke tanah air dalam kondisi yang lebih baik lagi. Ada kejadian tidak kulupakan selama bekerja di Faco. Mr. Kojima, mantan bosku di Denso datang berkunjung. Dia kukabari kalau aku kena masalah di Sumitomo dan sekarang bekerja di perusahaan lokal. Saat dia ke Indonesia, menyempatkan ke pabrik. Disambut oleh Pak Kiki, Pak Sukma dan juga aku. Malamnya aku masih dibekali uang cukup oleh perusahaan untuk menjamu makan malam di Jakarta. Kojima San senang sekali bisa bertemu aku kembali. Tetapi juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat mantan anak buahnya yang pernah bekerja di perusahaan Top Dunia sekarang bekerja di workshop kecil di tengah kampung. Tetapi seperti orang tua lainnya, dia tetap memberikan nasihat dan motivasi agar aku betah dan sukses. Ini juga salah satu step untuk mematangkan langkahku ke depan. Satu lagi hati emas Pak Kiki yang sulit kulupakan adalah pada saat dia tahu aku harus mengembalikan uang sanksi ke Sumitomo hampir 300 juta rupiah, dia dengan ikhlas memberikan pinjaman lebih dari 200 juta rupiah. Tanpa surat perjanjian dan tanpa ada jaminan apa pun. Aku hanya memberikan tanda terima dan kutulis kalau uang tersebut akan kukembalikan setelah tanah di Malang, Jawa Timur laku terjual. Kurasa sudah sangat langka orang yang bisa percaya sesamanya seperti ini. Dan syukur juga, tanah di Malang cepat laku sehingga aku tidak perlu menanggung hutang terlalu lama. Aku bisa mengembalikan semuanya setelah itu. Aku bekerja di Bogor sekitar tiga bulan. Sampai ada satu email dari agen di Jepang yang menawariku wawancara ke Nidec di Kyoto. Agen terakhir ini bilang kalau Nidec sedang kesulitan mencari orang yang punya pengalaman bekerja di industri otomotif dan akan ditugaskan di pabrik baru di Cina. Kalau dari Toyota Group, boleh dibilang pasti akan diprioritaskan. Aku pun meminta lamaranku diteruskan. Aku merasa seperti ada harapan baru. [] 114

16. yang terletak di kota Kyoto paling pinggir, adalah bangunan tertinggi yang boleh didirikan di Kyoto. Perasaan saat akan memasuki gedung itu berbeda sekali dengan pada saat akan wawancara dulu. Ada kebanggaan bisa jadi orang Nidec, ada harapan baru dan ada senyuman dari orang-orang yang menyambutku di depan pintu Nidec. Semua seolah menyambut kedatanganku sebagai ”rising star” baru yang akan berangkat ke Cina untuk menempa diri dan kelak menjadi Top Nidec di Indonesia. Aku pun tidak lupa untuk melakukan sujud syukur, begitu sampai di ruang direktur tempat aku menunggu top management Nidec. Sambil menunggu orang- orang yang akan menerimaku. Aku bersyukur karena Tuhan telah memberikanku kesempatan untuk menjadi karyawan di sini. Hari itu juga aku menerima simbol Nidec. [] “Pada saat baru datang ekspatriat Jepang yang akan menjadi atasan kami, saya memang terkejut dan hampir tidak percaya. Ada orang Indonesia yang pintar bahasa Jepang dan ditugaskan sebagai direktur di tempat kami. Tetapi setelah beberapa lama kerja bersama, saya segera tahu kalau dia memang pantas di posisi itu (testimoni diterjemahkan penulis).” Zhan Zhong Hua Mantan anak buah dan manajer di Nidec-Dalian. Sekarang vice president di Senhou Plastic Co.Ltd. Shuzou, Cina 122

27. tidak. Email itu kutulis lumayan panjang. Kalau dihitung dengan font 12 huruf Roman dan spasi 1,5, mungkin bisa 5—6 halaman A4. Terlepas dibaca semuanya atau tidak, itu adalah bentuk kalau aku benar-benar memikirkan dengan serius semua tawarannya. Prinsipnya aku juga tidak melihat dari sisiku saja, tetapi lebih melihat keuntungan dan kerugian dari sisi perusahaan dengan tawaran yang sekarang. Cara negosiasi seperti ini aku dapat melalui perjalanan panjang selama ini. Bukan hanya dari kampus dan perusahaan, tetapi juga hasil dari keikutsertaanku di berbagai aktivitas sosial di Jepang. Pertama, kita harus mendengarkan dulu baik-baik, maunya seperti apa. Kedua, kita baru menjelaskan kalau keinginanku sebenarnya juga sama dengan yang mereka inginkan. Dan itu akan jauh lebih baik dari proposal saat ini. Ini harus ditulis atau disampaikan dengan bahasa yang bisa dimengerti mereka, dan selanjutnya pasrah sambil menunggu bimbingan dan jawaban selanjutnya. Kalau dia orang Jepang yang juga punya cara berpikir yang sama, dia pasti akan mengerti apa yang kumau. Dan itu juga untuk perusahaan ke depan akan lebih baik lagi. Pagi sebelum berangkat kerja, email panjang tersebut kukirimkan ke agen. Dan ternyata mendapat respon sangat cepat. Sekitar jam 10 pagi, aku sudah ditelpon oleh agen yang memberitahu kalau usulku sebagai ekspatriat diterima! Tetapi ada syarat tambahan, aku harus interview tambahan via telepon dengan Presdir Ichikoh Pusat, Mr. Ordoobadi Ali. Jumat 3 Februari 2012, sekitar jam 09.00 waktu Cina, ada telepon dari agen yang mengucapkan “ omedetou gozaimasu (selamat!)”. Katanya, tawaran resmi akan dikirim menyusul tetapi pada prinsipnya semua usulanku diterima. Aku akan diposisikan sebagai GM di pusat dan ditugaskan sebagai ekspatriat di Indonesia. Gaji, fasilitas, dan lain-lain mengikuti standar ekspatriat mereka, dan beberapa angka yang diberikan malah lebih baik dari yang kuterima di Nidec. Aku langsung mencari ruang kosong di kantor dan melakukan sujud syukur disertai tetesan air mata. Ya, Allah, segala puji bagi-Mu. Ternyata Engkau telah memberikan jalan terbaik buatku. Semoga aku mampu mengemban amanah ini dengan sebagaik- baiknya, tidak sombong, tidak khilaf, selalu istiqomah dan bersyukur. [] 133

40. Jepang, senang Ohkuma dan pada akhirnya bisa bergabung dengan Ohkuma sampai saat pensiun. Acara Leaders Meeting itu memang dibuat ada meeting serius dan ada komunikasi santai untuk menjalin kekerabatan bersama. Semua senang dengan pertemuan itu. Kalau ada sedikit dilema adalah mengenai posisi. Meskipun dilihat dari gaji dan wewenangku nomor satu, tetapi rasanya sulit menjadi Presiden Direktur. Konon ini juga berkaitan dengan psikologi pelanggan. Mereka akan lebih merasa tenang kalau ada orang Jepang yang berada di top management . Apa pun, aku tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Aku merasa ini adalah anugerah yang harus kusyukuri. Tetapi entah informasi dari mana, akhir-akhir ini ada beberapa perusahaan Jepang yang mengincarku untuk direkrut sebagai pimpinan perusahaannya di Indonesia. Dengan gaji dan fasilitas yang lebih tinggi dari yang kuterima di Ohkuma. Ini membuat kegalauan baru untuk mencoba peruntungan lagi, terlebih tantangannya juga lebih banyak. Tetapi Ohkuma kudapatkan setelah pergi dari Tanah Suci. Aku sering bingung apakah ini tambatan terakhir yang harus kupertahankan, atau semacam pijakan untuk melangkah lebih jauh lagi agar bisa berkontribusi yang lebih baik di negeri ini. [] “Saat dilanda kebimbangan, alangkah baiknya bila kita kembali mengingat kembali ‘niat awal’ kita.” (Suyoto Rais) 146

5. Semangat dari Jepang “Semangat dapat dipungut dari mana-mana.” (Suyoto Rais) Dengan sedikit sisa tabungan yang ada, aku tetap bersikeras ke Jepang agar anak- anak tidak kecewa. Sementara uang yang harus kukembalikan ke Sumitomo akan kuangsur sampai beberapa bulan ke depan. Akhir Januari 2011 kami tetap melakukan perjalanan ke Jepang. Sedapat mungkin kami juga tidak menginap di hotel, tetapi menumpang di rumah teman Jepang dan adik. Kebetulan setiap aku ke Jepang, mereka selalu menawari menginap maka kali ini benar-benar kumanfaatkan tanpa malu-malu. Setelah memperpanjang reentry permit , kami mengunjungi beberapa tempat kenangan anak-anak, termasuk sekolah dan menemui beberapa kawannya. Mereka sangat gembira. Tetapi aku dan istri tidak bisa menyembukan kekhawatiran. Kondisiku di Jepang saat itu berbeda sekali dengan sebelumnya. Aku di Jepang tanpa gaji, tanpa asuransi dan tanpa status! Tabungan di bank juga semakin menipis. Mudah-mudahan anak-anak dan orang-orang sekelilingku tidak tahu gejolak hati ini. Aku lagi-lagi sangat bersyukur, memiliki banyak sahabat di Jepang. Untuk menghemat ongkos, aku tidak menginap di hotel tetapi di rumah ”orangtua angkat” di Osaka (Ayah-Ibu Inuzuka), di rumah Sato di Kobe, Yamashita San di Kyoto dan terakhir di rumah adik di Nagoya. Mereka malah senang sekali aku mau berkunjung dan menginap. Kami bisa melewati waktu dengan banyak bercerita kenangan saat mahasiswa dulu. Sangat menghiburku! Mereka juga telah menyiapkan menu Jepang yang lezat, termasuk mengajak makan bersama di restoran-restoran Jepang di sana. Semua kunikmati dan aku jadi bahagia waktu mahasiswa dulu bisa kenal dengan mereka semua. Karena orang-orang ini pula, aku tetap merasa Jepang adalah tanah air keduaku yang tetap kucintai selamanya. 111

23. Nyaris Gagal ke Ichikoh “Prasangkamu, merupakan bagian dari doamu. Maka berbaik sangkalah!” (Suyoto Rais) Seiring dengan ketidak-jelasan proyek Nidec di Indonesia, aku kembali mengirimkan profil ke head hunter . Salah satu agen di Tokyo ada yang menawari untuk melamar ke Ichikoh, produsen lampu otomotif yang digunakan oleh Toyota, Nissan, Daihatsu, Honda dan lain-lain. Mereka memiliki pabrik di Indonesia dan sudah beroperasi sekitar 15 tahun. Selain itu juga di Cina, Malaysia dan Thailand yang saat itu baru akan mulai operasi. Saat itu, Ichikoh mencari kandidat pimpinan untuk Ichikoh Indonesia. Ini jelas terlalu tinggi untuk kuincar, tetapi agenku bersikeras mengajukan profilku sebagai salah satu kandidat. Katanya, sebelumnya sudah ada kandidat, orang Jepang yang pernah pengalaman menjadi pimpinan perusahaan di luar negeri, tetapi ditolak sesudah wawancara. Setelah menunggu beberapa minggu, aku dipanggil wawancara Ichikoh. Pewawancara pertama Mr. Nakakita, GM Personalia. Aku datang sekitar 15 menit sebelum wawancara, menunggu di ruang tamu. Sementara Nakakita San datang terlambat 10 menit, sambil bilang mohon maaf, mungkin hari ini hanya dia yang bisa mewawancarai karena Direktur Nakano masih di luar kantor dan belum tentu bisa pulang sesuai jadwal. Kujawab sesantai mungkin kalau saya siap menunggu jam berapa pun kalau diminta dan juga siap pulang kalau sudah dianggap tidak perlu wawancara lagi. Aku diminta menunggu. Ada firasat kurang enak, rasanya mereka tidak terlalu berhasrat merekrutku. Wawancara yang dijadwalkan selama 1 jam dimulai. Sebelum wawancara berakhir, dia tiba-tiba mengangkat telepon dan memberitahu kalau Direktur Nakano sebentar lagi sampai kantor. Aku diminta menunggu. Wawancara kedua dimulai setelah terlambat tiga puluh menit. Pewawancara kali ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi, dan sekaligus menentukan. Beliau membawahi seluruh kegiatan bisnis di Ichikoh luar negeri dan ekspatriat dari Valeo 129

26. Kekuatan Negosiasi “Bersyukur dan bersabar, adalah penenang bagi jiwa.” (Suyoto Rais) Akhir Januari 2012, ada offering letter dari Ichikoh. Tetapi ada satu yang mengganjal di hati. Ternyata mereka tidak menawarkan posisi sebagai karyawan pusat dan ekspatriat di Indonesia. Aku diposisikan sebagai karyawan Indonesia dengan gaji dan fasilitas yang diusahakan tidak jauh beda dengan para ekspatriat Jepang. Tugas detailnya akan diberikan menyusul. Ini di luar harapanku, tetapi kalau kutolak aku tidak punya pilihan lain yang lebih baik dibanding Ichikoh. Sementara ke Nidec, aku sudah bilang hanya akan bekerja sampai akhir Maret 2012. Agen di Tokyo menelponku dan meminta pendapatku mengenai tawaran Ichikoh tersebut. Tentu aku sampaikan kalau tidak ada pilihan lain. Tetapi sebelum tanda tangan kontrak, aku ingin mengetahui alasan Ichikoh tidak bisa menerimaku sebagai ekspatriat Jepang. Kalau alasannya masuk akal, aku akan menerimanya tanpa protes. Agenku bilang, tidak ada waktu untuk bernegosiasi lagi. Jadi dia hanya akan meminta penjelasan alasan dan menerima statusku sebagai karyawan Ichikoh Indonesia. Agen tentu juga keburu-buru agar segera selesai dan mereka bisa mencari kandidat lainnya. Aku coba berkonsultasi dengan istri dan anak tertuaku. Hasilnya, keluarga tidak mempermasalahkan dengan status, gaji, dan fasilitas yang akan kuterima. Yang penting bisa berkumpul kembali. Istriku malah menasihati, siapa tahu dengan status karyawan Indonesia akan menjadi lebih baik karena tidak ada kekawatiran akan ditarik kembali ke Jepang. Masuk akal, dan aku tidak menolak atau mengiyakan. Aku tahu istriku sebenarnya hanya berusaha menghibur dan membesarkan hatiku. Akhirnya email kukirimkan via agen agar diteruskan ke Ichikoh. Intinya aku tidak memasalahkan status sebagai karyawan pusat atau Indonesia. Aku hanya menjelaskan keuntungan dan kerugiannya bagi perusahaan dari kacamataku. Kutunjukkan dengan data-data dan pengalaman pribadi. Juga harapan kepadaku, sebagai pimpinan di Indonesia yang bisa berpikir dan bersikap duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang-orang Jepang atau orang asing lainnya atau 132

3. PHK itu Datang Mendadak “Masalah akan datang tiba-tiba, menyiapkan mental positif setiap saat sangat penting untuk kita.” (Suyoto Rais) Hidupku sebagai ekspatriat Jepang di negeri sendiri benar-benar menyenangkan. Tugas-tugas di kantor kukerjakan dengan baik. Anak istri sudah mulai bisa beradaptasi di negerinya sendiri. Bahkan adik terakhirku, Diyah, baru saja wisuda S1 di IPB dan sudah ada perusahaan yang menerimanya bekerja sambil melanjutkan ke S2. Aku tidak perlu lagi membantu adik-adikku. Dunia seperti berada di dalam genggamanku. Tetapi seperti ada petir di siang bolong pada saat cuaca cerah. Januari 2011 aku mendadak diPHK karena ”kesalahan administrasi”. Ceritanya, sebagai ekspatriat aku mendapatkan uang sewa rumah sekitar USD1.500 per bulan. Pada tahun pertama aku menyewa rumah dan kubayarkan sesuai prosedur. Pada tahun kedua, di tengah jalan aku membeli rumah sendiri, dengan pertimbangan tidak menambah beban kantor. Aku menggunakan uang sewa rumah untuk membayar angsuran rumah. Kalau aku diam, tentu aman-aman saja. Bagian adminstrasi orang Indonesia juga sudah tahu. Tetapi ada yang mengganjal, dan pada saat akan memperpanjangan lagi bulan Desember 2010, aku bicara jujur kepada presdir. Harapannya, bisa diupayakan untuk mengganti istilah uang sewa menjadi uang tunjangan rumah. Toh pengeluaran perusahaan sama. Ternyata, itu menjadi masalah besar, sampai direktur personalia pusat datang khusus untuk interogasi aku. Aku dianggap korupsi dan perlu mendapat sanksi berat berupa PHK! Hasilnya memang begitu: pada tanggal 11 Januari 2011 aku di-PHK sepihak! Setelah itu, bukan hanya gaji dan fasilitas yang hilang, tetapi aku diharuskan mengembalikan semua uang sewa yang jumlahnya beberapa ratus juta! Akhir Januari 2011 sebenarnya aku mendapat jatah ”pulang ke Jepang” sekeluarga dengan biaya perusahaan. Tiket pesawat dan hotel sudah dibookingkan, anak-anak juga sudah minta izin ke sekolah sekalian memperpanjang reentry permit tiga tahun 109

25. Malam hari sesampai di Jakarta, ternyata balasan dari Shida San sudah masuk. Dia juga memberikan respek yang baik kepadaku sebagai manajer, engineer, maupun sebagai personal. Jawaban terakhir dari perusahaan akan segera diberikan melalui agen. [] “Dalam sebuah priotitas, terkadang menuntut sebuah pengorbanan.” (Suyoto Rais) “Saya banyak bertemu relasi bisnis Indonesia dan orang-orang asing lainnya. Tetapi yang bisa seperti Suyoto San sangat langka. Kadang dia lembut dan ramah, tetapi kadang juga sangat tegas. Dia juga selalu mengedepankan profesionalisme di bidang yang dikerjakannya. Meskipun baru bekerja bersama beberapa bulan, saya segera tahu kalau dia memang sangat diperlukan perusahaan kami. Saya juga mendukung semua aktivitasnya berkontribusi buat Indonesia” Masato Wada Presiden Direktur PT Nagai Plastic Indonesia, atasan penulis “Sayang sekali Suyoto San tidak lagi bekerja di perusahaan kami. Tetapi sampai sekarang saya tetap menjalin hubungan baik dan berkawan dengannya. Dia menyukai Jepang dan saya menyukai Indonesia. Kelebihannya, dia bisa berpikir dan bersikap lebih baik dari orang Jepang. Dan tetap memiliki hati Indonesia yang tidak perlu diragukan. “ Nobuyuki Yamaji Presiden Direktur PT Ohkuma Industries Indonesia, mantan atasan penulis 131

2. Bersama Presiden Direktur Masato Wada (kiri), aku bertekad untuk terus memperbaiki Nagai. Atas izinnya pula, aku diperbolehkan menggunakan kantorku sebagai sekretariat Formasi-G yang siap berkontribusi untuk negeri ini Menjaga hubungan baik dengan para pelanggan dan sesama alumni Jepang. Dari kanan: Mr. Eiichi Abe (Presdir PT Indonesia Epson Industry), Makmur Solahudin (kawan OFP-Japan), Shodiq Wicaksono ( Deputy Director PT Suzuki Indomobil/ Motor Indonesia), Fuad A. Kadir (Ketua Komunitas Alumni Jepang di Indonesia) Dipanggil interview ke Cina pada akhir Desember 2014 oleh Chairman Xiu Peng Li (tengah) dan mantan anak buahku yang menjadi tangan kanannya Zhan Zhong Hua (kedua dari kiri) 108

9. Jalan ke Jepang Sudah di Depan Mata “Berapa pun banyaknya tantangan di hadapan, tetap fokuslah pada pencapaian tujuan.” (Suyoto Rais) Saat ada tawaran mendaftar ke Nidec, sebenarnya aku sudah hampir putus asa. Tetapi agen yang sekarang tampaknya sangat antusias sekali ingin mengajukan aku ke Nidec pusat. ”Saya dekat dengan orang-orang HRD di Nidec. Dan melihat profil Anda, saya yakin Anda akan dipanggil wawancara. Mereka benar-benar perlu orang seperti Anda,” demikian dia mulai menawariku. Agen tersebut juga tahu kesulitanku mengenai sebab keluar dari SEI dan memberikan nasihat seperlunya. Aku mengikuti saja nasihat agen tersebut dan mengirim lamaran terbaru. Dan ternyata benar, aku kemudian dipanggil wawancara ke kantor pusat Nidec di Kyoto. Itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa kembali bekerja di Jepang. Tetapi aku benar-benar stres berat. Ada tekanan luar biasa agar aku berhasil, karena ini adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Saat itu aku juga tidak peduli level apa dan berapa gajiku nanti. Aku hanya ingin bisa direkrut kembali di perusahaan Jepang. Di Jepang, kalau seseorang pernah kena PHK, dia akan kesulitan untuk mencari pekerjaan apapun. Dan kini, aku pun mengalami hal itu. Bahkan untuk skala Indonesia, semua lamaranku ditolak. PHK memang identik dengan black list . Maka kalau Nidec memanggilku untuk wawancara, mereka jelas ingin sesuatu itu. Aku baru tahu kalau di Nidec banyak sekali orang yang pernah bekerja di Nissan, Mitsubishi dan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Tetapi yang dari Toyota Group nyaris tidak ada. Nidec adalah perusahaan motor yang besar. Motor kecil presisi yang digunakan di hard-disc PC di seluruh dunia, konon, lebih dari separoh konon menggunakan motor Nidec. Selain motor-motor untuk elektronik, Nidec sedang mengembangkan bisnis untuk membangun motor untuk otomotif, termasuk untuk mendukung mobil listrik. Presdir dan pendiri Nidec, Mr. Nagamori juga termasuk CEO Jepang yang terkenal dan sering diekspos media massa di Jepang. 115

19. Akulah sang Direktur Produksi “Setiap permasalahan itu haruslah dihadapi, bukan diratapi dan ditakuti.” (Suyoto Rais) Bulan Juni 2011, beberapa hari sebelum aku berangkat bertugas ke Cina, aku menerima kunjungan anak muda dari Motor R & D Laboratory di Tokyo, salah satu pusat penelitian Nidec untuk meneliti dan mendesain motor-motor yag akan dikembangkan ke depan. Dia memperkenalkan diri namanya Ricky Elson, WNI yang setelah lulus S2 di Jepang masuk ke Nidec. Sudah hampir 7 tahun dia bekerja di Nidec sebagai engineer staff . Sebelumnya aku juga mendengar ada seorang Indonesia lainnya yang telah bekerja di Nidec. Jadi setelah aku masuk, ada dua WNI yang menjadi karyawan Nidec Jepang. Melihat posisi dudukku, awalnya Ricky tampak agak segan. Tetapi setelah berkenalan dan berjabat tangan, kami segera terlibat obrolan akrab. Meskipun dilihat dari posisi jabatan, dia beberapa tingkat di bawahku, tetapi aku menghargainya sebagai orang yang lebih lama di Nidec. Aku mesti banyak belajar dan bertanya kepadanya, sebagai seorang ”senior” yang sesungguhnya. Saat itu, dia cerita mengenai keinginannya untuk membangun work shop dan laboratorium motor di Indonesia. Dia juga sudah mencoba mencari mitra dan orang- orang di Indonesia yang bersedia mendanainya. Lalu, aku juga membocorkan isu- isu di kalangan manajemen atas yang kudapat, kalau beberapa tahun ke depan Nidec akan membangun pabrik besar di Indonesia. Motor untuk otomotif, mobil listrik dan energi terbarukan termasuk yang akan digarap di sana nanti. Kemungkinan aku akan ditunjuk sebagai salah satu koordinator proyek dan kalau mau akan kuusulkan Ricky terlibat juga. Begitu aku berbincang dengannya saat itu. Setelah itu, aku mulai persiapan khusus untuk bertugas di Cina. Visa kerja yang diurus perusahaan juga sudah kudapatkan. Akhir Juni 2012, aku mulai bertugas di Nidec Dahlian. Aku ditugaskan sebagai direktur produksi di divisi otomotif yang baru dibangun. 125

29. Menjadi Ekspatriat ke Indonesia dan Thailand “Mereka yang bersungguh-sungguh, hidupnya selalu meninggalkan jejak.” (SuyotoRais) Setelah mendapat pelatihan selama sebulan di kantor pusat, aku dikirimkan ke Indonesia sebagai ekspatriat. Posisiku adalah kepala pabrik dan riilnya pimpinan tertinggi setelah presdir. Di kantor pusat posisiku sekelas dengan GM, sangat tinggi untuk ukuran orang seusiaku. Aku juga mendapatkan gaji tertinggi dari yang pernah kuterima selama ini. Termasuk tunjangan dan fasilitas untuk keluarga. Bahkan aku juga diberi tunjangan rumah sama dengan para ekspatriat Jepang lainya yang bebas kugunakan, untuk menyewa atau membayar angsuran rumahku. Ternyata beda perusahaan, beda sistem. Kalau saja aku tidak kena PHK, mungkin aku tidak akan pernah tahu perbedaan ini. Tetapi perusahaan Indonesia selalu defisit dalam beberapa tahun terakhir ini. Salah satu penyebabnya adalah karena ada kompetitor yang mendirikan perusahaan di Indonesia dan beberapa produk andalan untuk mobil-mobil Toyota dan Daihatsu berpindah ke sana. Juga biaya internal masih terlalu tinggi. Maka misi pertamaku adalah mengurangi biaya internal tersebut dengan perbaikan organisasi dan kaizen (perbaikan terus-menerus di masing-masing tempat kerja). Akhir April 2011 aku mulai bertugas di Indonesia. Dua bulan kemudian ada pergantian presdir. Dari presdir Ikari menjadi presdir Nafari, direktur QA pusat yang mewawancariku dulu. Tetapi beliau harus merangkap jabatan dan waktunya di Indonesia mungkin hanya 1—2 minggu setiap bulannya. Jadi aktualnya aku adalah pimpinan tertinggi pada saat Mr. Nafari tidak ada di Indonesia. Aku banyak belajar dari gaya kepemimpinannya yang ceplas-ceplos dan menyukai genba. Follow up terhadap instruksinya juga cepat dan tegas. Dia tidak pernah lupa terhadap hal kecil yang diminta. Bersama dia, hanya dalam beberapa bulan saja profit kembali terlihat. Kami melakukan penghematan internal besar- besaran dengan efisiensi semua output karyawan. Mulai dari 5S, jaminan mutu 135

10. Tetapi bagaimana kalau Nidec tahu kalau aku pernah di PHK? Aku kembali konsultasi ke agen dengan harap-harap cemas. Aku berpikir keras setelahnya. Dan terlintas saat itu, aku tidak boleh bohong tetapi juga tidak boleh menggunakan kata PHK. Ya, untungnya mereka memang lebih banyak bertanya apa saja keterampilanku dan apa yang bisa kuberikan ke Nidec nanti. Aku juga jawab sesuai dengan skill dan pengalamanku. Dan benar, alasanku mundur dari SEI ternyata bisa mereka terima, dan pertanyaan selanjutnya lebih kepada skill , pengalaman dan kontribusi yang bisa aku berikan setelah masuk ke Nidec nanti. Wawancaraku di Nidec semula yang hanya dilakukan oleh direktur personalia selama 1 jam. Aku segera kembali ke Jakarta di hari berikutnya. Tetapi entah kenapa, ketika baru sampai di Jakarta ada kabar lagi dari agen kalau aku dipanggil wawancara berikutnya. Aku pun terpaksa menguras dompet untuk membeli tiket ke Jepang berikutnya. Selama wawancara itu, aku harus menanggung biaya transportasi sendiri, karena aku dari luar negeri dan ingin direkrut menjadi karyawan pusat. Pada hari yang dijadwalkan, aku kembali ke kantor pusat di Kyoto dan juga Technical Center di Shiga untuk bertemu dengan beberapa direktur. Terakhir bertemu dengan Vice President Nidec, Mr. Sawamura, mantan direktur Nissan Motor yang masuk ke Nidec beberapa tahun lalu dan saat itu memiliki wewenang penuh untuk mengendalikan seluruh perusahaan Nidec di luar negeri. Riilnya, orang nomor 2 di Nidec setelah Big Boss Nagamori. Saat itu, usianya sudah 69 tahun, tetapi masih terlihat sehat dan pertanyaannya juga sangat tajam dan berwibawa. Ternyata Mr. Sawamura sangat jeli dan tidak mudah percaya omonganku pada saat wawancara. Setelah wawancara selesai, di luar jadwal, aku diajak ke lini produksi mereka. Namun, aku sempat ragu.. mana mungkin aku tahu mana yang salah dan apa yang harus diperbaiki hanya dengan melihat sepintas. Aku juga belum pernah melihat lini produksi Nidec sebelumnya. Maka, aku pun menurutinya dan entah ide dari mana, konon aku bisa komentar yang cukup pas dan membuat mereka makin percaya kalau aku memang layak diterima. Kupikir sudah selesai di sini. Ternyata esok harinya, pada saat aku sudah mau siap-siap kembali ke Indonesia, ada telepon lagi dari agen yang memintaku pergi ke Nidec lagi. Katanya pimpinan Nidec-Cina pulang mendadak dan ingin bertemu denganku. Apa boleh buat, jadwal pulang kutunda sehari lagi dan aku pun menemuinya. 116

42. Dia bilang kalau perusahaan tidak mempermasalahkan status ekspatriat Jepang dan gaji yang lebih tinggi dari sekarang. Akhirnya, aku sepakat memenuhi panggilannya ke Cina untuk dipertemukan dengan sang chairman . Tentu dengan biaya penuh dari mereka. Itu terjadi pada saat liburan Natal dan tahun baru kemarin. Wawancara di dekat Shanghai itu ternyata hanya seperti kenalan dan konfirmasi apa yang aku minta agar aku mau bergabung dengan mereka. Setelah aku pulang ke Indonesia sudah ada email lagi dari Zhan. Dia bilang kalau chairman berharap sekali aku segera mau bergabung. Aku juga diberi contact person ke pabrik Indonesia dan dipersilakan datang secepatnya untuk melihat-lihat permasalahan di dalamnya. Saat itu sudah masuk waktu libur akhir tahun dan aku juga sudah punya rencana untuk berlibur panjang bersama keluarga. Baru setelah tahun baru 2015, aku kontak ke presdir di Indonesia dan meminta waktu untuk berkunjung. Dia bilang sudah menerima instruksi dari pusat dan mempersilakan aku datang kapan pun aku mau. Aku pun pergi ke dua pabrik di Indonesia. Kulihat kedua-duanya dan sedikit banyak mulai tahu permasalahannya. Ada masalah production cost yang tidak bisa dihitung dengan akurat dan tepat waktu, ada mesin utama yang sudah lewat masa depresiasi dan sering rusak, belum memiliki sistem kontrol yang terintegrasi sehingga sulit mengetahui stok material dan produk jadi secepatnya. Masih banyak barang-barang yang ditaruh sembarangan dan aliran material tidak mudah dilihat. Juga masalah-masalah komunikasi kurang baik antara karyawan dan manajemen yang membuat para karyawan konon sering protes. Masalah-masalah yang sudah kuduga sebelumnya. Tetapi yang menyita pikiranku saat itu adalah usia perusahaan yang sudah berdiri lebih dari 17 tahun. Ada karyawan yang usianya lebih tua dariku, dan pasti banyak orang-orang yang merasa lebih tahu dan lebih senior juga. Mereka tentu saja tidak akan mudah menerima pimpinan baru sepertiku, kalau aku tidak bisa memberikan manfaat yang sepadan dan kinerja yang sesuai harapan mereka. Tetapi masalah-masalah ini justru menarik untuk dicoba. Aku sudah beberapa kali mengalaminya hampir di setiap berganti perusahaan. Masalahnya memang tidak selalu sama, tetapi umumnya hanya akan terasa manis setelah menjadi kenangan. Kalau aku bisa melewatinya lagi, pasti keterampilan dan pengalamanku akan bertambah. [] 148

44. Jepang lainnya, yang notabene jadi anak buahku juga lebih tua usianya. Awalnya ini termasuk yang kekhawatirkan. Tetapi setelah beberapa lama bersama-sama mereka, aku semakin tahu kalau mereka memang sangat memerlukan figur pimpinan yang dirasa mampu mengarahkan langkah mereka untuk memperbaiki kondisi Nagai. Mulai dari reorganisasi, skill up maupun pemeliharaan mesin-mesin yang sebagian sudah mulai menua. Juga keterbukaan dari pihak manajemen terhadap kondisi perusahaan. Aku memulai mengadakan pertemuan bersama seluruh karyawan Nagai dengan pimpinan perusahaan di dalam monthly communication meeting , hal yang belum pernah dilakukan sejak Nagai Indonesia berdiri. Di situ aku paparkan kondisi terkini perusahaan termasuk kerugian perusahaan dalam beberapa bulan terakhir dan karena itu pula ada pergantian manajemen, baik yang di kantor pusat maupun di Indonesia. Aku juga mulai kontrol kinerja dengan memberlakukan KPI kepada para key person , mengontrol biaya yang keluar dengan perbaikan sistem penganggaran biaya yang lebih ketat, dan mengganti beberapa posisi penting dengan tenaga baru. Juga rencana penggabungan kedua pabrik Nagai agar lebih efisien lagi. Ternyata orang-orang Nagai sangat memperhatikan apa yang kuinstruksikan dan nasihat-nasihatku. Banyak juga wajah-wajah yang terlihat kembali bersemangat, dan mau bersama-sama melakukan perbaikan. Presiden direktur baru, Mr. Masato Wada, juga sangat perhatian terhadap karyawan dan kooperatif terhadap berbagai upaya perbaikan yang kuusulkan. Sebulan berlalu, kerugian perusahaan mulai mengecil. Dua bulan berlalu, perusahaan sudah mulai untung meskipun omzet penjualan masih belum naik. Dan bulan keempat rasio keuntungan makin membaik. Aku akhirnya diangkat menjadi karyawan tetap di kantor pusat sebelum masa percobaan berakhir dan bisa mendapatkan hak-hak sebagai ekspatriat Jepang penuh di Indonesia. Aku mulai tenang dan percaya diri kalau keberadaanku memang diperlukan di sini. Para karyawan juga mulai terlihat semakin yakin bahwa “bersama kita bisa” yang mereka dengungkan setiap pagi bukan hanya slogan tanpa arti. Dan yang lebih menyenangkan, Presdir Masato Wada juga mengizinkan departemen administrasi Nagai difungsikan sebagai sekretariat Forum Studi dan Informasi Global (Formasi-G) yang sedang kugagas bersama kawan-kawan dan tokoh-tokoh alumni luar negeri. Alhamdulillah ... Aku sangat menikmati pekerjaanku sekarang dan yakin dalam waktu dekat Nagai akan kembali membaik dan makin lebih baik lagi. [] 150

37. Dari Ruko ke Pabrik Baru “Berlapang hatilah dalam menghadapi segala perbedaan.” (Suyoto Rais) Maret 2014, kami pindah ke pabrik baru. Kami segera mempersiapkan master plan dan segala sesuatu untuk bisa memenuhi permintaan pelanggan, termasuk lulus auditnya. Pelanggan pertama adalah Truk Hino. Kemudian kami mendekati Isuzu, Sumitomo Construction & Machinery, Hitachi, dan lain-lain. Juga karoseri. Pokoknya semua produsen truk, bus, wagon car , ekskavator, elevator, dan lain- lain kami coba dekati. Selama bertugas di Indonesia, aku juga diberi wewenang cukup luas dan aktualnya sebagai orang nomor satu. Ini juga diakui oleh orang-orang di kantor pusat. Mereka bahkan yang meminta laporan mingguan dan bulanan dari Indonesia harus aku yang mengirimkan, dan aku diberi wewenang untuk membagi tugas dan memberikan instruksi terhadap semua orang di Indonesia, termasuk presdir Jepang yang usianya beberapa tahun di atasku. Aku bertanggung jawab terhadap perekrutan karyawan, pembikinan organisasi yang mendukung, peningkatan keterampilan karyawan, laporan ke kantor pusat dan pelanggan, pembikinan dokumen dan prosedur, dan semua aktivitas di perusahaan semua dibawah kendaliku. Aku sangat menyukai tantangan ini. Aku juga bersyukur memiliki anak buah yang sangat baik loyalitas pada pekerjaannya. Termasuk presdir Jepang, selain orangnya ramah juga sangat kooperatif. Dia mengakui kalau sebenarnya tidak levelnya untuk menjadi presdir, tetapi karena keputusan big boss di pusat dan untuk menjaga wajah pada pelanggan, dia harus menurut dan menjalankan sebaik-baiknya. Satu yang kadang menjadi dilema adalah pada saat mengawali untuk mendekati calon pelanggan baru yang dipimpin oleh orang Jepang. Mereka biasanya akan menanyakan apakah ada orang Jepang yang ikut. Meskipun aktualnya para orang Jepang adalah anak buahku, mereka tetap merasa nyaman kalau bisa bertatap muka dengan sesama orang Jepang. Kalau sudah begitu, biasanya aku mengajak 143

43. Nagai Plastic “Bersama Kita BISA!” (Suyoto Rais) Setelah kunjungan pabrik itu aku menulis email ke Cina dan memberi tahu kalau aku siap menerima tugas untuk memperbaiki pabrik di Indonesia. Aku tertarik untuk mewujudkan impian besar chairman menjadikan pabrik di Indonesia sebagai pusat produksi di ASEAN dan akan terus mengembangkannya pada masa-masa mendatang. Hanya selang beberapa hari setelah itu ada offering letter yang ditandatangani presdir Pusat. Aktualnya aku diminta memimpin perbaikan perusahaan di Indonesia. Tawaran yang sangat menarik dan melebihi harapanku sendiri. Namun, ada masa percobaan selama setahun karena tentu saja mereka belum yakin sepenuhnya akan kemampuanku. Aku minta waktu berpikir beberapa saat, termasuk untuk memutuskan kapan aku bisa hand over kalau jadi meninggalkan Ohkuma. Bagiku ternyata sangat berat untuk meninggalkan Ohkuma yang kubangun dari nol. Kalau pun aku bisa pamit ke bos di kantor pusat, aku pasti akan sedih pada saat berpamitan dengan para anak buahku di Indonesia. Tetapi ini juga bagian dari proses pengembangan diri untuk anak buahku juga. Toh aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka dan mendukung dari jauh sedapat mungkin. Pada akhirnya aku memang memutuskan untuk masuk ke perusahaan terakhir ini mulai Maret 2015. Diberi posisi dan gaji yang sedikit lebih tinggi dari perusahaan sebelumnya. Tetapi aku juga memiliki target berat dan kalau gagal pasti akan membuat aku sulit bertahan di perusahaan. Ini risiko seorang profesional. Apa pun keputusan yang kuambil, aku tidak ingin membuat kecewa orang-orang yang selama ini memberiku kesempatan. Selalu berusaha memberikan yang terbaik sampai saat-saat terakhir agar bisa membuat kenangan manis selamanya. Itu prinsip yang kuanut dan ingin kuterapkan di semua aspek kehidupanku. Perusahaan di Indonesia sudah berdiri lebih dari 17 tahun. Tentu banyak orang yang lebih senior di perusahaan ini, termasuk di lihat dari segi usia. Para ekspatriat 149

11. Tetapi kalau itu memang passion , skill, dan pengalaman yang sudah melekat, dalam suasana apa pun akan mudah kita keluarkan. Ternyata kunjungan ke pabrik itu yang menentukan aku bisa diterima dengan posisi yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Senior manager di kantor pusat dan direktur produksi di Cina. Semua itu kudapat karena aku punya ilmu seperti yang dikatakan kakek dulu. [] “Bahkan, alam pun akan membantu manusia yang memiliki semangat juang tinggi.” (Suyoto Rais) “Pada saat Suyoto San di Nagoya, kami beberapa kali mangadakan konser amal dan konser budaya Indonesia. Dia selalu jadi leader saat itu, yang perhatian terhadap hal-hal kecil dan kenyamanan kerja semua stafnya, tetapi juga sering melakukan terobosan besar untuk kemajuan bersama. Kami senang sekali bisa ikut promosi Indonesia, dan menambah teman orang-orang Indonesia. Mudah-mudahan suatu saat bisa melakukan kegiatan bersama lagi. Saya menunggu kiriman bukunya.” Yoko Oshizumi Sahabat penulis dan pimpinan sanggar tari Bali “Surya Metu” di Nagoya 117

38. salah seorang dari ekspatriat Jepang meskipun hanya ikut dan duduk manis di sampingku. Apa boleh buat, itu memang budaya bisnis di Jepang. Hari Selasa 26 Agustus 2014, ditentukan sebagai Grand Opening Perusahaan. Saat itu kami mengundang Bupati Bekasi, Pak Bambang Trisulo (mantan Ketua Gaikindo/Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) dan juga para pimpinan perusahaan dan perwakilan para subkontraktor kami. Aku juga mengundang Profesor Yatna Y. Martawirya dari ITB untuk hadir dan sekaligus ikut acara pengguntingan pita. Banyak yang bingung ada profesor dari universitas terkemuka untuk membuka sebuah pabrik sekecil Ohkuma. Kami juga mengundang seluruh karyawan dan keluarganya untuk mengikutnya. Hari itu begitu penting untuk seluruh Ohkuma Group. Mungkin ini adalah kantor Ohkuma terbaru dan termuda, tetapi harapan yang diberikan kepadanya sangat besar. Aku berharap bisa berkontribusi sebaik-baiknya di sini dan menyaksikan Ohkuma yang semakin besar dan memiliki tempat khusus di hati para pelanggan. Grand opening ini menjadi ajang debutku juga. Dari awal perencanaan aku yang mengkoordinir dan menentukan hampir di semua persiapan. Aku diminta untuk menutup acara oleh big boss dan kulakukan dengan penuh percaya diri dan melibatkan semuanya dengan mengajak Sambon Jime (seperti tepuk pramuka yang sering digunakan di Jepang untuk menutup sebuah pertemuan penting) bersama. Beberapa hari setelah acara itu, kami mulai mendapatkan order tambahan. Bahkan ada order lumayan besar yang awalnya diberikan ke perusahaan lain, tetapi diberikan kepada kami karena dinilai lebih mampu menjaga kestabilan mutu, biaya, dan juga delivery . [] “Senantiasa memberikan kinerja terbaik adalah salah satu jalan untuk menjaga kepercayaan.” (Suyoto Rais) 144

35. Lima Menit yang Menentukan untuk Masuk ke Ohkuma “Perbaiki kualitas diri, seraya menanti kesempatan yang kita harapkan.” (Suyoto Rais) P erusahaan terakhir yang memanggilku adalah Ohkuma Industries, sebuah perusahaan fabrikasi lempengan baja yang banyak memproduksi braket untuk bus, truk, traktor dan alat-alat berat. Jadi bisa dikelompokkan sebagai Tier 1 untuk komponen lempengan baja. Mereka sedang mendirikan pabrik di Indonesia dan mencari presdir baru. Konon, presdir sebelumnya mengundurkan diri karena alasan keluarga. Aku segera membalas kalau aku siap mengikuti wawancara. Membangun perusahaan baru di Indonesia memang pekerjaan yang paling kucari selama ini. Aku tak peduli dengan skala perusahaan yang barangkali terkecil dari perusahaan yang pernah kumasuki selama ini. Wawancara pertama dilakukan via skype dengan Direktur Mori, orang nomor dua di Ohkuma Group. Konon, dia juga baru pindahan dari UD Trucs (ex. Nissan Diesel) dan sekarang diberi kepercayaan luas untuk menjadi menjadi tangan kanan Presiden Direktur Ohkuma Pusat. Wawancara itu berlangsung lancar. Tetapi dari awal dia bilang kalau penentuku adalah Presdir yang sayangnya hari itu sedang keluar dan mungkin tidak bisa menemuiku. Di tengah wawancara, tiba-tiba Big Boss Ohkuma (Mr. Takashi Ohkuma) pulang dan segera ikut mewawancarai aku. Orangnya tinggi besar dan masih muda, hanya 2 tahun di atasku. Dia generasi kedua yang memimpin perusahaan ini. Takashi muda menerima tongkat kepemimpinan perusahaan pada tahun 1990. Ditangannya pula pabrik di Jepang diperluas dan mulai ekpansi ke luar negeri. Orangnya ramah dan aku segera tahu kalau dia begitu menyukai perusahaan dan semua karyawannya. Meskipun hanya sekitar 5 menit, pertemuan tidak sengaja itu ternyata saat yang paling menentukan. Kalau tidak, mungkin aku harus menunggu wawancara berikutnya atau tidak lolos. Proses berikutnya tidak terlalu berbelit. Aku diterima sebagai karyawan di pusat dengan posisi deputy general manager (setingkat di bawah general manager ), gaji tahuhan lebih kecil dari perusahaan sebelumnya, tetapi konon yang tertinggi di antara semua karyawan Ohkuma. Dari awal diplot menjadi 141

41. Email Mantan Anak Buah di Cina “Setiap pilihan, pasti memiliki konsekuensi.” (Suyoto Rais) Di antara beberapa perusahaan yang serius untuk merekrutku, ada Grup Perusahaan Cina yang berpusat di Dalian. Namanya Peng Cheng Group. Pemilik dan chairman- nya , Bapak Xiu Peng Li, seorang lelaki berdarah Cina yang usianya sebaya denganku. Mereka banyak mengakuisi perusahaan Jepang yang hampir atau telah bangkrut dan kemudian mengubahnya menjadi perusahaan yang sehat serta untung. Utamanya sebagai produsen komponen plastik untuk spare part otomotif dan produk-produk elektronik. Rupanya Grup ini merekrut mantan manajerku waktu di Nidec Dalian dulu. Namanya Zhan Zhong Hua, seorang laki-laki Cina berusia sekitar 45 tahun dan sekarang menjadi orang kepercayaan chairman . Pertengahan tahun 2014 mereka baru saja mengakuisi perusahaan Jepang lain. Namanya Nagai Plastic Co. Ltd., produsen plastik injeksi juga. Email dari Zhan dialamatkan ke email pribadi, email pertama setelah berpisah lebih dari 2 tahun lalu. Ternyata hanya mengabarkan kalau dia juga mengikuti jejakku keluar dari Nidec dan sekarang bekerja sebagai kepala pabrik di perusahaan Jepang lainnya. Email kedua mengabarkan kalau dia akan ke Indonesia untuk melihat pabrik cabang di Indonesia yang baru diakuisi oleh perusahaannya. Di email ketiga dia cerita kalau sebenarnya perusahaan di Indonesia bermasalah dan ingin merekrut orang Indonesia yang sekiranya mampu untuk memperbaiki pabrik di Indonesia tersebut. Aku segera memberikan referensi beberapa kenalan sesama alumni Jepang yang memiliki posisi baik di perusahaan Jepang di Indonesia. Tetapi dia menolak semuanya. “Saya sebenarnya berharap Suyoto san sendiri yang mengajukan diri. Kalau misalnya gaji, tunjangan dan lain-lain bisa memenuhi standar yang diminta, apakah mau bergabung dengan perusahaan kami? Maaf kalau email ini kurang berkenan...” demikian dia menulis email dalam bahasa Jepang yang cukup baik. 147

14. (Sekali lagi, saya berterima kasih yang sedalam-dalamnya. Mohon juga bimbingannya mulai dari sekarang) Demikian percakapan itu aku akhiri dengan ucapan terima kasih beberapa kali, dan aku berharap setelah di Jepang nanti ada kesepatan untuk bertemu langsung dengannya. Selama ini kami hanya komunikasi lewat skype , telepon dan email . Sayangnya sampai akhir tugasku di Nidec pun, aku belum pernah bertatap muka dengan agen yang mengirimkanku tersebut. Sebenarnya aku tidak perlu risau. Para agen head hunter sudah menerima introduction fee lumayan tinggi setelah berhasil memasukkan kandidatnya ke perusahaan. Semakin tinggi posisi dan gaji yang didapat, semakin tinggi pula fee yang didapat. Aku sendiri tiak perlu tahu dan tidak perlu merasa berhutang budi. Itu murni bisnis mereka. Tetapi aku sangat bersyukur bisa kenal dengan agen-agen yang baik. Bisa dipanggil ke wawancara pertama atau tidak konon banyak ditentukan oleh agen juga. [] “Saya kenal Dr. Suyoto sejak kuliah di Nagoya. Senior dari Osaka yang bekerja di Nagoya setelah lulus S3. Dia masih sering datang untuk mengikuti aktivitas mahasiswa di Nagoya meskipun sudah tidak lagi di kampus. Hubungan kami seperti saudara sendiri dan itu berlanjut sampai pulang ke Indonesia. Sambil berdiskusi untuk Indonesia yang lebih baik dari kaca mata masing-masing. Dan setiap kali bertemu, tidak jarang memberikan kartu nama baru karena sudah berganti perusahaan. Langka WNI yang bisa menjadi ekspatriat Jepang di 5 perusahaan berbeda, dan sabahat saya Dr. Suyoto bisa. Bukunya pasti menyenangkan untuk dibaca.” Dr. Andin Hadiyanto Staf ahli menteri keuangan dan komisaris PLN, kawan di Jepang 120

24. Japan, pemegang saham mayoritas di Ichikoh. Nakano San terlihat sekali sangat berwibawa. Orangnya terkesan sangat sibuk, kata-katanya cepat dan pendek, dan perlu jawaban yang praktis juga. Ketika ditanya apa yang terpenting di dalam mengelola pabrik, saat itu aku bilang, yang paling penting selalu berorientasi ke genba (lapangan) , genbutsu (barang riil), dan genjitsu (data aktual) untuk memastikan kondisi yang sebenarnya . Setelah jawaban itu, beliau terlihat sangat antusias bertanya dan mendengar penjelasanku lebih lanjut. Beliau ternyata sama-sama suka genba juga. Kami akhirnya berdiskusi tentang masalah-masalah di kantor Indonesia, dan waktu wawancara hampir satu jam. Aku mulai percaya diri, dan di akhir wawancara, dia bilang aku diminta menunggu sebentar di ruangnya. GM Personalia akan datang memberitahu jadwal selanjutnya. Sementara dia sendiri ada keperluan lainnya. Aku bilang terima kasih untuk waktu wawancara kali ini. Tak berapa lama, GM Personalia yang mewawancarai aku pertama kali datang sambil tersenyum. “Anda telah memenangkan pertandingan dengan Direktur Nakano. Beliau tertarik sekali dan memberikan penilaian sangat baik. Wawancara hari ini rencananya sudah selesai, tetapi mendadak ada tambahan satu lagi. Direktur administrasi, atasan saya, juga ingin menemui Anda.” Plong rasanya! Ada kesempatan tambahan. Waktu sudah lewat jam kantor, tetapi aku setia menunggunya. Pewawancara berikutnya Direktur Shida, mungkin usianya baru sekitar 50-an dan masih terlihat muda. Wajahnya sangat ramah dari awal. Dan ternyata kami hanya mengobrol santai di sekitar masalah pribadi dan hanya menyinggung pekerjaan sedikit. Dia lebih banyak tanya alasan kepindahanku pindah kerja dari Nidec. Dia juga cerita kalau punya anak satu yang masih duduk di SMA. Di akhir wawancara dia memberikan kartu namanya. Aku merasakan ada tambahan angin segar. Dan wawancara hari ini telah kulalui dengan baik. Malamnya sesampai di hotel, aku mencoba merangkum masalah- masalah utama di Ichikoh Indonesia yang kudengar melalui wawancara hari ini dan mencoba memberikan usulan penyelesaian yang menurutku perlu dilakukan untuk memperbaikinya. Email kukirim langsung ke Direktur Shida sambil mengucapkan terima kasih atas waktu yang diberikan hari ini dengan harapan bisa diteruskan ke para pewawancara lainnya. 130

21. Mission Possible dan Proyek Nidec yang Terhenti “Jangan jadikan uang sebagai tujuan. Sebab, uang itu mengikuti seiring keahlianmu.” (Suyoto Rais) Di Cina aku bisa bekerja dengan baik. Misi yang dibebankan jalan baik, dan target juga terlampaui. Salah satu kelebihan Nidec adalah dalam mengendalikan biaya internal. Semua bagian diberi target dan budget ketat, dan semua paham angka-angka yang harus dicapai. Istilahnya, KPI ( Key Performance Indicators ) dan control item jelas. Itu sangat membantuku untuk mempercepat pencapaian target perusahaan. Presdir dan juga orang-orang di Dalian sering beberapa kali memuji kemampuanku mengkoordinir para staf. Memotivasi mereka bekerja dengan penuh semangat, dan juga kemampuanku bersahabat dengan orang-orang Cina dan jepang, termasuk di luar divisi. Semua memberikan nilai plus buatku. Kepala divisi otomotif juga pernah ” kepeleset ” berbicara kalau tahun depan, ia akan mengusulkan ke pusat agar posisiku dinaikkan. Riilnya kemampuanku sudah diakui di atas rata-rata GM pusat, hanya usia dan pengalaman kerja di Nidec yang masih sedikit saja yang jadi kendala. Aku mengucap terima kasih untuk semuanya. Pada prinsipnya, aku tidak terlalu memikirkan posisi dan juga gaji. Itu biarlah orang-orang atas yang menentukan. Aku hanya berpikir bagaimana misiku bisa berhasil, bagaimana membuat para anak buahku bisa bekerja nyaman dan mempercayaiku, bisa berinteraksi baik dengan para pihak terkait baik internal maupun eksternal, dan terakhir bisa mendukung atasan langsungku, Mr. Nakayama. Aku juga tidak akan segan protes pada saat atasan perlu diprotes, tetapi tujuannya untuk kebaikan semua. Dan cara penyampaiannya juga dengan cara yang sopan dan mudah dimengerti. Jelasnya, aku semakin dipercaya di Dalian. Akhir tahun 2011, Mr. Nakayama menyodorkan draft organisasi divisi otomotif tahun depan. Riilnya, aku diminta menggantikannya, sementara dia lebih kepada fungsi vice president untuk melaporkan ke orang-orang atas di kantor pusat dan menjalin kerja sama dengan 127

18. Nidec juga banyak menerima manajer dan engineer dari luar. Mungkin mereka yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun tidak sampai 20 persen, dan untuk level manager dan kepala engineer ke atas rata-rata dari luar Nidec. Jadi, Nidec bisa berkembang pesat karena keterbukaannya menerima karyawan luar, tidak terlalu memasalahkan lama kerja di Nidec. Tetapi semua diberi arahan dan dasar yang jelas agar selalu bekerja dan bersikap yang sesuai dengan Nagamori-isme . Banyak info-info miring mengenai Nidec. Misalnya kerjanya sangat berat, sulit mengambil cuti, apa kata big boss harus dituruti tanpa ada protes sedikit pun, dan isu-isu lainnya. Kalau kita mencari di internet bahasa Jepang di bagian kaskus atau istilah Jepang ” Ni men kiji (tulisan halaman belakang)”, banyak sekali info- info kurang baik mengenai Nidec, terutama mengenai karyawannya yang kurang happy dengan suasana kerjanya. Tetapi aku sendiri merasa tidak menemukan isu- isu negatif tersebut. Aku juga bisa bangga menggunakan simbol Nidec di jas yang kupakai pada saat naik kereta atau berada di tempat-tempat umum. Nidec juga memiliki nilai tambah sebagai perusahaan besar di Jepang yang membanggakan karyawannya. [] “Saya adalah WNI pertama yang masuk ke NIDEC (Japan) dan Pak Suyoto orang keduanya. Saya bekerja sebagai desainer motor di Research Center di Tokyo, sementara beliau chief Manager di kantor pusat di Kyoto dan segera ditugaskan sebagai ekspatriat di Cina. Kemudian kami memilih jalan ke depan sendiri-sendiri yang mudah-mudahan bisa lebih baik untuk semuanya dan bisa memberi kontribusi untuk kemajuan Indonesia.” Ricky Elson Mantan kolega di NIDEC Corp. dan ahli teknologi motor dan pendiri/peneliti energi terbarukan di Lentera Angin Nusantara, Tasikmalaya 124

30. dan produktivitas kami kontrol per orang. Diperjelas masing-masing input dan output -nya. Aku juga sering berpindah meja. Bukan di kantor yang ber AC, tetapi di tengah- tengah mesin pabrik atau ware house , jelasnya ke genba yang kulihat ada masalah. Dengan kepindahanku “ ngantor ”, ternyata berpengaruh ke kinerja orang-orang di sekelilingku. Menjelang akhir tahun 2011, berturut-turut selama tiga bulan terakhir sejak Oktober, laporan keuangan Ichikoh sudah menunjukkan tendensi surplus lagi. Aku mulai lega, usaha keras bersama telah membawa hasil. Situasi di Ichikoh Indonesia mulai stabil. Namun, tiba-tiba ada perintah dari kantor pusat untuk menerapkan best practices di Indonesia ke Thailand. Aku akan dipindah-tugaskan menjadi kepala pabrik di Thailand mulai April 2012 nanti. Kantor pusat meminta dan setengah merayu. Kalau aku berhasil baik di Thailand, dalam waktu tidak lama aku pasti bisa kembali ke Indonesia untuk menjadi nomor 1 di Indonesia. Dan mereka yakin aku bisa. Aku juga ditawari untuk membawa keluarga dengan tanggungan perusahaan penuh. Atau tetap di Jakarta dan aku diberi tiket PP (pergi-pulang) Bangkok—Jakarta dua minggu sekali. Gajiku di Thailand juga akan dinaikkan. Aku berpikir cukup lama dan berembug dengan keluarga. Mereka mendukung apa pun keputusanku. Tetapi untuk pindah ke Thailand mungkin agak berat karena anak-anak sudah memiliki lingkungan sekolah dan teman-teman bermain. Banyak yang tidak bisa diganti dengan uang dan fasilitas. Aku akhirnya memutuskan untuk menerima pindah ke Thailand dan keluarga tetap di Jakarta dan diberi kesempatan pulang 2-3 minggu sekali. Atau saat anak-anak libur sekolah, mereka diberi tiket pp ke Bangkok. Semua dikabulkan. April 2012 aku mulai bertugas di Thailand. Pabrik di Thailand baru dibangun Oktober 2011. Dua kali lebih luas dari pabrik di Indonesia. Sistemnya banyak yang baru akan di- setting , termasuk penerimaan karyawan dan kontrol di pabrik. Tugas utamaku mencari kandidat karyawan yang baik, memposisikan karyawan yang lama agar efisien dan membuat sistem kontrol yang baik di pabrik. Kesulitannya adalah komunikasi. Tidak semua karyawan bisa mengerti bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Untuk ke lapangan, aku mengandalkan interpreter, tetapi tentunya terbatas juga. [] 136

36. ekspatriat ke Indonesia dengan posisi vice president. Posisi di Indonesia sesuai dengan keinginanku. Pada saat yang tepat nanti, kalau dirasa sudah mampu baru siap memegang kendali. Dan aku juga minta, kalau perusahaan sudah memperoleh profit, gaji dan fasilitasku ditinjau kembali. Minimal perusahaan untung dan aku bisa mendapatkan hak-hakku seperti sebelumnya. Mereka menyetujuinya. Dan aku segera menandatangani kontrak. Desember 2013 aku pindah lagi ke Ohkuma Jepang. Awalnya mengikuti training sebulan di kantor pusat. Pertengahan Januari 2014, aku sudah boleh pulang ke Indonesia. Awalnya kami bekerja di ruko Deltamas, bersama tiga ekspatriat Jepang. Aku benar-benar merasakan membangun perusahaan dari mendekati nol. Mengetahui sendiri betapa sulitnya mengejar target waktu di Indonesia kalau sudah berhubungan dengan instansi Indonesia dan beberapa vendor lokal. Mengetahui dengan mata kepala sendiri kalau di lapangan masih banyak pemungutan liar dengan berkedok keamanan, bakti sosial dan lain-lain. Untuk mendatangkan tenaga expert dari Jepang juga tidak semudah yang kubayangkan. Meskipun hanya datang untuk setting mesin selama beberapa hari, mereka tetap diwajibkan untuk memiliki KITAS yang memerlukan waktu tunggu lebih dari seminggu di Indonesia. Hal-hal itu merupakan pengalaman baru yang tidak pernah kujumpai waktu bertugas di Cina dan Thailand. Mengenai visa para ekspert ini, aku mencoba menulis surat ke Dubes di KBRI Tokyo. Entah ada efek surat itu atau faktor lainnya, akhirnya para petugas visa KBRI menyarankan untuk mengurus Visa 212 ( multiple business ) untuk para expert yang akan bertugas di Indonesia. Mereka akan mendapatkan visa selama setahun dengan masa tinggal maksimal 60 hari setiap kali kunjungan. Sebelumnya, semua konsultan visa berkata tidak bisa mengurus Visa 212 langsung sebelum orang yang bersangkutan pernah memiliki Visa 211 ( single business ), dua sampai tiga kali sebelumnya. Ternyata aturan abu-abu di Indonesia kalau kita jelaskan sungguh-sungguh masih bisa diperbaiki. Para expert Ohkuma akhirnya bisa mendapatkan Visa 212 dan bisa datang setiap saat ke Indonesia. [] “Bila keberhasilan belum diraih, gunakan ‘jalan lain’ untuk bisa meraihnya.” (Suyoto Rais) 142

15. Debut Karierku di Nidec “Ya, suasana baru memang senantiasa hadirkan semangat yang terbarukan.” (Suyoto Rais) Aku mulai bekerja di Nidec pada bulan Mei 2011. Aku direkrut di kantor pusat Kyoto sebagai Chief Manager . Tetapi dari awal sudah diplot sebagai Direktur Produksi di Nidec Cina. Di kantor pusat, afiliasiku di International Business Administration dan mejaku di Shiga Technical Center. Di kantor baru berlantai 7 ini, aku diberi meja persis di sebelah meja Mr. Sasaki, General Manager of Production Engineering yang membawahi production engineering seluruh Nidec Group. Aktualnya adalah Kepala Divisi Production Engineering di Nidec. Posisi duduk di tengah-tengah dan paling belakang sehingga bisa melihat para karyawan dengan posisi manajer ke bawah yang dikelompokkan menjadi beberapa grup. Di Nidec, posisi tempat duduk ternyata sangat diperhatikan. Mulai dari saat menerima tamu, saat meeting dan lebih-lebih saat bekerja sehari-hari. Padahal, bagi sebagian orang, mungkin hal ini adalah sesuatu yang kurang penting dan berpengaruh. Di lantai yang dipenuhi sekitar 500 orang karyawan ini, mungkin aku satu- satunya karyawan asing dan satu-satunya orang baru yang duduk di ”kursi belakang” sejajar dengan Kepala Divisi. Ada selentingan kabar, paling lama aku akan bertugas ke Cina selama 3 tahun. Setelah penugasan di Cina, proyek bisnis baru di tanah air pun telah menunggu. Dan tampaknya, aku berpotensi untuk dipilih sebagai salah satu pionirnya. Ini dia yang sebenarnya aku tunggu! Bisa kembali pulang dan menambah lapangan kerja di Indonesia. Gedung Nidec berlokasi di dekat stasiun Kyoto. Jadi, gedung ini cukup mudah dilihat dari kereta. Konon, Nidec merupakan bangunan tertinggi di Kyoto, dengan ketinggian 100,6 meter. Kyoto yang padat dengan nilai sejarah dan budaya, memang melarang bangunan tinggi lebih dari standar yang ditetapkan. Konon kantor Nidec 121

39. Apakah Ohkuma Pelabuhan Terakhirku? “Hubungan interaksi, tidak cukup sekadar saling mengenali tapi juga harus saling memahami.” (Suyoto Rais) Awal November 2014 aku diundang ke Tokyo untuk mewakili Ohkuma Indonesia. Saat itu presiden direktur tidak diundang, dari awal saya yang diminta melakukan persiapan dan membikin laporan terkait pabrik di Indonesia. Saat pertemuan para Leader Ohkuma Group itu, Big Boss mengumumkan pergantian presiden direktur di Indonesia. Dari preseiden direktur saat ini ke Bapak Yamaji. Bersama Bapak Yamaji, aku diminta memimpin Ohkuma Indonesia. Usianya sekitar 55 tahun dan fasih berbicara bahasa Indonesia. Dia ditunjuk sebagai pimpinan di Thailand dan sekaligus support Indonesia, terutama di dalam mencari pelanggan baru dari grup Astra yang banyak dikenalnya. Bapak Yamaji ternyata bukan hanya bisa berbahasa Indonesia, tetapi juga sangat mengerti tatacara dan budaya di Indonesia, mengerti perasaan orang-orang Indonesia dan mudah bergaul dengan siapa saja. Aku sangat terbantu dengan kehadirannya sesekali di Ohkuma Indonesia, dan karena ada dia pula aku bisa menyisakan sebagian waktuku untuk tetap mengajar di ITB dan mengikuti beberapa aktivitas sosial atau bisnis di luar kantor. Dari Indonesia, aku mengajak dua manajer dan engineer -ku atas izin dari big boss . Saat itu, udara di musim gugur sudah sejuk mendekati dingin. Daun-daun berubah warna cantik, kunging cerah, ungu dan lain-lain yang biasa disebut ” Momiji Collor ” dan bisa kita jumpai di gunung-gunung dan area yang banyak pepohonannya di Jepang. Dua orang stafku menikmati perjalanan tersebut. Mereka baru pertama kali ke Jepang, dan merasa senang bisa ”jalan-jalan” bersamaku. Big boss sendiri sangat perhatian terhadap semua karyawannya. Meskipun beliau cukup tegas, tetapi dalam perhatian ke karyawan memang perlu diacungi jempol. Beliau juga sengaja memilih saat yang paling tepat, termasuk pemilihan musim, untuk pergi ke Jepang. Tujuannya agar staf Ohkuma dari luar negeri senang 145

13. Offering Letter yang Kutunggu “Tidak terlalu penting untuk menceritakan siapa kita, karena kerja nyatalah yang menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya.” (Suyoto Rais) Beberapa hari setelah sampai di Jakarta, ternyata ada email langsung dari personalia Nidec. Tawaran resmi untuk masuk ke Nidec dengan posisi awal sebagai chief manager kantor pusat dan akan ditugaskan di kota Dalian, Cina. Gaji dan fasilitas yang ditulis juga angka-angka yang cukup mengagetkanku. Kemudian, beberapa saat setelahnya, ada juga info dari agen yang mengucapkan selamat. Dia bilang, orang-orang atas di Nidec sangat kagum dengan ide-ide dan juga semangat bekerja yang terlihat pada saat wawancara dan kunjungan ke pabrik lalu. Ada juga yang mengusulkan untuk memposisikanku langsung sebagai GM, tetapi karena usiaku yang terbilang muda, khawatir justru malah akan menjadi kendala bagiku nanti. Aku pun mengucap terima kasih dan bilang kalau posisi dan gaji yang ditawarkan telah melebihi dari apa yang kuharapkan. Di Wintec yang notabene masih berstatus sebagai salah satu supplier magnetic wire ke Nidec, aku ”cuma” diposisikan sebagai assistant manager di kantor pusat. Tetapi di Nidec, aku bisa diangkat 2 tingkat di atasnya menjadi chief manager , satu tingkat di atas manager dan sedikit di bawah general manager . Aku mulai memiliki semangat tinggi dan memiliki rasa percaya diri kembali. Ternyata benar kata orang bijak, ”Tuhan tidak akan mencoba di luar kemampuan kita.” Aku benar-benar sangat bersyukur dan ingin segera kembali ke Tokyo untuk menemui agen yang telah mengantarkanku menerima offering letter itu. Aku patut berterima kasih kepadanya. Dan segera kutelepon dari Jakarta, dia hanya tertawa saja. ”Anda wajar untuk dapat seperti itu. Tidak usah memikirkan saya. Itu tugas saya, dan saya ikut senang bangga bisa membuat Anda kembali menemukan diri dan menemukan karier di Jepang. Good luck , Suyoto San.” ” Hontoni arigatou gozaimashita. Ganbarimasu node, kongo tomo yoroshiku onegaiitashimasu. ” 119

17. Training Sebelum Merantau Ke Cina “Manusia hebat, biasanya memiliki karakter yang kuat.” (Suyoto Rais) Sebelum bertugas ke Cina, aku di- training di Shiga Technical Center . Ini adalah pusat pengembangan motor aplikasi di seluruh grup Nidec. Motor-motor Nidec sebagian besar adalah jenis small precission motor yang digunakan di komputer dan peralatan elektronik lainnya. Baru beberapa tahun terakhir ini mulai mengembangkan motor untuk otomotif yang produksinya dipusatkan di Cina. Kantor dan pabrik Nidec sangat bersih. Hari pertama yang diajarkan di Nidec adalah bagaimana kita menjaga 5S (atau istilah lainnya di Indonesia 5R, yaitu ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) dan bersikap sebaik-mungkin di dalam menjaga hubungan dengan sesama orang, termasuk pelanggan, tamu, atasan, bawahan dan pihak-pihak terkait lainnya. Nidec juga memiliki slogan ” All for Dreams ” juga memiliki tiga spirit utama yang dicetuskan oleh Bos Nagamori yang selalu dilestarikan pelaksanaannya di seluruh grup Nidec, yaitu sebagai berikut. (1) Jounetsu / netsui / shinnen (semangat/kesungguhan/kepercayaan diri), (2) Chiteki hard working (kerja keras menggunakan otak), (3) Sugu yaru / kanarazu yaru / dekiru made yaru (segera kerjakan/pasti mengerjakan/mengerjakan sampai berhasil). Slogan dan spirit tersebut dibuat menjadi poster-poster menarik dengan foto, ilustrasi dan bahasa yang mudah dimengerti dan dipajang di banyak tempat, baik di lingkungan kantor maupun pabrik. Nidec juga menerbitkan buku panduan khusus untuk membuat seluruh orang Nidec mengerti dan melaksanakan dengan benar. Pada saat menilai kinerja karyawan pun selalu dimasukkan seberapa pendalaman dan implementasi ” Nagamori-isme ” ini, sehingga dari awal sudah dijelaskan kalau kinerja dinilai dari 3 faktor, yaitu poendalaman dan pelaksanaan filsafat Nidec ( Nagamori-isme ), kesungguhan bekerja, serta kemampuan pribadi dan tim. Pada akhirnya semua akan mengerucut menjadi angka-angka yang bisa dikonversi menjadi waktu dan biaya. 123

Views

  • 79 Total Views
  • 60 Website Views
  • 19 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 1

  • 1 ijb-net.org