Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 4] p083-106

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

4. Aku pernah ditugaskan ke Ceko pada saat Denso membangun pabrik baru di sana. Foto bersama para kolega dan relasi bisnis pada saat bertugas ke Ceko. Di sini aku mencoba memahami budaya kerja Orang Eropa Pesta perpisahanku di Nagoya bersama kolega dan atasan di Denso. Pria yang berdiri di tengah adalah Dr. Fumio Kojima, direktur Denso yang merekrutku dan sampai sekarang masih menjalin hubungan baik 86

14. pamit akan beristirahat dulu. Seperti ada firasat tidak baik, aku segera terbangun di tengah malam dan merenung apa arti mimpi tersebut. Esok harinya aku menerima telepon dari keluarga di kampung kalau kakek sudah berpulang semalam tanpa ada orang lain yang tahu. Sebelumnya masih sempat bercanda dengan keluarga di rumah dan tidak seorang pun yang mengira pada saat pamit ke tempat tidur adalah pamitannya yang terakhir. Seharian itu aku tidak ke kantor dan menangis di kamar sambil menghidupkan telepon terus mengikuti prosesi pemakamannya. Kejadian-kejadian di atas membuat aku semakin yakin kalau harus pulang ke Indonesia secepatnya. Aku tidak mau lagi ada keluarga dan orang terdekatku yang berpulang tanpa aku bisa mengantarkan ke pamakamannya. Aku segera meminta ke Denso untuk ditugaskan ke Denso Indonesia. Denso memiliki 2 pabrik di Jakarta dan Bekasi dengan jumlah karyawan lebih dari 2.000 orang. Tentu saja aku tetap minta ditugaskan sebagai ekspatriat Jepang, bukan karyawan lokal. Sayangnya permintaanku tidak dikabulkan. Denso belum memiliki sistem yang pas untuk karyawan asing sepertiku. WNI yang menjadi karyawan pusat di Jepang dan ditugaskan di Indonesia sebagai ekspatriat Jepang. Ada faktor psikologis yang perlu dipertimbangkan. Semua ekspatriat Denso ke luar negeri selama ini hanya untuk mereka yang berkewarganegaraan Jepang. Jadi ada dua pilihan sulit, aku berganti paspor Jepang atau berganti status karyawan menjadi karyawan lokal. Ada juga tawaran untuk ditempatkan di kantor cabang di negara-negara ASEAN lainnya. Atau kalau aku mau, juga ada tawaran ke Eropa dan Amerika. Tentu saja alternatif ini aku tolak semua. Termasuk tawaran menjadi karyawan lokal dengan posisi atas dan gaji yang tidak jauh beda dengan yang kuterima di Jepang. Aku hanya ingin satu opsi: tetap menjadi karyawan Jepang tetapi bertugas di Indonesia. Terakhir, atasanku tetap berusaha membujukku kalau sebenarnya sudah merencanakan kenaikan pangkat menjadi manajer dalam waktu tidak lama lagi. Tetapi ini pun tidak lagi menarik buatku saat itu. Aku berterus terang ke atasan kalau sudah mulai mencari perusahaan lain yang mau menerimaku sebagai karyawan di Jepang tetapi menugasiku di Indonesia. Ada empat perusahaan yang menerimaku. Semua mau merekrutku sebagai karyawan pusat dan menugasiku sebagai ekspatriat di Indonesia. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih Sumitomo Electric Wintec, anak perusahaan Sumitomo Electric Industry (SEI) Group yang berkantor pusat di Osaka. [] 96

1. 4 Metamorfosa Profesional Global “Masa depan itu ditentukan oleh diri kita sendiri.” (Suyoto Rais)

20. Seingatku aku pernah memberikan kartu nama ke ayah pada saat bertemu dulu. Di situ tertulis jelas Dr. Suyoto Rais, Asistant Manager of Production Engineering Department , DENSO Corporation. Kujelaskan, nama ayah sudah tidak akan terpisahkan dengan namaku lagi sekarang. Ayah sempat mengusap matanya beberapa kali dan terlihat sangat bahagia saat itu. Dia juga sempat bilang mohon maaf selama ini hanya bisa mengirimi doa saja. Begitulah mungkin normalnya. Meskipun aku hampir tidak pernah dibimbing dan dibesarkan oleh ayah, aku tetap saja memiliki tempat khusus buatnya. Aku juga yakin, ia tetap mengingatku dan mendoakan kesuksesanku selamanya. Sebelum meninggal, konon ayah sempat koma lama sekali. Mulai tidak sadar sejak selesai Maghrib, dan sampai pagi hari berikutnya masih tetap terbaring tanpa bisa apa-apa. Adik-adikku yang menunggui menjadi kebingungan. Beberapa kyai juga diminta untuk membimbing dan mendoakan ayah agar bisa segera pergi dengan tenang. Tetapi tetap saja tidak bisa, seperti ada sesuatu yang ditunggu. Saat itu adikku ada yang terpikir untuk meminta aku menelpon ke Kalimantan Selatan lewat istriku di Jakarta. Aku pun menurutinya untuk menelepon dan setelah mendengarkan penjelasan dari adik-adikku, aku minta agar pesawat telepon di dekatkan ke telinga ayah. Aku tahu ayah sudah tidak bisa bicara, tetapi mungkin masih bisa mendengarkan suaraku di gagang telepon. Benar saja, hanya suara nafasnya yang tidak beraturan. Aku mulai cerita kalau aku mohon maaf tidak bisa menunggui ayah di saat-saat terakhir. ”Aku juga sudah mengikhlaskan dan memaafkan semua kesalahan ayah. Meskipun aku tidak bisa bersama ayah seperti adik-adiku lainnya di Kalimantan, tetapi aku selalu mengenang dan bangga menjadi anak ayah. Nama belakang yang kupakai di semua identitasku sekarang pun, adalah nama ayah. Aku tahu ayah juga selalu memikirkanku, dan hanya kondisi dan keterpaksaan yang memisahkan kita waktu itu. Tetapi selamanya aku adalah anak ayah. Begitu juga adik-adik di Kalimantan adalah darah dagingnya juga. Ayah tidak perlu kawatir dengan kami, aku mengikhlaskan kepergianmu...” Aku tidak ingat persis apa saja yang kuucapkan saat itu, berapa lama aku menelepon sepihak. Kata adik-adikku saat menerima teleponku, ayah terlihat mulai tenang. Dan beberapa saat setelah telepon kututup dengan deraian air mata, ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku baru bisa menengok makamnya bersama anak-istriku beberapa bulan setelah aku bisa pulang ke Indonesia. [] 102

9. Memahami Budaya Kerja di Eropa “Fasilitas bekerja akan didapatkan seiring dengan kualitas bekerja.” (Suyoto Rais) Setelah menjadi karyawan tetap, aku sempat dikirim ke Eropa hampir 6 bulan sebagai tim inti untuk mempersiapkan pabrik baru di Ceko yang menjadi sentra produksi Denso di Eropa. Ada kenangan tersendiri yang membuatku lebih mengenal temperamen karyawan Denso di luar Jepang. Orang-orang Ceko dan mungkin juga Eropa secara umumnya tidak suka menggunakan topi kerja. Kalau dipaksakan ada yang lebih memilih keluar. Topi bisa mengacaukan rambut dan kurang keren saat pulang kerja. Sementara orang-orang Jepang sangat taat aturan, topi bisa melindungi kepala apabila ada benda kerja atau serpihan lain yang jatuh mengenai kepala. Orang-orang Ceko juga tidak suka kerja lembur dan minta libur penuh di hari Sabtu dan Minggu. Mereka lebih suka pulang cepat, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman untuk makan-minum santai di rumah, restoran atau tepi-tepi jalan. Aku beberapa kali mengikuti ajakan stafku di malam hari atau pada saat hari libur. Main squas dan makan di restoran Ceko. Setelah itu, stafku selalu tanya acara akhir mingguku. Kalau aku bilang ke kantor karena ada yang mendesak, dengan suka rela mereka pun ikut datang membantu agar pekerjaan cepat selesai dan kami bisa makan bersama lagi. Sementara orang-orang Jepang lainnya di setiap akhir pekan atau liburan, biasanya melancong ke Jerman atau tetangga-tetangga Ceko lainnya. Mereka bisa keluar dan masuk bebas tanpa mengurus visa. Kadang ada rasa iri, kenapa orang Jepang bisa seperti itu, sementara orang Indonesia tidak. Aku juga kesulitan mengurus visa keluar Ceko. Pernah juga terpikir untuk berganti kewarganegaraan demi kepraktisan itu. Kebetulan ada beberapa orang Jepang yang sanggup menjadi penjamin dan konon karyawan Denso tidak akan dipersulit untuk mendapatkannya. Tetapi, aku akhirnya mengurungkan niat berganti warganegara itu. Meskipun hanya masalah administrasi, tentu akan berpengaruh lain untuk orang-orang di sekelilingku, terutama keluarga dan para sahabat di tanah air. 91

13. Kepergian Orang-orang Tercinta yang Membuatku Ingin Pulang “Berkumpul bersama orang-orang tercinta adalah sesuatu yang sangat dirindukan setiap orang.” (Suyoto Rais) Aku benar-benar menikmati hidup di Jepang selama di Denso. Tetapi aku tetap saja orang Indonesia yang merindukan suatu saat bisa pulang ke tanah air tercinta. Jepang hanyalah tanah air keduaku yang memberiku nafkah dan berbagai pengalaman hidup. Maka pada saat yang tepat, aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Saat bekerja di Denso, aku telah kehilangan orang-orang tercinta tanpa aku bisa mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Pertama, K.H. Mawardi, orang yang memberi tumpangan gratis di pondok pesantren selama 3 tahun waktu di SMA. Cucunya Zainudin dan Kak Ali Dimyati yang menjadi sahabatku selama di pondok juga berpulang karena sakit. Juga anak dan menantunya yang sering memberiku lauk-pauk dan makanan lainnya. Kedua, Pak Soehardjo, dosen senior di ITS yang memberiku tumpangan gratis dan selalu memberikan semangat kepadaku selama 6 bulan di Surabaya. Beliau menghembuskan napas terakhir karena serangan jantung tak beberapa lama setelah masa pensiun sebagai dosen ITS. Terakhir, kakek di kampung yang bersedia melakukan apa saja agar aku bisa sekolah. Masih untung selama sakit aku sempat pulang dan menungguinya di rumah sakit selama beberapa hari. Setelah menunjukkan tanda-tanda membaik, diizinkan pulang ke rumah. Selama itu aku selalu tidur di sampingnya sambil cerita-cerita masa kecilku bersamanya. Konon aku cucu tersayangnya yang selalu merindukan tempat di sisi kakek di mana pun berada. Aku kembali ke Jepang karena izin cuti seminggu sudah habis. Kondisi kakek juga membaik dan dia bilang tidak perlu khawatir. Itu terjadi di bulan Juli 2007. Beberapa hari setelah aku kembali ke Jepang, pada hari Kamis malam aku sungguh mimpi aneh. Bertemu kakek yang wajahnya lebih muda dari biasanya dan 95

16. ditugaskan sebagai manajer di Wintec Indonesia. Aku juga tidak dibedakan dengan karyawan Jepang di kantor pusat lainnya. Inilah yang sesungguhnya kucari. Aku ingin orang-orang melihatku bukan sebagai seorang WNI, tetapi seorang profesional penuh. Aku mulai masuk Wintec dengan berbagai harapan baru. Di Wintec, aku ditempatkan di Production Engineering , bagian yang memikirkan pengembangan lini produksi di seluruh grup perusahaan. Ini sesuai dengan bidang yang kupelajari ketika kuliah, dan juga bagian yang sama dengan pada saat bekerja di Denso. Maka aku segera bisa menyesuaikan diri tanpa kesulitan. Banyak sistem administrasi yang direvisi agar bisa menerimaku sebagai orang asing pertama yang direkrut di kantor pusat dan ditugaskan sebagai ekspatriat di negeri sendiri. Prinsipnya mereka akan menerimaku sama dengan orang Jepang lainnya. Punya tanggung-jawab dan juga hak-hak yang sama pula. Wintec juga sangat memerhatikan keluargaku. Pada saat baru masuk ke Wintec, aku diberi kesempatan untuk mengantar pulang keluargaku, mencari rumah kontrakan dengan tanggungan perusahaan, mencarikan sekolah anak-anak, family car, dan hampir semua ditanggung perusahaan. Padahal aku belum jadi ekspatriat, tetapi perusahaan telah memberikan fasilitas ekspatriat kepada keluargaku yang pulang terlebih dulu ke Jakarta. Itu semua demi menyambut ”seorang alumni Denso” bernama Suyoto. Semua perbaikan administrasi dan fasilitas tersebut langsung diinstruksikan oleh presiden direktur pusat sehingga semua berjalan cepat dan tanpa ada yang menentang. Direktur administrasi juga sangat mendukung, jadi aku benar-benar seperti dimanjakan di sini. Tinggal aku selalu berpikir keras, apa yang secepatnya bisa aku kontribusikan ke perusahaan. Rencana aku akan menjalani masa kerja selama 3 tahun di kantor pusat, setelah itu baru full ditugaskan sebagai ekspatriat di Indonesia. Selama masa tugas di Jepang tersebut, keluarga di Jakarta mendapat jaminan penuh seperti keluarga ekspatriat Jepang lainnya. Aku juga diberi kesempatan untuk berada di tengah-tengah keluarga di Jakarta selama setahun pertama agar mereka bisa segera beradaptasi di Indonesia. Wintec benar-benar banyak berharap kepadaku sehingga mereka juga tidak rugi memberikan yang terbaik untukku dan keluarga. [] 98

18. kepala sekolah bingung dan tidak langsung menerima. Sudah banyak anak-anak cerdas dan mampu yang antri, kata pihak sekolah. Aku pun meminta kebijakan sekolah dan memberi kesempatan katakanlah setahun saja kepada anakku. Kalau Perdana ternyata tidak bisa mengikuti pelajaran, silakan dikeluarkan. Kami juga siap memberikan les privat di rumah, menyediakan penerjemah di sekolah dan mendukung apa pun agar anakku bisa sekolah di SMP Al Azhar. Alhamdulillah, akhirnya pihak sekolah menerimanya. Sejak Juli 2008, Perdana bersekolah di SMP dan Aldian di SD yang bernaung di bawah Yayasan Al Azhar. Semester 1 berakhir, Aldi bisa menyesuaikan dengan kelas barunya. Perdana masih kesulitan, tetapi tidak ranking terbawah. Menjelang tahun pertama berakhir, anak-anak sudah semakin bisa menyesuaikan diri dan mendapatkan teman-teman baru, baik di sekolah maupun di rumah. Setelah anak istri pulang ke Indonesia dan menyelesaikan semua administrasi, aku kembali ke Jepang untuk memulai pekerjaan baruku di SEI, termasuk untuk keperluan training. Atas kebijakan khusus perusahaan, keluarga tetap menerima tunjangan dan fasilitas ekspatriat meskipun aku belum resmi ditugaskan ke Indonesia. SEI benar-benar memiliki harapan besar ke aku dan mau investasi merekrutku seperti itu. Selama di Jepang aku tinggal di mess perusahaan bersama orang-orang Jepang lainnya. Makan pagi dan malam di mess dan siangnya di kantor. Sabtu minggu dan hari libur adalah saat yang paling menyiksa karena tidak bisa bersama keluarga. Sudah sekitar 15 tahun aku selalu bersama keluarga. Saat-saat mengawali kehidupan ”lajang kembali” terasa sangat berat. Masih untung ada internet dan setiap malam bisa skype . Awalnya aku akan bertugas selama 3 tahun di kantor pusat. Setelah mengenal kultur SEI, kenal orang-orang terkait dan dirasa cukup bekal, baru akan ditugaskan ke Indonesia. [] 100

23. “Saya menghargai pilihan sahabat saya Suyoto untuk memilih berkarier di Jepang setelah selesai kuliah. Saya rasa, dia tetap bisa berkontribusi untuk negeri ini dari mana pun. Dia juga memiliki skill dan pengalaman yang pasti diperlukan oleh Indonesia untuk menghadapi persaingan global ini. Mari tetap kompak dan bersinergi selamanya.“ Dr. Wahyu Purbowasito Peneliti di Badan Standardisasi Nasional. Kawan seangkatan penerima beasiswa OFP-BPPT “Waktu masih kuliah di Osaka dulu, kami sering melewati akhir pekan dengan bermain badminton bersama. Selain mahasiswa yang rajin di kampus, dia orang yang aktif di banyak kegiatan mahasiswa Indonesia di Jepang, dan saya jadi terinspirasi untuk mengikutinya. Setelah lulus S3 kami segera terpisahkan oleh waktu dan tempat, tetapi masih sering kontak dan dia tidak pernah bosan untuk berbagi cerita mengenai bagaimana kita bisa tetap berkontribusi meskipun tidak jadi pegawai negeri. Saya turut senang dan menunggu kiriman bukunya setelah terbit.” Dr. Yulius Setiyadi Peneliti di ImmunoGen Inc., Boston-Massachusetts-USA. Kawan seangkatan penerima beasiswa OFP-BPPT 105

24. “Banyak orang Indonesia berprestasi yang “terpaksa” memilih karier di luar negeri karena di sana sering lebih kondusif untuk skill dan keahliannya. Saya pernah juga mendapat kesempatan untuk berkarier di Amerika, Jepang dan Negara lain. Tetapi meskipun kesempatan itu sangat menjanjikan, saya tetap memilih membangun kesempatan di negeri sendiri, meskipun pilihan ini terus terang sangat berat. Dr. Suyoto, sepertinya mampu memadukan keduanya. Jadi ekspatriat Jepang, tetapi mampu mengembangkan eksistensinya di Indonesia sambil tetap berpikir positif untuk bisa berbakti ke Tanah Air. Buku ini sangat inspiratif terutama bagi para ilmuwan dan tenaga ahli diaspora Indonesia yang ingin membaktikan ilmunya untuk bangsa, tetapi ragu akan kondisi di Indonesia.” Dr. Warsito Purwo Taruno Ahli tomografi penemu pembasmi kanker yang telah diakui dunia. Ketua umum MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) “Kami sering “ngobrol galau” pada waktu akan memutuskan untuk berkarier di luar negeri setelah lulus S3 dulu. Saya di akademik dan sahabat saya Suyoto di industri. Sebagai mantan penerima beasiswa pemerintah, kami memang seharusnya segera kembali ke Indonesia. Tetapi kesempatan untuk bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di tingkat global seperti ini juga tidak mudah didapatkan. Kontribusi untuk Tanah Air Tercinta bisa dilakukan kapan pun, dari mana pun dan dengan cara apa pun. Buku ini salah satu bukti yang bisa dijadikan referensi bersama.” Prof. Dr. Bambang Rudyanto Guru besar dan pengurus yayasan di Wako University, Tokyo. Kawan seangkatan penerima beasiswa OFP-BPPT “Setahu saya, Dr. Suyoto adalah tipe orang yang tidak suka diam dalam kemapanan. Saya mengenal beliau sejak masih sama-sama kuliah di Osaka. Saya turut menyambut gembira dengan terbitnya buku perjalanan hidupnya sebagai profesional global. Juga mendukung penuh gagasannya mendirikan Forum Studi “Formasi-G” yang akan dirilis bersama buku ini. Semoga kita bisa saling bersinergi membangun negeri ini.” Dr. Riza Muhida Wakil ketua umum I4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional), Director of Center for Robotics and Intelligent Machines, Surya University 106

5. Peneliti Indonesia Pertama di IMS-Japan “Jadilah yang terbaik dan bisa dipercaya.” (Suyoto Rais) Tugasku setelah masuk ke Denso mengikuti kolaborasi penelitian dengan perusahaan lain, universitas dan instansi pemerintah yang tergabung dalam kelompok penelitian IMS-Japan (Intelligent Manufacturing Systems) yang dikoordinir oleh METI (Kementerian Perdagangan dan Industri, Jepang). Program ini telah dimulai tahun 1998 yang lalu untuk mencari usulan penyelesaian terhadap masalah-masalah di industri global. Diusulkan pertama kali oleh Jepang, kemudian diikuti oleh Amerika dan Eropa. Negara Asia yang bergabung selain Jepang adalah Korea Selatan. Sejak tahun 2000 sudah menjadi sebuah konsorsium penelitian negara-negara maju. Di dalam Program IMS ini, ada beberapa proyek penelitian. Di mana setiap proyek harus dikerjakan bersama antara industri, universitas dan instansi penelitian. Ini dimaksudkan agar para peneliti dan para praktisi industri bisa memiliki interaksi yang memudahkan aplikasi dan kerjasama-kerjasama selanjutnya. Proyek penelitian yang kami ikuti namanya MISSION (Modelling and Simulation Environments for Design, Planning and Operation of Globally Distributed Enterprises). Selain DENSO pesertanya terdiri dari Shimizu Corporation (kontraktor besar di Jepang), Makino (pembuat mesin perkakas dan peralatan industri), universitas Osaka, universitas Hosei dan Osaka Prefecture University (almamaterku). Dari instansi penelitian ada Toyota Central R & D (salah satu think tank Toyota Group untuk penelitian dasar) dan Kikaishinkokyokai (Japan Society for the Promotion of Machine Industry). Sementara mitra dari Eropa ada IPK Berlin, Bosch, BMW, TU Berlin. Dan dari Amerika ada institusi standardisasi Amerika NIST dan GM. Di Konsorsium Penelitian IMS-Japan, barangkali aku satu-satunya orang asing yang direkrut. Tetapi semua peneliti Jepang tidak menganggapku sebagai orang asing. Mereka memberiku tugas dan target seperti anggota lainnya. Aku juga harus mempresentasikan progres dan hasil di tema penelitian yang kukerjakan di DENSO. 87

19. Mengantar Kepergian Ayah dengan Telepon “Satu persatu pergi dan tak kembali, hanya tanganNya yang abadi.” (Suyoto Rais) Ada kejadian yang tidak bisa kulupakan saat itu. Ayahku di Kalimantan Selatan meninggal dunia pada saat aku bekerja di SEI. Beberapa bulan sebelumnya istrinya (Ibu tiriku) juga meninggal dunia. Aku tak bisa mengantar keduanya ke liang kubur. Aku berpisah dengan ayah sebelum masuk ke SD. Ayah bertransmigrasi ke Kalimatan bersama istri barunya, dan ibu juga berumah tangga dengan suami barunya. Di Kalimantan ayah berkebun karet dan dikarunia tiga orang anak, Junaedi, Tiwik dan Tutik. Seingatku, hanya beberapa kali aku berjumpa dengan ayah setelah itu. Terakhir pada saat ia pulang ke Tuban menjenguk kakek pada saat masih dirawat di rumah sakit dulu. Aku hanya mendengar kabar kalau adik-adikku sudah menikah semua, sudah bisa mengelola petak-petak kebun karet sendiri. Juga sudah punya rumah dan anak-anak sendiri, meskipun tidak terlalu jauh dari rumah ayah. Tetapi aku belum sekali pun berkunjung ke Kalimantan. Mungkin aku juga akan lupa pada saat bertemu adik-adik dan ibu tiriku di jalan kalau tidak bersama ayah. Begitu parahnya hubunganku dengan ayah. Tetapi aku masih punya satu ikatan yang tidak akan hilang selamanya. Nama Rais di belakang nama asliku, Suyoto adalah nama ayah! Itu kudapat pada saat aku mengurus paspor baru dan bilang ke petugas kalau aku akan ke Amerika, Eropa dan mungkin juga ke negara-negara lainnya. Tanpa konsultasi sebelumnya, petugas pembuat paspor ternyata membuat namaku ditambah nama ayah, dan jadilah Suyoto Rais. Awalnya aku agak uring-uringan juga karena dengan ganti nama itu, aku harus mengganti banyak dokumen di Jepang dengan nama baru. Tetapi ternyata itu nama keberuntungan juga. Di setiap aku muncul di publik atau bahkan saat diperiksa petugas imigrasi bandara, orang-orang sering mengait- ngaitkan aku masih punya hubungan dengan Amien Rais. Lumayan nebeng orang tenar, he... he... he.... 101

3. ini juga melibatkan akademisi dan instansi penelitian pemerintah Jepang. Aku bisa mendapatkan kelebihan dengan mengetahui aplikasinya di industri riil. “Saya rasa ini adalah bekal penting buat berkontribusi ke Indonesia kelak. Saya juga merasa para peneliti kita terlalu akademik, tetapi itu bukan salah mereka. Itu lebih karena mereka tidak tahu dan tidak pernah mendapatkan pengalaman menjadi peneliti selain dalam bidang akademik tersebut,” begitu alasanku menjelaskan melalui surat. Sayangnya izinku ditolak oleh BPPT. Aku mulai bekerja di Denso pada bulan Oktober 1999. Denso adalah produsen komponen otomotif terbesar di Jepang. Bahkan di skala global pun, kalau dilihat dari jumlah jenis komponen dan omzet penjualannya, hanya kalah dengan Bosch Jerman. Tetapi sejak tahun 2009 mulai bergantian, kadang Bosch yang berada di paling atas dan kadang disalip Denso. Jadi tidak berlebihan kalau dikatakan, inilah salah satu dapur teknologi otomotif dunia. Aku ditempatkan di kantor pusat yang berada di Kariya City (dekat Nagoya), tepatnya di production engineering department . Fungsi departemen ini untuk mengembangkan sistem produksi yang digunakan di seluruh pabrik Denso. Masing- masing pabrik juga memiliki production engineering sendiri, tetapi tugasnya lebih difokuskan untuk mempersiapkan dan mengelola lini produksi di masing-masing bagian. Di lantai yang sama ada departemen untuk mengembangkan teknologi proses dan teknologi material. Sementara work shop , laboratorium terkait dan bagian permesinan ada di tempat lain. Bagian-bagian ini akan saling bekerjasama pada saat mendesain pabrik baru, lini produksi baru dan perencanaan investasi lainnya. Kalau aku atau karyawan pusat lainnya berkunjung ke pabrik, orang-orang pabrik biasanya memberikan hormat dan rasa segan tersendiri. Tetapi kami selalu diberi arahan agar tidak merasa “lebih tinggi” dan menganggap bahwa pabrik adalah guru yang sesungguhnya. Jadi komunikasi pabrik-pusat, lini produksi dan pusat think-tank terjalin dengan baik dan saling membutuhkan. Di departemenku, yang semua stafnya minimal S1, lebih dari separohnya S2 dan ada 4 orang yag lulus S3 bergelar doktor teknik, termasuk kepala departemen dan aku. Kalau dilihat asal universitas, rata-rata lulusan universitas favorit di Jepang. Bagi orang Jepang, bisa bekerja di Denso juga menjadi kebanggaan tersendiri, lebih- lebih kalau bisa ditempatkan di kantor pusat. [] 85

12. Aku bisa bekerja dengan tenang dan nyaman. Tak jarang atasanku bilang, kalau aku kesulitan apa pun jangan segan-segan memakai namanya. Atau kalau perlu dia akan ikut terjun langsung. Dan itu kulakukan. Tentunya semakin sedikit bergantung ke atasan, dan hasilnya sesuai dengan keinginannya, itu adalah tanda-tanda kita dianggap sudah mampu mandiri dan akan diberikan tanggung jawab yang lebih menantang lainnya. Dengan bahasa sederhana, akan segera naik jabatan. Dan pada saat itu, langsung atupun tidak langsung kita akan menjadi figur seperti atasan yang kita kagumi. Berusaha menciptakan kondisi kerja yang tenang dan nyaman untuk diri sendiri, anak buah dan para kolega. Itu semua kupelajari secara alamiah di Jepang, dan ternyata tidak bisa kulupakan begitu saja setelah pulang ke Indonesia. Meskipun belum tentu lingkunganku mendukung. Banyak cara untuk menjadi atasan atau pimpinan suatu tempat kerja. Ada yang gaya bossy dan ada yag lainnya. Dimataku pimpinan yang ideal adalah mereka yang bisa berperan sebagai kawan pada saat diperlukan. Tidak hanya memberikan perintah atau follow up , tetapi juga bimbingan dan back up . Terkadang juga bisa jadi teman ngobrol apa saja, termasuk masalah pribadi. Kalau kita bisa jadi bos yang demikian maka dijamin anak buah tidak akan lari dan mengkhianati. Sebaliknya kalau kita mendapat tempat kerja yang senyaman ini, langsung atau tidak langsung akan memengaruhi sikap dan pemikiran untuk mengidolakannya dan menjadikannya sebagai figur yang perlu diteladani seterusnya. Banyak sekali terekam di kepala hubungan harmonis ini di perusahaan Jepang, dan berharap juga akan meluas di Indonesia. Bos tidak harus sebagai pemberi instruksi tetapi orang yang selalu siap berkorban apa saja agar anak buahnya merasakan sebagai teman dan orang yang selalu mendukung kinerjanya. Ini saya dapatkan secara alamiah karena pernah bekerja di lingkungan seperti itu. [] 94

7. Diangkat Menjadi Karyawan Tetap Denso “Tawaran emas tidak datang dua kali.” (Suyoto Rais) Awal tahun tahun 2002, merupakan hari-hari akhir aku menjalani kontrak dengan Denso untuk mengembangkan Manufacturing System baru yang akan digunakan di Denso dan grupnya. Setelah selesai kontrak ini, aku akan pulang ke Indonesia dan masih ada keinginan untuk bekerja di BPPT. Aku menulis permintaan pulang kembali. “Saya memang bersalah, tetapi selama hampir 3 tahun ini saya bisa mendapatkan banyak pengalaman sebagai peneliti di industri riil yang saya yakini akan bermanfaat untuk saya dan Indonesia ke depan. Kalau diizinkan, saya masih ingin kembai ke BPPT.” Demikian kurang lebih permohonanku ke BPPT yang kukirim ke bagian personalia. Tetapi balasan yang kuterima adalah surat panggilan untuk mendapatkan sanksi dan mempertanggung-jawabkan “pelarianku” selama ini. Waktunya sangat singkat dan pada saat itu aku tidak bisa pulang. Maka aku minta penundaan, tetapi tidak ada lagi surat balasan setelahnya. Aku kembali fokus mempersiapkan presentasi akhir di Denso. Pada saat persiapan presentasi itu, hampir 24 jam aku harus berada di kantor. Banyak data dan materi presentasi yang hanya bisa kubuat, jadi tidak bisa dilakukan oleh kolegaku lainnya. Saat itu aku ingin memberikan yang terbaik, dan meskipun aku tidak lagi di Denso aku juga ingin menunjukkan kalau orang Indonesia bisa diberi kepercayaan. Aku bisa meninggalkan Denso dengan tenang, dan hasil penelitianku dilanjutkan untuk dimanfaatkan orang selanjutnya. Ternyata 24 jam saat persiapan itu adalah penentuku. Mungkin dilihat dari materi presentasi atau dilihat dari sikapku yang “ never give up ”, setelah selesai presentasi aku ditawari untuk menjadi karyawan tetap di Denso. Hak dan wewenangku sama dengan orang Jepang pada umumnya. Konon sistem perekrutan tenaga asing akan diperbarui dan orang asing sepertiku juga bisa diterima sebagai karyawan tetap di 89

17. Anak Indonesia Beradaptasi dengan Indonesia “Dua budaya yang berbeda membutuhkan waktu untuk menyatu.” (Suyoto Rais) Bersamaan dengan saat keluar dari Denso, istri dan 2 anakku pulang ke Indonesia terlebih dulu. Anak pertamaku, Perdana, baru saja lulus SD dan akan melanjutkan ke SMP di Indonesia. Sementara anak keduaku, Aldian, baru naik ke kelas 2 SD dan akan pindah ke SD di Indonesia. Di Indonesia, SEI sudah menyediakan perumahan, biaya hidup, biaya pendidikan dan bahkan biaya kesehatan seluruh keluargaku. Juga family car dan driver untuk keluargaku. Saat kepindahan dari Nagoya ke Jakarta pun, semua biaya pindah dan tiket pulang ditanggung penuh oleh perusahaan. Tidak ada kekawatiran sedikit pun untuk masalah ini. Yang jadi masalah adalah perpindahan dan adaptasi anak-anak. Mereka sebenarnya sudah terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Punya banyak teman Jepang di sekolahnya, dan selama ini hanya bisa berbicara bahasa Jepang. Mereka bersekolah di SD Jepang umum, di rumah tidak kami ajarkan bahasa Indonesia. Anak-anak sebenarnya lebih betah di Jepang. Tetapi kami telah memutuskan pulang agar mereka juga tahu kalau tanah air mereka yang sesungguhnya adalah Indonesia. Aku juga ingin bisa membuat anak-anakku mengenal budaya, sejarah, moral dan agama seperti orang tuanya. Bukan hanya mengetahui, tetapi tidak bisa meresapi sampai di hati. Namun, ternyata bukan persoalan mudah untuk bisa menyatukan keduanya. Salah satunya masalah pendidikan anakku, sekolah swasta Indonesia tidak mudah ditembus. Wajarlah, siapa mau menerima murid yang tidak bisa berbicara bahasa indonesia dan belum jelas latar belakang akademiknya. Usaha tak mengenal lelah dari kami akhirnya membuahkan hasil. Dibantu oleh Istin dan Indra (dua orang sahabatku sejak di Jepang yang menjadi suami-istri, mantan sesama pengelola Bincang Indonesia di FM Cocolo Osaka), aku dan istri dikenalkan pengurus yayasan Al Azhar dan akhirnya bisa konsultasi langsung dengan kepala sekolah. Saat itu 99

21. Menjadi Ekspatriat di Negeri Sendiri “Pulang ke Indonesia adalah mimpi yang kembali menjadi nyata.” (Suyoto Rais) Setelah masa tugas di kantor pusat setahun, ternyata para atasanku menilai aku sudah layak untuk ditugaskan ke Indonesia. Maka, setelah menjalani beberapa training sebagai ekspatriat, aku ditugaskan bekerja di kantor cabang di Indonesia. Impian panjang menjadi ekspatriat Jepang di Indonesia pun terwujud! Konon, ini juga kasus pertama kali di seluruh grup SEI di seluruh dunia. Orang asing yang direkrut di kantor pusat dan ditugaskan sebagai ekspatriat di negeri sendiri. Sumitomo juga sama dengan Toyota Group, perusahaan murni Jepang, dan sangat sulit menerima orang asing untuk direkrut di kantor pusat. Sebelum ke Indonesia, aku banyak mendapat training di Osaka untuk dipromosikan sebagai manajer. Statusku juga disesuaikan sebagai karyawan Sumitomo Electric Industries (SEI) pusat. Benar juga, orang-orang SEI sangat berharap banyak denganku. Aku bahkan dikenalkan kepada pucuk pimpinan SEI sebagai ”rising star” untuk grup SEI di Indonesia nanti. Mereka juga bilang beruntung bisa merekrutku. Aku bisa melakukan tugas-tugas yang dilakukan orang Jepang, dan tidak perlu sulit-sulit mengurus dokumen tenaga kerja. Benar-benar pucuk dicinta ulam tiba, katanya. Satu yang kuingat, mereka banyak mengubah aturan ekspatriat menjadi lebih fleksibel dan membuat orang asing sepertiku bisa dijadikan ekspatriat Jepang juga. Ini adalah kasus pertama di SEI, dan sempat menjadi bahan diskusi pada awalnya. Mereka juga menilai aku cepat menyerap apa yang diajarkan, dan target 3 tahun ternyata bisa kuselesaikan hanya dalam waktu 1 tahun. Saat akan kembali ke Indonesia, beberapa orang atas berpesan agar aku tetap di SEI selamanya. Mereka akan mempertimbangkan semua usulanku selama itu masuk akal dan untuk kemajuan perusahaan ke depan. Aku diposisikan sebagai manajer produksi dan engineering yang bertanggung jawab untuk mengelola aktivitas pabrik dan juga memikirkan instalasi mesin-mesin 103

6. Kami mengadakan pertemuan setiap 1—2 bulan sekali. Kadang di Tokyo, Nagoya atau di Osaka bergantian. Masing-masing perusahaan umumnya datang dengan 1—2 orang peneliti dan juga membawa tugas masing-masing. Tak jarang kami harus menginap di hotel dan diskusi dilakukan dari pagi sampai malam hari. Di akhir pertemuan, ditentukan langkah berikutnya dan target masing-masing. Tidak ada peserta yang datang hanya untuk melihat dan mendengarkan peserta lainnya presentasi. Harus ada take and give . Maret 2002 Proyek MISSION direncanakan berakhir. Sebagai salah satu hasil bersama, tim Jepang akan mengadakan pusat demonstrasi di Tokyo. Begitu juga tim Eropa dan Amerika. Pusat-pusat demonstrasi ini akan disambungkan pada saat Closing Ceremony yang rencananya akan diadakan di Amerika. Saat itu seluruh anggota MISSION dari masing-masing Negara akan hadir bersama. Di tengah jalan, seremoni diputuskan dipindah ke Jepang. Tim Eropa dan Amerika ternyata hanya mampu membuat sistem simulasi dan belum siap membangun pusat demonstrasi. Di sini mereka akhirnya mengakui keunggulan tim Jepang. Di setiap presentasi bersama, umumnya tim Jepang selalu tampak underdog karena kemampuan presentasi dan kemampuan bahasa Inggris. Tetapi dalam hal kinerja riil boleh dikatakan lebih unggul. Salah satu kekuatan tim Jepang adalah memiliki kedekatan dengan lini produksi dan mengetahui permasalahan riil di lapangan. Dan pada akhirnya juga dibuktikan mampu membuat hasil yang lebih riil. Seremoni akhirnya dipindahkan ke Tokyo. Kami mengundang perwakilan dari tim IMS Internasional. Sementara Jepang dibuka untuk para praktisi industri umum. Banyak para manajer dan teknisi yang antusias mendatangi pusat demonstrasi di dekat Tokyo Tower. Saat itu aku kebagian bertanggungjawab mengurusi persiapan salah satu stan dan juga menjaganya kalau ada pertanyaan pengunjung. Beberapa orang manajer dan direktur Denso juga datang mengucapkan selamat dan terima kasih atas partisipasiku. Seremoni di awal tahun 2002 itu menjadi kerja terakhirku bersama para partner IMS-MISSION. Selanjutnya tugasku menyusun usulan step-by-step untuk membawa hasilnya ke internal Denso. Hasil penelitian itu juga kami presentasi dan publikasikan di berbagai jurnal ilmiah terkait. Akhir tahun 2002 penelitian kami menerima Technology Award dari JSME (Japan Society of Mechanical Engineers). Karier pertamaku di Denso merupakan hadiah yang terbaik, setelah kelahiran anak keduaku, Aldian Suyoto yang lahir pada saat ikut penelitian IMS. [] 88

2. Karier Pertama Profesional Global, Denso! “Jepang mewujudkan mimpiku satu persatu.” (Suyoto Rais) Pada saat ikut presentasi ilmiah di kampus UC Berkeley, aku bertemu dengan seorang profesor yang menawariku untuk mengambil postdoc di laboratoriumnya. Dia tertarik untuk memadukan hasil penelitianku dengan penelitiannya mengenai mesin-mesin tool generasi mendatang. Dia juga memerinci jumlah allowance yang kuterima selama beberapa tahun di laboratoriumnya. Jumlah yang lebih besar daripada beasiswa yang kuterima di Jepang. Sebuah tawaran yang menarik. Namun jika aku masih berada di lingkup akademik dan laboratorium tanpa pernah berkecimpung di industri riilnya maka impianku untuk mengetahui penelitian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan pengguna di tahapan berikutnya, mungkin akan tetap menjadi fatamorgana. Hal ini tidak sesuai dengan keinginan awal pada saat memutuskan untuk melanjutkan studi. Pada saat yang bersamaan, aku juga menerima tawaran menarik dari DENSO Corporation. Tentu sangat menyenangkan dan banyak yang bisa kupelajari di perusahaan ini. Aku beruntung karena Prof. Sugimura memiliki kerja sama penelitian dengan Denso. Mereka tahu bahwa industri mereka berhubungan dengan tema penelitianku, karena itulah aku ditawari untuk melanjutkan penelitianku di perusahaan terkemuka tersebut. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Denso dan menolak post doc ke Amerika. Secepatnya aku menulis izin ke BPPT dan menyertakan tujuan dan jadwal penelitianku di Denso. Aku hanya akan kontrak selama 3 tahun dan setelahnya akan kembali ke BPPT. Aku merasa yang kudapatkan di kampus masih sangat kurang dan ingin menyempurnakannya dengan mencari pengalaman di industri riil. Aku jelaskan kalau selama di Denso nanti aku akan menjadi anggota konsorsium IMS-Japan untuk meneliti sistem pemanufakturan generasi mendatang dan aplikasinya di industri. Selain beberapa perusahaan terkemuka di Jepang, penelitian 84

11. Budaya Tepat Waktu dan Saling Mendukung “Waktu tidak bisa diputar kembali.” (Suyoto Rais) Satu lagi hal penting yang kupelajari di Jepang adalah budayanya untuk selalu on time . Tidak ada alasan hujan, macet, orang lain atau lainnya yang membolehkan janji kita terlambat. Semua orang Jepang terbiasa untuk on time dengan waktu yang telah disepakati. Ada semacam penilaian, lebih baik selesai 70% tetapi on time , daripada mengusahakan 100% tetapi lewat beberapa menit. Kalau setelah berusaha mati- matian tetap saja tidak bisa, itu baru tidak ada jalan lain. Tetapi tetap saja kita berkewajiban memberi tahu dan meminta izin untuk terlambat, kapan selesainya. Waktu adalah hal yag membuat orang Jepang bisa percaya. Dan juga membuat orang Jepang tidak bisa percaya. Orang yang bisa datang lebih awal dari jam kerja akan lebih dipercaya daripada mereka yang datang lebih lambat dan nantinya pulang tengah malam. Salah satu lagi yang menjadikan aku betah di Jepang sebenarnya adalah karena aku melihat banyak figur-figur yang bisa kujadikan teladan, langsung maupun tidak langsung. Kadang atasan, kadang senior dan kadang juga orang lain yang kebetulan ikut meeting di proyek bersama. Semua orang yang terlibat dalam suatu kerja bersama pasti berusaha memberikan nilai tambah sesuai dengan posisi dan kemampuan masing-masing. Dan itu bisa dilihat sebagai sebuah keteladanan yang bisa kupelajari. Hal-hal yang tidak bisa kudapat di kampus. Satu lagi yang ingin kupelajari adalah bagaimana kita bisa melakukan kinerja dengan sebaik-baiknya. Itu pasti harus ada interaksi yang baik antara atasan- bawahan, kolega, office -lini produksi dan bagian-bagian terkait. Dan semua itu tidak perlu harus dipikirkan sendiri. Di atas kita ada atasan yang siap memberikan dukungan dan juga senior yang selalu siap membimbing kita. Sementara di bawah ada junior dan anak buah yang siap mematuhi instruksi kita dengan sepenuh hati. Kondisi ideal itu kutemui di Denso. 93

15. Karier Keduaku, Sumitomo Electric Group “Setiap perusahaan memiliki cara berbeda, belajarlah.” (Suyoto Rais) April 2008 aku resmi pindah dari Denso ke SEI Goup yang memiliki kantor pusat di Osaka. SEI memiliki pabrik sekitar 300 perusahaan dan karyawan lebih dari 150 ribu orang di seluruh dunia. Bidang usahanya mulai dari manufaktur bahan baku industri sampai ke perakitan untuk otomotif parts . Masing-masing perusahaan memiliki gaya manajemen sendiri-sendiri, tetapi disatukan oleh Sumitomo Spirit yang di antaranya adalah (1) tidak mendapatkan keuntungan dengan cara-cara instan, (2) Memikirkan kontribusi untuk masyarakat dan negara, dan (3) mementingkan pendidikan karyawan. Spirit itu yang dijaga dan diajarkan ke seluruh karyawan di seluruh dunia. Untuk skill up training dan program pendidikan, SEI memiliki SEI University, yaitu tempat penggemblengan para karyawan seluruh grup SEI baik untuk materi teknik maupun manajemen. Aku ditugaskan di Sumitomo Electric Wintec yang memiliki pabrik pusat di Shiga. Wintec adalah produsen magnet wire , kumparan tembaga untuk motor, dinamo, dan lain-lain. Kebanyakan pelanggannya adalah produsen motor dan komponen otomotif, termasuk Denso. Di lihat dari level perusahaan, jelas bukan tandingannya Denso. Ini juga terasa pada saat masuk ke dalamnya. Rata-rata mereka sangat menghargaiku sebagai seorang engineer dari perusahaan Top di Jepang yang menjadi acuan banyak pabrik manufaktur. Dan mereka yang jeli, sering juga bertanya kenapa aku mau masuk ke perusahaan dengan turun level. Kepada mereka, aku jawab santai saja, kalau aku tidak peduli dengan level perusahaan. Aku hanya ingin pulang dan ditugaskan sebagai ekspatriat Jepang. Kebetulan ada beberapa perusahaan yang menerima dan aku melihat Wintec yang merupakan bagian dari Sumitomo Electric Industries cukup menjanjikan. Aku pun memilih karier selanjutnya di Wintec. Kudengar, pada saat akan ditugaskan ke Indonesia nanti, aku akan diganti menjadi karyawan pusat SEI dan 97

8. kantor pusat. Denso dan Toyota Group lainnya termasuk sulit menerima karyawan asing di kantor pusat, terutama untuk bagian-bagian teknik. Tawaran ini adalah kesempatan emas yang tidak datang dua kali. Akhirnya aku menerima tawaran Denso. Di Production Engineering Department , saat itu aku adalah orang asing satu-satunya yang direkrut. Ada sekitar 150 orang yang bekerja di departemen ini, merupakan pusat project management dan process engineering seluruh Denso group. Kadang-kadang ada mahasiswa magang dari Eropa, Amerika, Cina dan lainnya, dan aku sering ditugasi untuk menjadi tutor mereka. April 2002, aku resmi menjadi karyawan tetap Denso. Tak berapa lama setelah itu aku diangkat menjadi asistant manager dan memiliki akses lebih banyak ke pabrik. Posisiku di kantor pusat juga memudahkan akses berbagai informasi penting, bisa mengikuti berbagai training internal maupun eksternal. Aku juga dilibatkan di proyek yang menentukan spek lini produksi dan mesin-mesin untuk membuat komponen-komponen otomotif terbaru. Proyek yang pernah kuikuti di antaranya pengembangan lini untuk komponen AC dan pendingin mesin, seperti evaporator, condenser , radiator, dan oil cooler. Itu adalah produk-produk unggulan Denso yang memiliki omzet penjualan paling besar. Kursiku di kantor pusat, tetapi kakiku sering berada di pabrik Denso di Nishio, Ikeda, Toyohashi dan Mie. [] 90

22. baru ke depan. Juga mengoordinir aktivitas penurunan NG ratio dan total cost internal, aktualnya sebagai factory manager . Pekerjaan di Indonesia bisa kujalani dengan baik. Misi dengan mudah kujalankan, dan hasil juga lebih baik dari target awal. Orang-orang Jepang maupun orang Indonesia mulai percaya, keberadaanku sangat diperlukan dan bisa memperbaiki kondisi apalagi ditunjang skill dan pengalamanku. Hubungan dengan para ekspatriat Jepang di seluruh grup SEI yang bertugas di Indonesia juga baik. Aku sering ikut makan malam disambung dengan second party di Blok M. Atau di akhir pekan ikut golf di sekitar Jabodetabek, bahkan pernah sampai ke Pulau Sentosa di Singapura. Begitulah, aku bisa mendapatkan duniaku. Tetapi itu membuatku kadang-kadang lupa diri. Aku merasa apa yang kuinginkan bisa kudapat dengan mudah. Gaya hidupku mulai berubah, tak sehat. Pulang tengah malam atau menjelang pagi sudah menjadi seperti rutinitas. Beruntung istriku cukup sabar dan tidak terlalu menuntut banyak dariku. Dia cukup mengerti kebiasaan para salary man di Jepang yang seperti itu. Keluarga sering dinomor sekiankan kalau ada urusan kantor, termasuk menemani relasi bisnis atau menjamu para bos dari Jepang. Itu risiko pekerjaan sebagai ekspatriat yang kadang membuatku khilaf dan tidak terlalu memperhatikan keluarga. Untung sebelum semua terlanjur semakin parah, Tuhan telah mengingatkanku! “Saya pernah bersama-sama Suyoto untuk mengikuti pendidikan persiapan selama setahun sebelum masuk ke universitas masing-masing di Jepang. Waktu itu saya kebetulan satu asrama dan setelah itupun kadang berkomunikasi walaupun tinggal di dua tempat yang jauh jaraknya. Setelah meraih doktor dan berkarier di Jepang, dia menjadi aktif dan mempunyai pemikiran-pemikiran yang sangat cemerlang. Tidak banyak WNI yang bisa mencapai posisi eksekutif di kantor pusat perusahaan Jepang dan ditugaskan sebagai ekspatriat di negeri sendiri. Dan sobat saya Suyoto bisa melakukannya dengan baik. Saya sangat menikmati kisah hidup riil yang ditulisnya ini.” Dr. Kustarto Widoyo Profesional di Tokyo. Kawan seangkatan penerima beasiswa OFP-BPPT 104

10. Sekitar enam bulan aku bertugas di Ceko. Setelah proyek selesai, aku kembali ke Jepang. Ada yang mengusulkan agar aku tetap di Ceko sebagai ekspatriat di sana, tetapi berpisah terlalu lama dengan keluarga tentu sangat sulit bagiku. Meskipun lama di Jepang, aku belum bisa seperti orang Jepang terhadap keluarga. Aku tetap ingin memprioritaskan keluarga. Setelah tahu seluk-beluk pabrik Denso, aku jadi semakin tahu kekuatan perusahaan ini. Staf di office diusahakan agar selalu berorientasi ke pabrik. ” Sangen shugi ” benar-benar dipraktikkan dengan baik. Ini juga berlaku di semua Toyota Group lainnya. Sangen shugi artinya Falsafah Tiga GEN, yaitu Genba - Genbutsu - Genjitsu (baca: gemba-gembutsu-genjitsu). Genba berarti lokasi tempat kejadian. Disini waktu juga diperhatikan, sehingga pada saat ada kejadian kita diharuskan ke genba secepatnya. Genbutsu berarti barang riil, bukan simulasi atau foto. Pada saat ada masalah, kita selalu diminta untuk melihat apa bedanya barang yang cacat dan yang tidak cacat dengan melihat langsung barangnya. Genjitsu berarti kondisi aktual. Ada informasi yang berdasarkan investigasi agar selalu sesuai dengan kondisi riil, bukan estimasi. Jadi dengan sangen shugi kita dibiasakan agar selalu terbiasa ” speak with data ” dan berpikir obyektif. Orang-orang yang bekerja sebagai staf di bagian R & D dan bagian indirect lainnya, sebelum dibolehkan untuk bekerja di departemen masing-masing akan diharuskan ikut kerja di lini produksi, termasuk aku. Mereka yang menjadi desainer produk akan diminta beberapa bulan tinggal bersama operator di lapangan agar tahu kondisi riil bagaimana para orang di ujung tombak ini bisa memproduksi dengan baik. Tahu ada atau tidak adanya bagian dan toleransi ukur yang sulit ditaati serta hal lainnya. Di industri manufaktur, pabrik-pabrik Denso di Jepang sering menjadi acuan pabrik-pabrik Jepang lainnya. Denso menyediakan plant tour khusus untuk pengunjung luar. Di seminar-seminar ilmiah, nama Denso sering muncul sebagai pemenang Technology Award . Para peneliti dan pengembang sistem produksi di Denso juga dimotivasi agar banyak ikut seminar di luar dan mendapatkan hadiah teknologi, sebagai salah satu pengakuan pihak luar terhadap Denso dan juga CSR perusahaan. Setiap akhir tahun, puluhan karyawan Denso akan dipanggil untuk mendapatkan hadiah atas pencapaian tersebut, termasuk aku setelah mendapatkan Award atas penelitian IMS yang lalu. [] 92

Views

  • 79 Total Views
  • 62 Website Views
  • 17 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 2

  • 1 ijb-net.org
  • 1 ijb-net.balaikota.info