Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 3] p069-082

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

6. Di luar kampus, aku tetap disibukkan dengan beragam kegiatan. Namun, jujur, kegiatan sosial kerapkali membawa keberuntungan tersendiri. Keberuntungan ini terjadi setelah gempa 17 Januari 1995 berlalu. Beberapa perusahaan besar di wilayah Osaka dan sekitarnya berencana mendirikan FM Multi Bahasa yang tujuannya untuk memberikan informasi yang benar kepada para orang asing di wilayah Kansai. Ada tigabelas negara dan salah satunya adalah siaran Indonesia. Nama radio tersebut adalah FM Cocolo. Sejak awal berdiri aku mulai banyak dilibatkan dan kemudian setelah resmi berdiri aku ditunjuk untuk mengoordinir pengelolaan Siaran Indonesia. Saat itu aku mengajak empat orang sahabatku yang selama gempa banyak membantu dan juga aktif di kegiatan PPI. Mereka adalah Istin Harsiwi (mantan ketua PPI Kyoto), Aki Adishakti (seniman Indonesia di Osaka), Dimaz Ikaputra (dosen UGM yang saat itu sedang mengikuti program S3 akhir), dan Indra Adhiwijaya, sesama karyasiswa dari BPPT yang juga aktif membantu kegiatan sosial di sana. Program Indonesia kami beri nama “Bincang Indonesia” atau sering disingkat BINDO. Baru sekitar sebulan mengudara, BINDO telah menjadi salah satu program terfavorit di FM Cocolo. Program BINDO hanya memiliki durasi 30 menit di pagi hari dan diulang lagi 30 menit pada malam hari dengan menggunakan sistem siaran ulang. Kami membuat program seminggu sekali di studio setiap hari Sabtu. Setiap hari susunan acaranya kita buat variatif, misalnya untuk tanggapan terhadap surat pendengar, lebih banyak kami udarakan pada hari Minggu. Sementara untuk informasi budaya, tips tinggal di Jepang atau acara-acara yang masih ada tenggang waktu bisa kami berikan di lain hari yang tidak terlalu memerlukan urgensi. Selain bahasa Indonesia, kami juga menggunakan bahasa Jepang ketika siaran. [] 74

1. 3 Berprestasi Melalui Organisasi “Organisasi menjadi salah satu tempat untuk belajar banyak hal.” (Suyoto Rais)

9. “Kulit yang berbeda, mata yang berbeda, budaya yang berbeda bukan berarti akan membedakan Indonesia dan Jepang. Karena ada satu kesamaan yang tidak bisa dipungkiri. Manusia, dimanapun berada sama- sama memiliki hati dan keinginan bersahabat dengan sesamanya.” “Saat on air di radio Cocolo FM di Osaka, kami memanggilnya “Bung Dana,” nama tersebut nebeng promo nama anak pertamanya. Di luar studio kami pun sangat sering “siaran” untuk jadi duta masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Chubu dan Kansai dengan berbagai kegiatan. Kami memang sama-sama punya bakat jadi selebritas lokalan, namun minat dan peruntungan memang berkata lain. Buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca, termasuk testimoni yang ditulis orang-orang yang mengenal Bung Dana sejak kecil.” Aki Adishakti, IAI. Principal architect, CEO/Presdir PT Titimatra Tujutama di Yogyakarta, kawan penyiar di FM Cocolo, Osaka, partner penggiat promosi budaya Indonesia di Jepang “Saya sebenarnya termasuk juniornya sebagai penerima “Beasiswa Habibie”, tetapi kami bisa berbincang tanpa basa-basi. Di Jepang, teman main di luar kampus. Di Indonesia kami sering bertemu bersama keluarga. Juga sesekali diskusi serius untuk mikirin kontribusi yang bisa kami lakukan buat Indonesia. Dia tidak pernah kehilangan ide dan semangat dalam kondisi apa pun, sampai sekarang.” Dr. Indra Ahiwijaya Kawan penyiar di FM Cocolo, Osaka. Direktur PT Tridasa Prawira, Jakarta 77

2. “Saya sangat beruntung berkenalan dengan Suyoto pada waktu masih mahasiswa di Osaka dulu. Sampai sekaang kami masih sering berhubungan dan bertemu. Saya tidak malu untuk menginap di rumahnya pada waktu ke Indonesia, begitu juga dia dan keluarganya saat ke Osaka. Saya akan membaca bukunya dengan senang hati.” Takahito Sato Pengusaha dan sahabat penulis di Osaka “Saya telah menjalin persahabatan dengan Mas Suyoto dan keluarganya sejak lama. Kami juga masih saling bertemu kalau saya ke Jakarta atau mereka ke Tokyo. Saya senang sekali mendengar buku yang berisi perjalanan hidupnya diterbitkan. Dan ingin menerjemahkan ke dalam Bahasa Jepang agar kisahnya bisa diketahui oleh publik Jepang juga.” Izumi Minami Sahabat penulis dan penerjemah bahasa jepang-indonesia di Tokyo “Awalnya saya berkenalan melalui program host family Pemda Osaka. Dari hasil undian, saya mendapat tamu Suyoto dan keluarganya. Sejak perkenalan itu, kami sering bertemu dan mereka saya anggap seperti anak dan cucu sendiri sampai sekarang. Semoga buku edisi Bahasa Jepang segera terbit agar saya bisa membaca sepenuhnya (testimoni diterjemahkan oleh penulis).” Takayoshi Inuzuka Host family di Osaka “Saya kenal pertama kali dengan Suyoto Sensei pada saat dikenalkan teman saya untuk menjadi guru les privat bahasa Indonesia. Saya sering ke rumahnya seminggu sekali pada waktu di Osaka. Dan sejak itu saya menganggap dia dan keluarganya seperti anak-cucu saya sendiri. Saya juga pernah diundang ke kampung halamannya pada waktu adiknya menikah. Saya sangat bahagia bisa kenal dengannya, dan makin cinta Indonesia. Mudah-mudahan Tuhan masih mengizinkan saya untuk membaca buku ini sampai selesai.” Junichi Yamashita Mantan pejabat di Pemda Osaka yang menjadi salah satu perintis hubungan sister city Osaka dan Surabaya 70

10. “Saat itu ada gempa besar di Kobe dan kami bahu membahu untuk menolong rekan- rekan WNI di sana. Pasca gempa kami sama-sama mengkoordinir siaran Indonesia di FM Cocolo bernama “Bincang Indonesia (BINDO)”. Setelah sama-sama berpisah oleh waktu dan pekerjaan pun masih sering kontak. Termasuk pada saat ia pulang ke Indonesia, dan kesulitan mencarikan sekolah anak-anaknya, saya termasuk yang diajak konsultasi dan memberikan bantuan sebisanya. Saya kenal baik istri dan anak-anaknya, dan hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri.” Dr. Harsiwi Tristiani Mantan Ketua PPI Korda Kansai dan kawan penyiar di FM Cocolo, Osaka. Profesional di Jakarta “Saya pertama kali bertemu Suyoto pada saat melanjutkan studi di Osaka tahun 90-an. Saat itu dia masih undergraduate (setingkat S1 di Indonesia), dan saya studi S2. Suyoto cukup aktif untuk ikut diskusi dengan mahasiswa Indonesia yang lebih senior. Lalu kami membentuk forum diskusi setiap Rabu malam yang diberi nama Rebon (hari rabu malem tiap minggu). Forum tersebut sejujurnya untuk membekali “mahasiswa junior” seperti Suyoto agar terbangun “jiwa nasionalisme” dan handal dalam menghadapi social-political life jika balik ke Indonesia nantinya. Selain aktivitas di PPI, selama di Osaka kami pernah mengasuh siaran Program Indonesia ”Bincang Indonesia” di FM Cocolo Osaka. Bersama Istin, Indra dan Aki. Kami berlima sering bertemu di luar kampus dan melakukan rekaman dan siaran live bersama. Kenangan manis yang tak terlupakan selamanya dan dicatat juga di buku ini sebagai salah satu step Dr. Suyoto untuk menjadi Profesional Global.” Dr. Ikaputra Dosen Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM. Senior di Jepang dan kawan “penyiar” di FM Cocolo Osaka “Ini bukan buku motivasi, tetapi kisah nyata yang bisa membuat para pembaca pasti terinspirasi dan termotivasi. Pertama mengenal Pak Suyoto, terkesan orangnya pendiam. Namun, di balik pendiamnya, menyimpan sesuatu yang luar biasa. Diam itu emas dan emas itu adalah Dr. Suyoto Rais. Meskipun baru beberapa bulan bergabung di perusahaannya, saya segera tahu kalau beliau bukan hanya sebagai pimpinan perusahaan, tetapi sekaligus guru dan “orangtua” bagi para karyawannya. Saya sangat beruntung bisa berkenalan dengan beliau dan diberi kesempatan menjadi first reader buku ini.” Rhasmalajaya Karyawan baru di PT Nagai Plastic Indonesia, first reader dari kalangan muda 78

12. Masuk televisi Jepang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku sama sekali. Bagiku pergi ke Jepang saja ibarat mimpi, tidak mengharapkan lebih dari ini! Tapi, kesempatan yang kudapatkan ini menjadi sebuah keberuntunganku. Meski aku bisa mendapatkan ribuan yen dari perlombaan hingga menjadi narasumber acara televisi, menurutku pendidikan yang harus kuselesaikan menjadi prioritas. Setelah menjadi komentator di televisi tersebut, aku sebenarnya semakin sering menerima job sampingan. Termasuk permintaan dari komunitas Jepang untuk memberikan cerita khusus mengenai Indonesia. Tetapi aku harus membatasi aktivitas menjadi ”selebritas” ini. Sebentar lagi aku harus disidang untuk tesis doktoralku, sebentar lagi aku harus memutuskan kemana langkahku setelah lulus nanti. Maka, dengan sendirinya aku mundur total dan mengurangi aktivitas di luar kampus dan FM Cocolo. Ternyata tidak sulit untuk mundur karena aku belum terlanjur basah. Pada saat yang tepat, beberapa bulan sebelum wisuda aku mundur total dan mulai mencari penggantiku, seorang mahasiswa Indonesia lainnya yang juga memiliki bahasa Jepang bagus. [] “Saya teringat waktu dia mengoordinasikan aktivitas bersama mahasiswa dan WNI lain untuk mempromosikan Indonesia di Jepang. Saya termasuk “selebritas lokal” yang sering bersamanya. Dia sering sebagai koordinator dan penceramah, saya memainkan gitar dan menyanyi lagu-lagu nusantara. Di Jepang kami dituntut bukan hanya bisa studi sesuai bidang masing-masing, tetapi juga melakukan aktivitas sosial untuk mempromosikan Indonesia. Mas Suyoto sosok yang selalu berada di lini depan untuk itu. Buku ini juga bercerita mengenai hal itu.” Dr. Baskoro Tedjo Senior di Osaka, dosen ITB dan arsitek di Bandung “Buatku, selesai S3 dan mendapat gelar doktor teknik jauh lebih penting dari ribuan yen dan tampil di televisi!” 80

7. Indonesian Fans Club “Indonesia menjadi sebuah nama yang terpahat di seluruh aliran darahku.” (Suyoto Rais) Atas permintaan para pendengar, terbentuk BINDO Fans Club (BFC). BFC mungkin satu-satunya fans club di FM Cocolo. Anggotanya kebanyakan orang muda Jepang yang pernah ke Indonesia. Pada akhir 1996, tahun pertama mengudaranya BINDO, tercatat lebih dari 100 orang yang mendaftarkan diri sebagai anggota. Para anggota BFC membentuk sekretariat sendiri dan setiap bulan menerbitkan buletin BFC. “Kolom Bung Dana” konon termasuk tulisan yang diminati pembaca. itu adalah tulisanku mengenai Jepang-Indonesia yang kubikin dalam bahasa Jepang dan ringan. Di FM Cocolo, pada saat mengudara, aku dipanggil dengan nama Bung Dana, nebeng nama anak pertamaku Perdana Suyoto yang dipanggil Dana. Di Jepang, umumnya minat anak muda ke negara-negara berkembang seperti Indonesia tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju dan yang berbahasa Inggris. Umumnya mereka yang suka Indonesia adalah mereka yang sudah tua, dan menjadikan Indonesia sebagai kenangan karena dulu pernah tinggal di Indonesia. Nah, BFC ternyata bisa memperbaiki kondisi itu. Umumnya semua anggota adalah anak-anak muda Jepang, sebagian masih kuliah di daerah Kansai dan sekitarnya. Di setiap pertemuan BFC, aku pasti datang dan konon yang paling dinanti-nanti peserta. Mereka ingin mendengar langsung suaraku. Tetapi tidak jarang yang ”kecewa” setelah melihat ternyata ”Bung Dana” tidak sekeren suaranya di radio. Mereka yang bilang begitu tidak banyak memang, dan biasanya kami akan segera akrab dan tidak sungkan berdiskusi tentang banyak hal. Mereka segera menjadi sobat-sobat baruku. Bahkan hingga sekarang. BINDO Fans Club bisa dibilang merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan selama aku di Jepang. BFC mengadakan pertemuan secara periodik dan selalu dipadati oleh para anggotanya. Pada setiap pergelaran, Bung Aki akan memetik gitar dan meramaikan panggung bersama anggota bandnya. Bung Ika, Mbak Istin, 75

11. Mengais Prestasi Demi Ribuan Yen “Setiap detik adalah waktu untuk menancapkan sejarah prestasi.” (Suyoto Rais) Berprestasi bisa dimana saja! Barangkali itu yang tertancap dalam benakku. Prestasi bukan hanya didapatkan di negara sendiri, tapi kita bisa bersaing di negara orang dengan penduduk asli setempat. Seperti itulah yang kulakukan di Jepang. Beberapa kali ikut lomba pidato bahasa Jepang di sekitar Kansai. Termasuk di dalam kampusku. Tidak semua lomba membuatku jadi juara, dan buatku itu bukan masalah besar. Bukankah yang penting aku tetap berusaha? Namun, menjadi juara dengan mendapatkan hadiah dan juga imbalan beberapa puluh ribu yen lebih sering kudapatkan dibandingkan kekalahan. Buatku ini rezeki! Bukan hanya perlombaan yang sering aku ikuti, suatu saat aku malah diminta langsung oleh televisi NHK, salah satu televisi terkenal di Jepang untuk menjadi nara sumber. Pihak televisi mengaku mendapatkan nomor teleponku dari salah satu yayasan international exchange yang memang kukenal baik. “Kami akan mengadakan beberapa kali siaran mengenai Asia dan salah satunya Indonesia. Kami memerlukan komentator orang Indonesia yang memiliki aktivitas baik di Jepang dan lancar berbahasa Jepang. Setelah berkonsultasi ke banyak pihak, kami ingin memohon kesediaan Anda,” begitu kira-kira permintaan dari pihak NHK ketika menelepon untuk meminta kesediaanku menjadi salah satu narasumber. Beberapa hari berikutnya, aku bertemu dengan produsernya dan meminta penjelasan lebih detail. Setelah mengetahui permasalahannya, aku pun menerima tawaran tersebut. Seingatku minimal tiga kali aku sempat mengisi acara televisi NHK yang disiarkan di malam hari ke seluruh Jepang. Temanya adalah “Inilah Asia! Malam ini mengenai Indonesia” yang mengetengahkan acara televisi di Indonesia yang menarik dan perlu diketahui oleh khayalak Jepang. Kadang-kadang aku juga duduk bersama para komentator dan selebritas profesional Jepang lainnya. Pengalaman yang lebih mengesankan! 79

8. dan Bung Indra kebagian memikirkan dekorasi panggung. Secara keseluruhan pengaturan ruang dan lain-lain kami serahkan kepada para koordinator BFC. Bagaimana dengan aku? Aku yang sudah terkenal sebagai salah satu orang Indonesia yang aktif dalam aktivitas pidato hingga masuk televisi akhirnya mendapatkan tugas menjadi penceramah ringan. Ceramahku terkesan serius karena tema ceramahku selalu mengenai hubungan baik antara Indonesia dan Jepang di dalam kehidupan sehari-hari. Aku tidak pernah kehabisan bahan untuk ini. Aktivitas ceramahku ini membuat aku jadi sering diundang untuk memberikan ceramah mengenai Indonesia di sekolah-sekolah atau masyarakat umum. Boleh jadi, kalayak umum Jepang yang terkait dengan penyelenggaraan international exchange lebih mengenal aku secara aktual daripada Konjen KJRI. Kegiatan ini pula yang membuatku memiliki lebih banyak teman, yang kelak sangat banyak berperan pada langkah-langkahku selanjutnya. Promosi tentang Indonesia selalu aku sisipkan dalam setiap ceramah. Aku menegaskan betapa pentingnya menjaga persahabatan kedua bangsa ini dalam level kehidupan sehari-hari yang kita bisa. ”International exchange yang sesungguhnya diperlukan itu bukan panggung yang megah dan seminar-seminar ilmiah. Tetapi lebih pada aplikasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Para orang asing berusaha mengerti tata cara kehidupan di Jepang dan mentaatinya. Sementara orang-orang Jepang juga mengerti segala keterbatasan kami dan membantu sedapat mungkin. Lantas, untuk melakukannya bisa dimulai dengan sapaan ringan pada saat bertemu di jalan atau di mana saja.” ”Kulit yang berbeda, mata yang berbeda, budaya yang berbeda bukan berarti akan membedakan Indonesia dan Jepang. Karena ada satu kesamaan yang tidak bisa dipungkiri. Manusia, dimanapun berada sama-sama memiliki hati dan keinginan bersahabat dengan sesamanya.” Itulah inti pesan yang sering kuucapkan jika diundang menjadi penceramah dalam acara international exchange . Biasanya menjadi lebih terasa maknanya ketika kutambah dengan beberapa contoh sederhana yang terjadi di sekeliling kami dan akhirnya bisa dimengerti oleh para peserta umumnya. [] 76

14. senior di bidang permesinan di kampusku, sementara Profesor Sugimura bertindak sebagai moderatornya. Sebenarnya sidang terbuka ini hanyalah formalitas, sidang sesungguhnya telah kulalui pada saat memberikan tesis ini kepada para juri. Saat itu aku harus menjelaskan secara face to face di laboratorium para juri masing- masing. Aku ditanya secara rinci mengenai latar belakang, tujuan, cara kerja, hasil, kesimpulan dan lain-lain dari penelitianku. Jika ada yang kurang pas di hati para juri, dengan mudah mereka akan meminta untuk direvisi. Ini memerlukan waktu beberapa bulan, dan kesabaran tersendiri. Tidak ada pengistimewaan karena aku orang asing dan tidak pula ada belas kasihan. Begitu aku siap menghadap, yang terpikir adalah aku harus sanggup beradu argumentasi dengan para profesor senior tersebut. Aku harus yakin, di bidang penelitian yang sempit ini, aku yang paling tahu seluk-beluknya. Semua telah selesai kulakukan dan pada akhir September 1999, aku menerima selembar ijazah yang dimasukkan ke dalam tabung wisuda. Sempat dibacakan oleh rektor yang hadir. Suyoto Rais hari ini resmi memperoleh gelar Doctor of Engineering dengan spesialis di bidang Manufacturing System . Wisuda kali ini lebih sederhana lagi. Hanya dihadiri beberapa mahasiswa program doktor di sebuah ruang fakultas. Tidak ada keluarga yang diundang dan rata-rata mahasiswa yang diwisuda adalah mereka yang bekerja di lingkungan akademik atau lembaga penelitian. Usianya juga tidak jauh beda denganku, bahkan ada yang lebih tua. [] 82

3. Masa Kepemimpinan di PPI Osaka “Semua dari kita harus bergerak lebih baik, organisasi menjadi salah satu sarana belajarnya.” (Suyoto Rais) Aktif barangkali menjadi salah satu caraku untuk belajar, termasuk ketika pada April 1994, aku aktif dalam kegiatan di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Jepang. Setelah di S3, aku juga masih aktif meneruskannya. PPI adalah satu-satunya organisasi mahasiswa dan pelajar Indonesia di Jepang yang eksistensinya diakui instansi Indonesia dan instansi-instansi lain di sana. Organisasinya berpusat di Tokyo dan saat itu dibagi wilayah koordinasi (Korda) menjadi delapan, yaitu Korda Hokkaido, Korda Jepang Utara, Korda Kanto (Tokyo dan sekitarnya), Korda Jepang Tengah (Nagoya dan sekitarnya), Korda Kansai (Osaka, Kyoto, Kobe dan sekitarnya), Korda Hiroshima, Korda Kyusyu dan Korda Jepang Selatan. Di bawah Korda ada komisariat, dan aku masuk ke komisariat Osaka. Pada hari Minggu dan libur lainnya aku sering mengikuti kegiatan PPI. Kegiatan inti yang melibatkan para anggota umumnya dilakukan di komisariat, seperti silaturahmi, buka bazar Indonesia, penyambutan mahasiswa baru dan lain-lain. Pada saat kegiatan suatu komisariat tidak cukup atau dirasa lebih baik melibatkan komisariat lainnya, baru diusulkan sebagai kegiatan Korda, misalnya penyelenggaraan Indonesia Event . Sementara kegiatan seluruh Jepang yang dikoordinir PPI Pusat adalah kegiatan rutin dua tahun sekali, yaitu Rapat Umum Pertanggungjawaban Pengurus yang digabung dengan Seminar Ilmiah yang diikuti para mahasiswa Indonesia seluruh Jepang yang berminat. Saat itu, PPI Jepang juga menerbitkan majalah semiilmiah yang bernama Inovasi. Ketua Umum PPI Pusat biasanya mahasiswa graduate dari Tokyo. Saat itu lebih dari 60% dari seluruh mahasiswa Indonesia di Jepang tinggal di Tokyo dan sekitarnya. Karena itu, sangat realistis jika ketua umum berasal dari wilayah Kanto. Ketua Umum PPI Jepang sering menjadi perebutan mahasiswa senior yang merasa mampu. Bisa dekat dengan KBRI, KJRI dan instansi Indonesia lainnya di 71

4. Jepang. Juga banyak kesempatan bertemu para menteri Indonesia yang berkunjung ke Jepang dan pejabat Jepang lainnya. Hingga suatu ketika.... Saat itu aku mengikuti rapat anggota di PPI Komisariat Osaka dan sekaligus pemilihan ketua baru. Dalam rapat tersebut, tanpa diduga aku diminta menjadi ketua PPI Osaka. Sungguh aku tidak bisa mengelak dari lamaran ini. Masa kepengurusan satu tahun kujadikan momentum untuk belajar lebih banyak tentang organisasi. Banyak kegiatan interchange culture yang kutambahkan sebagai kegiatan PPI pada masa kepemimpinanku. Di antaranya keikutsertaan PPI Osaka sebagai panitia Interpeople Undokai (pesta olahraga Jepang) yang dikoordinasikan oleh Japan Friendship Association in Kansai . Masa kepengurusan PPI selama setahun memahat begitu banyak cerita. Termasuk saat gempa Januari 1995, harus menjadi koordinator para mahasiswa Indonesia untuk membantu korban gempa. Beberapa kegiatan international exchange yang kutambahkan, salah satunya untuk menambah teman Jepang dan menambah bantuan ke mahasiswa Indonesia yang bisa kita peroleh kalau tahu cara mendapatkannya. Dan di setiap aktivitas, aku selalu berusaha mengajak keluarga dan anakku. Aktivitas semacam ini biasanya dilakukan dihari Sabtu, Minggu atau libur. Memang, kadang juga menyita perhatian. Pada bulan April 1995 aku bisa lega melepas jabatan sebagai ketua PPI. Tetapi ternyata tidak mudah berhenti dari PPI. Teman-teman di Korda Kansai malah mengusulkan agar aku diajukan sebagai calon Ketua Umum PPI se-Jepang. Bulan Agustus 1995 akan diadakan Kongres di Tokyo, dan masing-masing Korda diminta mengirimkan usulan calon. Kupikir hanya guyonan, tetapi teman-teman Kansai sangat serius. Mereka membentuk tim suksesi yang bertugas untuk memenangkan pencaloanku. Saat itu, calon mengerucut menjadi dua orang, satu dari Kanto pemegang 60% suara dan satunya aku dari Kansai, korda nomor dua terbesar tetapi hanya punya sekitar 20% suara. Tim suksesku akhirnya memang bisa mendapat dukungan semua korda selain Kanto. Tetapi Kanto sangat solid dan suaranya tidak bisa dipecah, sehingga aku tetap kalah. Ini juga sebuah pembelajaran sangat baik buatku. [] 72

5. Mengudara di Osaka! “Mengubah nasib dimulai dari mengubah cara berpikir.” (Suyoto Rais) Hidup di Jepang bukan persoalan mudah, semua serba mahal! Uang menjadi sangat penting disini, sudah tidak ada lagi belas kasihan yang bisa aku dapatkan semasa kecil di Indonesia. Aku harus berpikir bagaimana mendapatkan uang tambahan untuk keluargaku. Bekerja di laboratorium menjadi salah satu caraku mengais rezeki. Saat kuliah S3, seminggu sekali aku mengajar Praktikum Mesin di Jurusan Industrial and System Engineering di Setunan University. Aku mulai mengajar dari bulan April 1995 sampai Maret 1999, selama 4 tahun. Mahasiswa yang kuajar adalah mahasiswa tingkat 2. Dalam seminggu aku mengisi 2 jam pelajaran, setelahnya mengoreksi laporan praktikum dan di akhir semester memberikan penilaian. Sementara di kampus baruku sendiri, di laboratorium aku adalah satu-satunya mahasiswa S3. Selain aku ada 4 mahasiswa S2 dan 8 mahasiswa S1. Pembimbing utamanya adalah Profesor Sugimura dan dibantu oleh 2 orang Profesor Pembantu. Aku juga direkrut sebagai asisten lab yang bertugas untuk mengontrol kebutuhan lab secara keseluruhan. Selain itu juga diberi 2 tim untuk melakukan penelitian bersama dan membimbingnya. Masing-masing tim terdiri dari 1 mahasiswa S2 dan 2 mahasiswa S1. Dari labku aku juga mendapatkan asisten fee yang lumayan untuk menjaga dapur agar tetap mengebul. Saat masuk S3, aku sudah tidak menerima beasiswa dari BPPT. Jadi pendapatan dari part time ini sangat penting untuk bisa hidup dan kuliahku. Menjadi dosen tak tetap di almamater ini, ternyata membuatku menjadi semakin menyenangi kampus dalam suasana apa pun, dan melatih aku disiplin waktu. Aku tidak boleh terlambat di depan mahasiswa, aku harus selalu siap memeriksa hasil praktikum setelah selesai mengajar, aku harus selesai memberikan penilaian di akhir semester. Dan juga kontrol alat-alat ukur yang kugunakan untuk mengajar agar selalu tervalidasi. 73

13. S3 yang Terlambat “Tidak ada kata terlambat, hanya ada waktu yang tertunda.” (Suyoto Rais) Agak terlambat sekitar 6 bulan dari target awal, akhirnya aku bisa menyelesaikan program S3 dan diwisuda di OPU pada September 1999. Tesisku mengenai proces planning untuk sistem pemanufaturan baru yang dinamakan Holonic Manufacturing System telah kupulibkasikan di jurnal JSME 3 kali dan juga presentasi ilmiah tingkat internasional di USA dan Jepang sebanyak dua kali. Pada saat presentasi di UC Berkeley, USA, aku sempat bertemu salah seorang profesor asal Jepang di universitas papan atas lainnya di USA yang meneliti mengenai machine tool generasi mendatang. Setelah presentasi itu dia terlihat antusias bertanya banyak hal mengenai penelitianku, termasuk pada saat acara ramah tamah dan acara dinner party di atas kapal pesiar sambil mengarungi California Bay. Buntutnya dia ingin mengajak aku untuk mengambil post doc di laboratoriumnya untuk memadukan hasil penelitiannya dengan penelitian manufacturing system yang kuteliti. Kadang kami berdiskusi dalam bahasa Inggris, kadang bahasa Jepang. Aku belum memikirkannya dengan serius saat itu. Saat aku ikut presentasi internasional lain tahun berikutnya di Fukuoka, Jepang, kami bertemu kembali. Lagi-lagi dia mengulang tawarannya untuk merekrutku sebagai peneliti di lab-nya. Saat itu aku minta waktu 1—2 bulan untuk berpikir. Pertama aku aku harus pasti lulus dulu, kedua saat itu sudah mulai ada pembicaraan serius antara pembimbingku, Profesor Sugimura, dengan Denso, perusahaan papan atas di Jepang yang mendukung penelitian kami saat itu. Hasil penelitianku utamanya kupresentasikan di 2 kali presentasi internasional dan 3 kali publikasi di Jurnal JSME, dan lebih dari 10 kali presentasi tingkat nasional di Jepang, termasuk yang dilakukan oleh para junior yang kubimbing. Dari serangkaian hasil presentasi dan publikasi tersebut, kususun desertasi doktor untuk diajukan ke sidang senat kampus sebagai persyaratan wisuda S3. Sebelum wisuda, aku harus mempresentasikan penelitianku dalam sidang terbuka di kampus yang bisa dihadiri oleh siapa saja. Saat itu ada 3 juri, para profesor 81

Views

  • 90 Total Views
  • 74 Website Views
  • 16 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 1

  • 4 ijb-net.org