Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 2] p035-068

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

1. 2 Bermimpi Hingga ke Sakura “Satu mimpi yang tercapai menjadi jalan pencapaian mimpi-mimpi lainnya.” (Suyoto Rais)

8. untuk anak-anaknya. Aku jadi tahu kalau tidak ada seorang ibu yang melupakan anaknya. Jarak Indonesia Jepang justru mendekatkan aku dan ibu. Tidak ada lagi marah untuk ibu, aku justru merasa menyesal pernah merasa diabaikan oleh ibu. Setelah mengetahui bahwa ibulah yang senantiasa mengirimiku doa maka tidak ada hari tanpa meminta restu ibu. Bekerja dan berkeluarga menjadi bagian dari sejuta doa ibu yang disampaikannya setiap saat. Satu hal yang tidak pernah kulupakan adalah meminta doa ibu setiap aku akan ujian kenaikan pangkat, wawancara atau lainnya. Bahkan ujian untuk mendapatkan sertifikasi dan menaikkan nilai TOEIC juga meminta doa beliau. Komunikasi melalui telepon aku lakukan secara intens dengan ibu. Setiap menelepon untuk memohon doa, ibu tak pernah lupa menyisipkan nasihat agar aku tidak lupa salat dan juga berdoa kepada Allah di samping usaha maksimal. Termasuk menjaga badan agar tetap sehat. Suatu hari, aku pernah terlupa meminta restu ibu saat akan mengikuti wawancara di satu perusahaan. Dan akhirnya aku tidak jadi masuk ke perusahaan tersebut, karena ada hal yang kurang pas di hati. Aku kian mengerti bahwa ikatan batin ibu kepada anak-anaknya tidak pernah putus. Tidak peduli bagaimanapun ibu dan apa yang telah beliau lakukan, ibu adalah perempuan yang tidak pernah berhenti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sejuta doa ibu sematkan dalam perjalanan karierku di Jepang dan aku merasa lebih tenang setiap ada restu ibu untuk memulai segala sesuatunya. Seperti halnya, rasa tenangku akan hilang ketika belum mendapatkan doa dan nasihatnya. [] “Buku ini merupakan kisah nyata yang sungguh mengagumkan, sebuah perjuangan hidup pantang menyerah yang bisa dijadikan bahan renungan bagi mereka yang berpikir dan bersyukur. Di dalam menempuh kehidupan, sering juga kita dihadapkan pada jalan yang terjal, berkelok, bahkan dipaksa untuk terjun ke jurang, dan suatu waktu kita dituntut lagi untuk bangkit dan lari kembali. Pantang menyerah adalah salah satu kata kunci yang bisa diperoleh dari buku ini dan hasilnya kita serahkan kepada pencipta alam ini.” Ahmad Dahidi, MA. Dosen Bahasa Jepang di UPI, Bandung dan juga senior di Osaka 42

12. Para teknisi yang berasal dari Osaka, adalah orang lapangan yang kental logat Osakanya. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan logatnya, bisa jadi menganggap bahasa mereka agak kasar, terlalu cepat, dan sulit dimengerti. Selain itu, intepreter juga harus sering berhubungan dengan para kuli dan tukang bangunan di lokasi yang cuacanya panas, terik sekali. Kondisi seperti ini, memang membuat kami lebih mudah tersulut emosi. Setelah tahu aku alumni Osaka, mereka sangat berharap aku sendiri yang bertugas. Mereka bersedia membayar sesuai tarif yang kuminta: 20 ribu yen/hari atau sekitar 250 ribu rupiah untuk kurs saat itu. Selain itu, mereka juga menanggung biaya penginapan, transportasi dan makan 3 kali sehari. Aku juga meminta staf interpreter boleh bergantian dengan kualifikasi sama, dan aku yang bertanggungjawab untuk mencarikannya. Mereka pun menyetujui permintaanku tersebut. Untuk mencari tenaga penerjemah dengan tarif sebesar itu, jelas tidak sulit. Namun, jika harus ke Jawa Timur dalam waktu lama, tentu masalah lain. Maka aku mengajak beberapa teman,untuk bertugas secara bergantian. Awalnya aku menugasi seorang teman sesama alumni Jepang. Tetapi, baru beberapa hari saja, dia sudah tidak sanggup. Akhirnya, tugas tersebut digantikan oleh rekanku yang lain. Tapi, ternyata ini pun tidak bertahan lama. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus bertanggung-jawab untuk pergi sendiri dengan mengambil semua hak cutiku di BPPT. [] “Semasa di Osaka, dia bukan hanya tekun melakukan penelitian di lab kampus, tetapi juga aktif melakukan berbagai aktivitas sosial di luar kampus. Sekarang dia bisa mendapatkan hasil dari keduanya. Buku ini patut diacungi jempol dan patut dibaca bersama.” Prof. Dr. Mauridi Hery Purnomo Guru Besar di ITS, senior di Osaka 46

24. Bantuan untuk WNI setelah itu tetap berdatangan dan kami mulai sulit untuk membawanya ke Kobe. Harus dipikirkan cara lain agar bantuan segera bisa disalurkan ke mereka yang memerlukan. Bantuan sudah semakin banyak. terutama pakaian dan makanan yang tahan lama, termasuk air dalam jerigen 18 liter. Masalah lain yang timbul adalah bagaimana membawanya ke Kobe. Mobil tidak bisa sampai ke sana, sepeda motor dan sepeda terbatas daya angkutnya. Kalau saja bisa menyeberang laut, dari pelabuhan Kobe, bantuan bisa diangkut mobil teman yang ada di Kobe. Pada saat seperti itu, aku teringat seorang kenalan Jepang yang juga murid Bahasa Indonesiaku. Namanya Yamashita San. Dulu dia pejabat di Pemda Osaka yang termasuk merintis kerjasama sister city dengan Surabaya. Saat itu beliau sudah pensiun dan diminta salah satu perusahaan kontraktor besar di Osaka untuk menjadi direktur pemasarannya. Saya mencoba konsultasi barangkali ada jalan. Ternyata dia menyediakan kapal dan semua bantuan bisa dibawa ke Kobe. Berkat bantuan kapal tersebut, Yamashita San dianugerahi piagam ucapan terima kasih dari KJRI Osaka. Dan jalinan kekerabatan antara sesama anggota PPI semakin menguat, termasuk kedekatan kami dengan KJRI Osaka. Yamashita San menyambut kami dengan sangat baik. Dia bahkan menyediakan beberapa stafnya untuk membantu mengangkut barang bantuan. Dan terlihat sekali, dibalik keramahannya dia adalah seorang direktur yang tegas juga. Semua anak buahnya menurut dan membantu kami dengan senang hati. Saat itu hari libur, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin berbagi sesamanya. Itu pula yang kurasakan saat itu. Dengan kapal dari perusahaan Yamashita San, semua bantuan bisa diangkut sekali saja sudah sampai ke pelabuhan Kobe. Sementara di Kobe, sudah menunggu rekan-rekan di Kobe yang dikoordinir oleh seniorku di sana Dr. Handoko, dosen di salah satu universitas di Kobe. [] 58

10. anugerah dan juga merupakan kantor impianku sejak kecil. Memang bukan bikin pesawat, tetapi ini adalah kantor yang dipimpin oleh Pak Habibie. Jadi aku tetap saja salah seorang stafnya! Untuk menambah penghasilan, aku mencoba memanfaatkan kegemaranku menulis artikel di koran ibukota. Honornya lumayan, Rp100 ribu/artikel. Aku juga menjadi salah satu pengajar di sebuah training center , di daerah Kuningan. Lembaga ini akan memberangkatkan para peserta magangnya ke Jepang. Di sini, aku mengajar manajemen ringan dan bahasa Jepang selama 2 jam/hari setelah pulang kantor. Honor yang kudapatkan pun lumayan membantu, sekitar Rp1 juta per bulan. Selama di BPPT, aku indekos di Tanah Abang. Dikenalkan seorang teman, aku dapat harga murah, yaitu hanya dengan Rp100 ribu per bulan termasuk makan pagi dan makan malam. Untuk ke kantor juga bisa berjalan kaki. Kebetulan ada Agus Harnowo, kawan seangkatan dari Jepang, yang juga indekos di dekat indekosku. Kami sering pulang-pergi bersama, termasuk melewati malam minggu dengan berjalan-jalan bersama karena saat itu masih sama-sama jomblo. Jadi, dengan gaji yang relatif kecil pun, aku masih bisa menabung untuk membantu keluargaku di kampung. Itulah mungkin salah satu anugerah lain yang diberikan Tuhan kepadaku sehingga aku tetap memilih bertahan di BPPT waktu itu. [] “Jangan Pernah Lelah Bekerja untuk Indonesia.” Pesan Pak Habibie 44

2. “Dr. Suyoto adalah senior saya di Osaka. Saya mengenalnya bersama istri dan anak- anaknya seperti keluarga sendiri sejak masih di Osaka. Tahu banyak kesuksesannya, dan juga tahu bagaimana beliau belajar banyak kegagalannya. Buku ini berisi catatan pribadi yang patut diteladani.” Dr. Tri Ardyati Dosen di UB-Malang. Kawan sealmamater di Osaka “Saya mengenal Suyoto selama 6 tahun pada saat belajar di Setsunan University. Dia bukan hanya mahasiswa rajin di kampus, tetapi juga aktif di luar kampus. Beberapa aktivitas sosial di Kansai yang terkait Indonesia banyak yang dia koordinir. Dia bisa lulus dengan nilai tertinggi dan SKS terbanyak pada saat S2 dan hasil penelitiannya bisa dipublikasikan di jurnal ilmiah JSME. Itu pula yang membuatnya diterima untuk melanjutkan program S3 di Osaka Prefecture University sampai mendapatkan gelar doktor (testimoni diterjemahkan oleh penulis).” Prof. Dr. Toshiro Kurozawa Guru besar di Setsunan University, Osaka. Pembimbing penulis di Program S1 dan S2 “Satu semester bergaul dengan Suyoto, dia seorang mahasiswa dari Tuban yang sangat sederhana. Di kampus, kami memang sering bersama, dia merupakan seorang yang mempunyai semangat heroik yang tinggi dalam menghadapi hidup. Buku ini akan sangat memberi motivasi dan inspirasi bagi anak-anak muda di Indonesia.” Ir. Magit Fitroni, MM, M.Kom Sahabat di ITS, Dosen dan Konsultan ICT di Jakarta 36

14. diharapkan ada alih teknologinya. Sumitomo diharuskan menggandeng mitra lokal, dan dia mengajak salah satu perusahaan “plat merah” di Surabaya. Sebagai proyek dengan teknologi baru di Indonesia, konon proyek ini dibangun atas rekomendasi dari BPPT, tetapi tidak pernah ada yang meninjau langsung ke lokasi. Aku menemukan celah baru untuk melihat kondisi aktual alih teknologi di lapangan. Apa pun akibatnya, aku akan mengikuti sampai proyek ini selesai, karena ternyata untuk mencari penerjemah pengganti adalah hal yang juga cukup sulit. Sebab,“cerita horor” dari penerjemah sebelumnya, sudah beredar luas. Walhasil, teman-teman yang sedianya mau menggantikan, malah memilih untuk mengundurkan diri. Di sisi lain, ternyata para teknisi Jepang menemukan kecocokkan denganku. Mungkin karena kami sama-sama alumni Osaka. Mereka bilang, kalau saja aku mau dan mampu melanjutkan proyek ini hingga selesai maka mereka akan meminta ke Sumitomo untuk memberikan reward khusus untukku.Termasuk di antaranya, jika aku berkenan untuk bekerja di Sumitomo Group. Mereka bahkan menyanggupi untuk memberiku kenaikan honor perhari. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap di Jombang sampai proyek tersebut selesai, masalah di BPPT tidak menjadi prioritasku dan akan kupertanggungjawabkan kemudian. [] “Suyoto san yang saya kenal adalah seseorang yang berkemampuan melakoni multi tugas dalam waktu yang sama utamanya mencari ilmu, mencari energi dan vitamin hidup, dan menopang  keluarga dengan penuh perhatian.  Rangkaian pengalaman membimbingnya bersikap untuk selalu berbuat lebih baik dan lebih baik lagi. Penuangan perjalanan hidupnya melalui buku dapat menjadi insiparasi siapapun terutama generasi mudah untuk mensinergikan cita-cita, tekad, ilmu dan keluarga untuk meniti kehidupan dalam lingkungan masyarakat yang bergerak dinamis. Suka duka dan manis getir kehidupan telah membentuk sosoknya yang tangguh.” Prof. Dr. Rina Indiastuti Guru besar dan wakil rektor UNPAD, senior sealmamater di Osaka 48

16. Aku juga tidak segan menemani para tenaga ahli Jepang untuk makan malam di Jombang atau bahkan ke Surabaya di akhir pekan. Tentu saja aku masih bisa menjaga batasan tertentu, yang penting tetap menjaga hubungan baik dengan pihak Jepang dan juga pihak Indonesia. Ini juga tugas penting seorang penerjemah. Bahkan dengan sopir yang setia mengantarkan kami kemana saja, aku juga bisa akrab. Dan disaat senggang diajari menyopir mobil. Aku memang belum bisa dan belum pernah memegang kendali mobil roda empat saat itu. Dan kesempatan menjadi penerjemah di Jombang itulah kali pertama aku bisa menyopir mobil. Di saat-saat tertentu, pihak Sumitomo harus melaporkan perkembangan proyek di Surabaya. Saat itu hadir para petinggi Sumitomo Jakarta, perwakilan Sumitomo pusat dan perwakilan Departemen PU. Pihak Sumitomo selalu memperkenalkanku bukan hanya sebagai penerjemah mereka, tetapi juga sebagai staf BPPT. Mereka kelihatan senang mendapatkan penerjemah dari instansi tersebut. Beberapa bos Sumitomo juga mengenal nama Pak Rahardi Ramelan, ketua Deputi Pengkajian Industri saat itu, yang juga terlibat dalam proyek ini. Aku jadi tahu, yang mengurusi proyek ini deputi tersebut. Di akhir masa tugas di Jombang, aku mendapat hadiah terbesar dalam hidupku dari Tuhan. Yaitu, dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Tri Umiati. Saat itu, ia sedang bekerja sebagai Beauty Advisor di dekat hotel yang selalu kulewati di setiap pulang pergi. Aku sering “ say hello ”, tetapi tidak lebih dari itu. Sampai suatu saat, aku jatuh sakit dan harus beristirahat di hotel beberapa hari. Sopir yang mengantarku memberitahu Tri, demikian aku memanggilnya, dan ia mengunjungiku di suatu pagi sambil membawakan bubur ayam. Aku mulai melihat ada sesuatu yang tidak beres di hatiku dan aku sesekali mampir mengobrol di tempat kerjanya. Sampai akhirnya aku dibolehkan ikut berkunjung ke rumah orang tuanya di Mojokerto. Dia terlahir sebagai anak terakhir dari 4 bersaudara. Dari kunjungan itu, ternyata, membuat aku nekad untuk melamarnya. Kami menikah pada bulan Februari 1992, tiga bulan setelah masa kenalan pertama. [] 50

30. hari untuk membantu memandikan Dana, atau sekadar datang untuk menjenguk keadaan anak istriku. Aku bisa tenang dan pergi ke Indonesia sementara waktu. Sepulang dari Jakarta, aku melihat Dana dan ibunya yang semakin sehat. Sementara aku juga membawa kabar gembira, tahun depan aku akan menerima beasiswa lagi dari BPPT. Besarnya 180 ribu yen/bulan dan admission fee juga ditanggung oleh BPPT. Jadi, setelah beasiswa dari Heiwa Nakajima Foundation habis, aku bisa mendapatkan dari BPPT lagi. Mungkin ini rezeki si anak. Dana mampu menambah semangatku, baik di kampus maupun di luar kampus. Tetapi terus-terang, aku semakin sering pulang cepat hanya untuk melihat anak pertamaku baik-baik saja. Jarak antara kampus dan asrama tidak terlalu jauh, hanya perlu 15 menit dengan mobil. Kebetulan saat itu, seorang senior yang sudah pulang ke Indonesia, meninggalkan warisan berupa mobil tua 650 cc. Namanya, Pak Rahmad Ceha (sekarang, profesional di Bandung) dan Bu Rina Indiastuti (sekarang, guru besar dan Wakil Rektor UNPAD). Meskipun mobi tua itu di Jepang sudah tidak laku dijual (bahkan harus membayar biaya pembuangan), masih layak untuk ditumpangi. Maka, aku pun menerima warisan itu dengan senang hati. Dan statusku pun meningkat, dari pengendara scooter butut 50 cc menjadi pengendara mobil tua 650 cc. Mobil itu pula yang kugunakan untuk mengantar Dana ke rumah sakit pada saat periksa, belanja dan keperluan bergerak lainnya. Mungkin ini juga rejekinya. Setelah dia lahir, semua kehidupanku tampaknya dimudahkan. Istriku juga bertambah kenalan setelah kelahiran Dana, yakni ibu-ibu Jepang yang ingin membantu para mahasiswa asing di sana. [] 64

9. Pesan Pak Habibie “Cukup satu kata dengan sejuta langkah nyata untuk Indonesia.” (Suyoto Rais) Akhir Maret 1991, aku lulus S1 dan pulang ke Indonesia untuk bekerja di BPPT mulai awal April. Di hari-hari awal, ada acara penyambutan dari Pak Habibie. Saat itu adalah pertama kali aku bisa berjabat tangan langsung dengan tokoh nasional yang paling kukagumi. Aku ingin mengajak kakek ke Jakarta, tetapi karena masalah kesehatan dan perjalanan yang terlalu jauh, akhirnya hanya ibu yang mewakili. Dalam acara itu ada sekitar 30 orang siswa dari Jepang yang pulang dan disambut bersama orangtua masing-masing. Dalam memberikan sambutannya, Pak Habibie seperti yang kulihat di TV, selalu berapi-api menyemangati kami semua. “Kalian tidak harus bekerja di BPPT, tetapi harus bekerja untuk Indonesia. Tantangan ke depan pasti akan lebih besar, dan jangan sampai merasa lelah untuk berbakti kepada negerimu sendiri. Kalau tidak kita-kita sendiri, siapa lagi yang akan membangun negeri ini ...” demikian antara lain sambutan beliau yang masih kuingat sampai sekarang. Acara penyambutan Pak Habibie itu menjadi kenangan terindah selama bekerja di BPPT. Bahkan hingga kini! Sayangnya sambutan beliau itu bisa diartikan bermacam-macam. Ada yang mewajibkan kami harus menjadi pegawai negeri dan ada yang tidak, asal bisa membuktikan kalau hasilnya bisa kontribusi untuk Indonesia. Aku pun memilih bekerja di BPPT. Sementara beberapa kawanku sudah ada yang langsung hengkang dari BPPT setelah beberapa bulan berkantor di Thamrin. Sebenarnya ada ikatan dinas 2n + 1 tahun yang mewajibkan kami harus bekerja di instansi yang ditunjuk, tetapi ini akan menjadi dilema tersendiri kalau dilaksanakan terlalu kaku. BPPT paling hanya berusaha memanggil dan meminta pertanggungjawaban moral untuk itu. Para mantan penerima beasiswa Habibie tetap diberi keleluasaan untuk menentukan masa depannya sendiri-sendiri. Awalnya aku tetap di BPPT, yang kuanggap sebagai 43

17. Karier yang Terbuka “Selalu ada makna dari setiap langkah.” (Suyoto Rais) Setelah menikah dan tugas sebagai penerjemah di Jombang selesai, aku kembali ke BPPT. Aku tetap merasa harus konsekuen dalam menerima risiko yang akan diberikan oleh pihak BPPT. Aku berkonsultasi ke bagian personalia, ditanya banyak hal mengenai sebab mangkirku hampir enam bulan. Dan setelah kujelaskan panjang lebar, oleh pihak personalia, aku dipindahkan dari Deputi Pengkajian Kekayaan Alam ke Deputi Pengkajian Industri, di mana ketua deputinya Pak Rahardi Ramelan yang konon tahu banyak mengenai masalah proyek bendung karet ini (tokoh nasional yang kemudian diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan beberapa jabatan negara lainnya). Pihak personalia menilai aku lebih pas dipindahkan ke deputi itu. Dan ternyata itu adalah penilaian dan keputusan yang sangat bijak. Aku sangat bersyukur berkonsultasi ke orang yang tepat di BPPT dan kembali mendapatkan kursi di instansi impian! Di BPPT yang penting semua orang punya kinerja yang dinilai dari kertas kerja sebagai ”peneliti”. Mereka tidak terlalu risau ada orang baru atau orang lama, selama tidak mengganggu kinerja mereka. Situasi ini membuatku nyaman kembali. Yang penting aku bisa menunjukkan prestasi kerja dan saat itu ada semangat baru untuk menulis apa saja yang kutahu tentang bendungan karet di Jatim yang pernah kuikuti. Hari-hari awal kembali ke BPPT kulalui dengan penuh ketekunan untuk segera menghasilkan kertas kerja yang diharapkan. Kadang aku juga menulis di koran dengan materi yang sama sekali bukan bidangku. Misalnya opini mengenai budaya dan manajemen Jepang. Yang penting bisa mengumpulkan poin dan juga rupiah. Beberapa hari setelah kembali ke BPPT, aku dipanggil oleh Pak Rahardi Ramelan. Kupikir akan dimarahi, ternyata malah disuruh membuat laporan dan mempresentasikan mengenai bendungan karet hasil pengamatanku di lapangan. 51

3. Jepang, Pintu Gerbang Pertama! “Mimpi itu berawal dari keyakinan, keyakinan itu membuka kenyataan.” (Suyoto Rais) Ternyata uang sumbangan dari desa hanya cukup untuk biaya satu semester! Meskipun aku nyaris tidak perlu mengeluarkan uang untuk indekos dan makan, uang bukan hanya dibutuhkan untuk makan, tapi juga biaya lain-lainnya yang di luar perkiraan. Kuliah memang perlu biaya tidak sedikit. Aku kembali membutuhkan uang. Namun, bagaimana cara mencari uangnya? Keputusan berhenti kuliah sudah ada di kepala. Berhenti kuliah dan bekerja adalah pilihan yang tepat untukku. Sayangnya, mencari pekerjaan untuk lulusan SMA bukan persoalan yang mudah. Dari kantor ke kantor hanya berakhir dengan penolakan. Bahkan tawaran untuk menjadi pembimbing les privat pun tidak kudapatkan. Di tengah situasi yang genting, aku menemukan informasi beasiswa OFP (Overseas Fellowship Program) di BPPT yang digagas Pak Habibie, saat itu sebagai Menristek dan Kepala BPPT. Ada syarat-syarat prestasi akademik untuk bisa mendaftar, misalnya nilai rapor di atas tujuh selama di SMA dan untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak boleh kurang dari tujuh. Batasan usia, pernah ranking di sekolah dan lain-lain. Alhamdulillah, semua persyaratan terpenuhi sehingga minimal aku bisa lolos syarat administrasi dan bisa mendapatkan nomor tes . Berbekal nekad, aku pergi ke Jakarta untuk mengikuti seleksi. Uang pas-pasan tidak membuat harapanku menyurut, aku harus bisa mendapatkan beasiswa itu! Beruntung, aku mendapat tumpangan menginap di rumah kerabat seorang kawan ITS yang sama-sama ikut tes . Ya Allah, ribuan anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia ada di area tes di dekat Senayan. Mereka pasti orang-orang berprestasi di sekolahnya juga, yang mendaftar dari seluruh Indonesia! Mataku berlarian kesana kemari memandang area tes, sanggupkah aku menjadi salah satu yang terpilih? Dan ternyata aku lulus tes akademik dan maju ke tahap berikutnya. Di daftar pengumuman di BPPT, terdapat 54 anak yang lolos ke tahap berikutnya. 37

6. bahasa Jepang standar. Oleh karenanya, aku jadi sering berkonsultasi khusus ke dosen yang bersangkutan di ruang kerjanya. Bagi orang luar, logat Osaka terdengar kasar. Namun, setelah kita bisa lebih memahaminya maka yang terasa adalah jalinan keakraban dan kehangatan. Belajar dengan bimbingan secara formal saja tidaklah cukup bagiku. Jadi, aku pun tetap melanjutkan belajar bahasa Jepang sendiri di setiap waktu luang. Membawa kartu Kanji dan menambahnya setiap hari. Untuk menambah kosa kata, aku memutuskan untuk berlangganan koran Jepang. Aku selalu berusaha keras untuk bisa membacanya, untuk bisa memahaminya. Terkadang, aku juga membawa alat perekam untuk merekam materi kuliah dari para dosen dan mengulanginya lagi di rumah. Selain itu, pihak universitas juga memantapkan bahasa Jepang para mahasiswa asing melalui diadakannya kuliah khusus bahasa Jepang. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah naik tahun kedua, aku sudah bisa lulus tes bahasa Jepang level 1. Seiring berkembangnya kemampuanku berbahasa Jepang maka aku pun sudah tidak perlu lagi merekam kuliah dosen. Dan pastinya, kemampuanku dalam membaca dan memahami koran-koran umum bahasa Jepang pun semakin meningkat. Aku menyelesaikan undergraduate programme, selama 4 tahun. Maret 1991, aku lulus dengan gelar Bachelor of Engineering dan pulang ke Indonesia untuk bekerja di kantor impian, yang bernama BPPT. Ijazahku disetarakan dengan S1 dan ID Card di BPPT menulis gelar Ir. (baca: insinyur) di depan namaku. Konon di desaku saat itu kakek sering menerima ucapan selamat atas kembalinya sang cucu dan sudah jadi Insinyur. Bisa kubayangkan, wajah kakek saat itu pasti kembali muda, melebihi wajah-wajah cerah pada saat menerima rapor di SD dan SMP dulu. [] “Saya menjalin kekerabatan dengannya sejak masih mahasiswa di Osaka, di Nagoya dan bahkan setelah pulang ke Indonesia pun kami masih sering bertemu. Orangnya sederhana tetapi pemikiran dan aktivitasnya tidak sederhana. Kadang ia seorang manajer handal, kadang akademisi, dan kadang aktivis sosial. Semua bisa dilakukan dalam seorang Dr. Suyoto.” Prof. Dr. Tri Agus Siswoyo Guru Besar di UNEJ. Kawan sealmamater di Osaka 40

7. Sejuta Doa Ibu “Ibu, bagaimanapun dia di matamu, tetaplah wanita istimewa.” (Suyoto Rais) Marah dan benci pada ibu, pernah kurasakan. Ketika ibu memilih menikah kembali, menurutku adalah bentuk kurangnya kasih ibu untukku. Ibu memilih laki-laki lain, dibandingkan aku anaknya! Aku jarang diasuh ibu, aku tidak seperti anak-anak lainnya yang memiliki ibu yang selalu setia mendampingi mereka. Aku? Entahlah... Namun, waktu terus berganti, kemarahan demi kemarahan berganti menjadi sebuah penyesalan. Tidak sepantasnya aku marah pada ibu, bukankah perjuangan beliau melahirkanku sudah menjadi satu bukti kasih sayangnya? Pelan-pelan, aku mulai menyadari bahwa keberhasilanku tidak lain karena doa ibu! Ibu yang turut andil ketika aku memiliki nilai akademik yang bagus, ibu juga yang telah membantuku meraih sukses satu demi satu. Dalam segala keterbatasan yang ibu miliki, ibu memberikan sejuta doa untukku. Hari lahirku disyukuri ibu setiap 35 hari sekali. Konon, meskipun aku jarang diasuh langsung oleh ibu, dia selalu membuat syukuran seadanya setiap wetonku. Weton adalah istilah Jawa untuk menandai hari kelahiran seseorang. Karena ada 7 hari dalam seminggu dan masing-masing hari memiliki lima variasi (wage, kliwon, legi, pahing, pon) maka setiap 35 hari sekali akan ketemu wetonku, yaitu Selasa Wage. Setiap berjumpa dengan wetonku, Ibu pasti melakukan syukuran dengan membuat kue makanan atau yang lainnya meskipun hanya 1—2 biji, dan membagikan ke tetangga atau mengirim ke mushola terdekat untuk dimakan rame-rame . Konon dari sini ada doa yang dikirimkan untukku, termasuk amalan dari sedekah tersebut. Dalam kondisi sesulit apapun, satu acara ritual ini tidak pernah dilupakannya. Bahkan sampai sekarang. Aku sendiri baru mengetahuinya setelah pulang dari Jepang. Banyak tetangga yang bercerita, kalau kesuksesanku salah satunya adalah karena ibu yang selalu mengingat dan mendoakan di setiap wetonku. Ibu juga sering puasa Senin dan Kamis 41

15. Mangkir dari BPPT “Menentukan prioritas bukanlah persoalan mudah.” (Suyoto Rais) Setelah masa cutiku habis, aku mengirim faks kepada atasan di BPPT. Isinya, aku meminta izin khusus kepada beliau untuk mengikuti proyek pembuatan bendungan karet ini sampai selesai. Toh, proyek ini pun dilakukan karena rekomendasi BPPT. Dari proyek ini, diharapkan akan ada alih teknologi kepada Indonesia nantinya. Tetapi, ironisnya konon tidak ada satu pun staf BPPT yang melihat langsung ke lokasi dan tahu persis perihal kondisi di lapangan. Oleh karena itu pula, aku meminta diberikan kesempatan untuk mengikuti proyek tersebut sampai akhir. Kemudian, aku akan membuat laporan teknis dan siap mempertanggungjawabkan semua keputusanku. Aku tetap akan kembali ke BPPT, setelah proyek ini selesai. Demikian inti surat permohonanku kepada BPPT saat itu, yang kusambung dengan penjelasan via telepon. Mungkin karena permohonan dan penjelasanku lewat telepon tidak sepenuhnya bisa dimengerti atau ada pertimbangan lain, izin itu akhirnya tidak diberikan. Mungkin ini juga hal yang wajar sebagai tanggung-jawab seorang atasan. Meskipun tidak mendapatkan izin, aku tetap memilih berada di Jombang dan akan mempertanggungjawabkan keputusanku kepada bagian personalia, setelah kembali ke BPPT nanti. Aku merasa memiliki keyakinan kalau ada kesempatan menjelaskan secara langsung nanti, pihak-phak terkait di BPPT akan mengerti alasanku. Mencari penggantiku dalam waktu cepat juga tidak mudah. Bekerja sebagai penerjemah, memang gampang-gampang susah. Bukan hanya kemampuan bahasa serta seni berkomunikasi saja yang diperlukan, tetapi juga kejelian dalam membaca kondisi. Keterampilan tersebut, mutlak dibutuhkan agar seseorang mampu menyampaikan maksud atau tujuan dengan cara yang baik dan timing yang tepat sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Selain itu, aku bisa ikut masuk ke dalam bendungan karet yang panasnya bisa mencapai lebih dari 60 derajat, aku bisa ikut ngobrol dengan para kuli saat istirahat siang, atau juga menemani makan malam para teknisi sepulang dari lokasi. 49

27. Beasiswa S3 dari Heiwa Nakajima “Dapatkan hak belajar meski itu harus bekerja keras.” (Suyoto Rais) Menjelang lulus S2 aku menulis laporan ke BPPT mengenai keinginanku untuk meneruskan ke S3. BPPT memberi izin, tetapi tidak bisa memperpanjang pemberian beasiswa. Jadi, aku harus mencari beasiswa sendiri. Saat itu ada beberapa tawaran beasiswa dari kampus. Semua dari yayasan swasta di Jepang. Aku tidak bisa melamar dari Monkabusho (Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang) karena aku pernah menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia. Aku memasukkan dua lamaran ke Heiwa Nakajima Foundation dan Lion Club. Seleksi hanya dilakukan dari persyaratan administrasi, prestasi akademik dan rekomendasi dari kampus. Ternyata keduanya menerima dan aku memilih Heiwa Nakajima. Aku bisa mendapatkan beasiswa 150 ribu yen per bulan selama dua tahun, tetapi harus membayar biaya masuk sekolah sendiri. Untung Osaka Prefecture University (OPU) masuk kategori universitas publik atau negeri, biaya per tahunnya hanya sepertiga dari universitas swasta, yaitu sekitar 500 ribu yen/tahun dan bisa dibayarkan empat kali. Ini adalah pengalaman pertama membayar uang kuliah sendiri. Selain itu, di labku yang baru aku direkrut sebagai asisten oleh profesorku dan mendapatkan 50 ribu yen/bulan. Satu lagi, oleh pembimbingku terdahulu (Prof. Kurozawa) ternyata aku direkomendasikan ke Setsunan University agar bisa menjadi pengajar freelance di almamater. Aku mengajar praktikum mekanik di jurusan Teknik Industri program S1 seminggu sekali selama dua jam kuliah dan mendapatkan imbalan 50 ribu yen/per bulan. Untuk biaya hidup, aku bisa menghemat karena aku bisa tinggal di mes kampus yang sewa sebulannya hanya 9 ribu yen/bulan, dan barang-barang keperluan sehari-hari lumayan murah di wilayah tersebut. Jadi, meskipun aku satu-satunya mahasiswa Indonesia yang dikategorikan “biaya sendiri” di OPU, mungkin tidak terlalu berat. Saat itu, aku juga bisa mamakai mobil Suzuki merah pemberian senior 61

29. Selamat Datang, Perdana Suyoto “Pelengkap kebahagiaan itu bernama anak.” (Suyoto Rais) Sekitar setahun kuliah di OPU, anak pertamaku lahir. Kuberi nama Perdana Suyoto dan biasa kupanggil Dana. Anakku lahir di Onshinkai Hospital, Osaka, pada tanggal 17 Maret 1996. Tidak ada keluarga yang datang, karena aku memang tidak mengundangnya. Rumah sakit bertanggung jawab penuh. Biayanya juga murah karena kami menggunakan kartu asuransi kesehatan dan mendapatkan surat Boshi-Techo (semacam surat catatan ibu dan anak dari pemerintah). Selain itu, setelah anak lahir, aku masih bisa mendapatkan santunan sebanyak 300 ribu yen dari asuransi kesehatan. Jumlah itu sudah lebih dari biaya yang kukeluarkan untuk biaya rumah sakit. Dana lahir lebih cepat sebulan dari waktu yang diramalkan dokter. Lahir prematur dan dimasukkan inkubator beberapa hari. Aku hanya boleh menunggu di luar ruang bersalin pada saat kelahirannya, dan dipanggil suster setelah Dana dimasukkan ke inkubator di samping ibunya. Aku tak sabar untuk segera menggendongnya, tetapi aku harus bersabar sampai diberi izin oleh dokter. Tak lupa kutiupkan azan dan puji syukur di telinga kecilnya begitu aku diperkanankan mendekat ke tempat anakku. Beberapa kawan mahasiswa Indonesia berdatangan untuk menengok bergantian. Juga sahabat-sahabat Jepang yang kukenal setelah aku pindah ke Osaka Prefecture University (OPU). Di sini ada komunitas yang khusus ingin membantu para mahasiswa asing agar bisa hidup dan belajar dengan tenang. Kalau kita bisa menjalin komunikasi yang baik maka akan mudah mendapatan bantuan pada saat kita memerlukannya. Aku cukup tenang meskipun tidak ada keluarga yang datang dari Indonesia. Belum ada seminggu kemudian, aku dipanggil BPPT agar datang ke Jakarta untuk wawancara pendaftaran beasiswa baru. Aku pun pulang sendiri meninggalkan istri yang tengah merawat Dana sendiri. Untungnya di OPU telah terbentuk semacam perkumpulan ibu-ibu Jepang yang ingin membantu mahasiswa asing. Mereka bergantian datang ke rumah setiap 63

28. yang sudah pulang ke Indonesia. Aku tetap bisa konsentrasi di lab dan menikmati kehidupanku di Jepang. Berbeda dengan saat S2, di program S3 ini kuliah hampir tidak ada. Sebagian besar waktuku lebih banyak di lab. Bahkan di sini ada ruang yang diberi sofa untuk tidur dan juga kompor untuk masak sekadarnya. Aku sering hanya pulang untuk mandi dan makan, setelahnya kembali ke lab dan tidur di lab sambil menunggu hasil simulasi komputer yang memerlukan waktu berjam-jam. Di lab ini, selain aku ada empat mahasiswa master dan delapan mahasiswa undergraduate . Aku mahasiswa tertua di sini, baik usia maupun jenjang studi. Laboratorium Manufacturing System ini dipimpin oleh Prof. Sugimura dengan dibantu oleh 2 orang Associate Professor . Di lab ini, seminggu sekali aku harus membuat laporan mingguan untuk dipresentasikan bersama. Kegiatan rutin ini sangat membantu percepatan proses penelitian kami. Untuk mahasiswa yang akan mengikuti presentasi ilmiah di luar kampus, jadwal laporan dan konsultasi lebih diperbanyak. Semua mahasiswa pascasarjana nyaris jarang yang memiliki banyak waktu luang jika ingin mendapatkan hasil penelitian yang baik dan bisa dipresentasikan atau dipublikasikan di jurnal ilmiah terkait. Namun, aku termasuk orang yang beruntung, karena masih bisa memiliki beberapa aktivitas di luar kampus. [] 62

5. Lulus S1 di Osaka “Tidak ada perjuangan yang bisa dilakukan dengan cara instan.” (Suyoto Rais) Sebelum masuk ke universitas masing-masing, kami belajar bahasa Jepang di Tokyo sampai dengan bulan Maret 1987. Tepatnya di Takushoku University yang menerima para karyasiswa pemerintah Indonesia. Saat itu sudah ada karyasiswa lainnya yang dikelompokkan ke OFP angkatan ke-2. Mereka datang bulan April dan mendapatkan kesempatan dan tinggal di Jepang selama setahun sebelum masuk ke universitas yang dituju. Sementara angkatan kami masuk ke Jepang terlambat setengah tahun tetapi masuk ke universitas bersama-sama dengan angkatan ke-2 (sebelum dan sesudah OFP 2.5, tidak ada lagi angkatan setengah karena konon dinilai terlalu berat. Idealnya perlu setahun belajar bahasa Jepang dan beradaptasi di Jepang sebelum masuk ke program S1). Beberapa hari setelah mulai belajar bahasa Jepang, kami sudah disodori formulir untuk menentukan universitas pilihan dan juga pendaftaran tes wajib bahasa Jepang level 1 (sekarang N-1, level tertinggi untuk orang asing) dan juga tes persamaan pelajaran dasar Matematika, Fisika, Kimia atau Biologi. Kebetulan kami semua akan mengambil jurusan teknik maka itu adalah pelajaran wajib yang harus diambil. Tes diadakan pada awal Desember 1986, hanya satu setengah bulan sejak kedatangan kami di Jepang. Tentu berat sekali, tetapi harus diikuti sebegai persyaratan wajib untuk bisa kuliah di Jepang saat itu. Kuliah di universitas tujuan baru dimulai pada bulan April 1987. Aku memilih pindah ke Osaka, kuliah di jurusan Industrial and System Engineering , Setsunan University. Ternyata, aku adalah mahasiswa asing pertama di jurusan tersebut, predikat yang cukup membanggakan. Minimal mudah diingat para dosen dan pihak sekolah. Untuk program undergraduate (setingkat S1 di Indonesia), semua perkuliahan diadakan dalam bahasa Jepang. Saat itu kemampuan bahasa Jepangku masih sangat kurang. Apalagi kalau dosennya menggunakan logat Osaka, dimana intonasi bicaranya cukup berbeda. Selain itu, terkadang suku katanya pun berbeda dengan 39

34. suaminya bertugas di Osaka. Kadang-kadang dia bekerja secara freelance sebagai penerjemah bahasa Indonesia-Jepang dan dia segera akrab juga dengan istriku. Saat aku kuliah, yang paling kebingungan mencari kegiatan mungkin istriku. Lebih-lebih ada Dana yang masih kecil dan perlu teman bermain. Terus terang tidak mudah mencari teman di Jepang kalau kita tidak punya nyali yang kuat dan beruntung. Meskipun kita sering main ke lapangan atau taman dan ada banyak anak-anak seusia tidak lantas menjadi teman. Untuk itu ada penitipan anak-anak sebelum masuk sekolah TK atau SD, yang dikelompokkan berdasarkan usia. Tetapi untuk bisa menitipkan di sini, ayah ibu harus bekerja atau kuliah. Repotnya tidak mudah mencari pekerjaan untuk orang asing di Osaka waktu itu. Saat itu, kami banyak dibantu Mbak Minami. Kalau tidak ada orang Jepang yang mengenalkan, tidak mudah mencari pekerjaan meskipun hanya sampingan saat itu. Dan akhirnya istriku bisa diterima sebagai penjual Yakult keliling atau dikenal dengan istilah Yakult Lady . Dia menjadi satu-satunya orang asing di Yakult Center di dekat kampusku itu, dan rajin keliling menggunakan sepeda ke apartemen, rumah-rumah dan bahkan ke lab-lab profesor di kampusku. Meskipun bahasa Jepang awalnya pas-pasan saja, kesukaan istriku pada pekerjaannya ternyata membuahkan hasil. Bahasa Jepangnya meningkat baik, dan beberapa kali dia mendapat hadiah sebagai Top Sales Lady di Yakult Center tersebut. Selain itu, istriku juga memiliki banyak kenalan baru. Banyak pelanggan yang mengundangnya ke rumah mereka. Ada yang mengajaknya memanen buah, ubi dan sayur di ladangnya. Istriku juga bisa menikmati kehidupannya di Osaka. [] 68

4. Setelah tes tulis, ada tes IQ, tes wawancara, tes kemampuan diskusi dan lain-lain. Dan setelah beberapa tahapan seleksi, ternyata aku bisa lolos dari lubang jarum. Ada 27 anak yang dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa OFP saat itu, kami boleh memilih studi ke Belanda atau ke Jepang. Tanpa pikir panjang, aku segera menentukan pilihan untuk studi S1 ke Jepang! Mulai April 1986, aku resmi berstatus sebagai karyasiswa BPPT dan mengikuti training bahasa Jepang di Jakarta. Bersamaku ada 14 anak muda lainnya yang dikelompokkan sebagai penerima beasiswa OFP angkatan 2.5 (waktu dan selesai kuliah bersamaan dengan OFP angkatan 2). Dari ITS terpilih 2 orang (aku dan Arif F.), dari UGM 4 orang (Wahyu, Agus, Harnowo, Aris), dari ITB 4 orang (Erin, Teduh, Kustarto, Sagopa), dari IPB 1 orang (Zubair) dan dari UI 4 orang (Sofyan, Dedy, Arif W., Januarius). Enam bulan setelah training bahasa di Jakarta, pada tanggal 15 Oktober 1986 malam kami berangkat ke Tokyo. Hari itu sebenarnya ulang tahunku yang ke-20. Selama ini, tak seorang pun yang mengingatnya, bahkan untuk sekadar memberiku ucapan selamat. Juga dengan keluargaku. Namun, dibalik kesepian yang kurasakan, rupanya Tuhan memberiku hadiah khusus pada saat yang tepat: tiket one way ke Tokyo untuk menimba ilmu setinggi-tingginya! Keesokan harinya, kami sampai di Narita Airport. Moment yang tepat sekali, karena saat itu Jepang sudah memasuki musim gugur. Musim gugur di Jepang, menyuguhkan kesejukkan udara yang menyegarkan raga. Perihal tempat tinggal, kami ditempatkan bersama di sebuah asrama mahasiswa di Bukyo-ku, Tokyo. [] “Detail dan konsisten, demikian dua kata yang bisa saya sampaikan untuk menggambarkan Pak Suyoto yang saya kenal selama studi di Jepang. Sebagai sahabat yang kebetulan sealmamater tetapi beda jurusan, kami sering bahu-membahu melaksanakan berbagai kegiatan sosial, terutama yang berkaitan dengan Indonesia. Beliau selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya, dan mengupas segala sesuatunya secara detail. Kebutuhan sarana-prasarana kegiatan, tatalaksana dan berbagai hal-hal detail, beliau cek satu persatu dengan hitungan “ minute by minute ”, dan secara konsisten dikerjakan. Cara kerja ala Jepang yang membawanya bisa sukses berkarier setelah itu!” Prof. Dr. Achmad Subagio Guru besar UNEJ, penemu tepung singkong “MOCAF” dan kawan sealmamater di Osaka 38

22. terlalu peduli dan tetap bersiap ke kampus setelah memperbaiki buku-buku yang terjatuh. Pagi itu, aku tetap ke kampus mengendarai sepeda motor 50 cc milikku. Sampai di lab kampus yang berada di tingkat 6, aku menemukan buku-buku berjatuhan. Beberapa monitor desktop juga ada yang terguling. Anak-anak undergraduate belum ada yang datang. Profesor Kurozawa yang tinggal di ruang sebelah juga terlambat dari biasanya. Aku membenahi buku-buku dan komputer di lab, dan setelahnya menuju ruang kuliah. Tetapi profesor yang diharapkan memberikan kuliah pagi itu tidak datang tanpa pemberitahuan. Baru setelah agak siang ada pemberitahuan dari pihak kampus mengenai beberapa dosen yang tidak bisa ke kampus karena transportasi terputus total. Pelan-pelan aku mulai menyadari kalau gempa kali ini sangat dahsyat. Setelah telepon bisa difungsikan kembali, aku segera menghubungi beberapa teman sesama mahasiswa Indonesia di Osaka. Saat itu kebetulan aku ditunjuk menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Osaka. Fokus kami mencari kabar keselamatan teman-teman WNI yang tinggal di Kobe, termasuk wisma Konjen KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Osaka di distrik Mikage, Kobe. Ada kabar kalau wisma Konjen yang terletak di wilayah pegunungan aman dan dijadikan penampungan WNI. Aku ke kampus dengan memakai scooter 50 cc yang hanya bisa dipakai untuk seorang, dan kecepatan maksimal 30 km/jam. Kendaraan mungil ini ternyata banyak manfaatnya selama terjadi gempa itu. Aku bebas ke sana ke mari tanpa harus menunggu jadwal bus dan kereta. Termasuk pulang untuk memberitahu istri kalau aku akan pulang malam dan pergi ke Kobe bersama beberapa teman untuk membantu ke Kobe. Dia mulai mengerti juga kalau gempa kali ini besar, dan aku sebagai ketua PPI Osaka wajar harus menjadi orang paling sibuk karena yang paling dekat dengan wilayah gempa. Aku sangat berterima kasih juga kepada dosen pembimbing, Prof. Kurozawa yang telah memberiku waktu untuk bisa kesana ke mari. Dia bahkan bilang kalau untuk wisudaku tidak masalah, aku sebaiknya memprioritaskan untuk membantu rekan-rekan yang lebih membutuhkan. Sensei , arigatou gozaimashita (Prof, terima kasih banyak untuk semuanya). [] 56

32. Hari yang ditentukan pun tiba... Pasangan suami istri itu menjemputku di stasiun kereta terdekat. Seulas senyum menghias keduanya ketika menyambut kami. Kami segera melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang disopiri sendiri oleh Pak Inuzuka. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol dengan hangat bahkan perjalanan menuju rumahnya yang hanya 10 menit sungguh tidak terasa. Kami berkunjung di kawasan perumahan yang tenang di daerah Osaka selatan. Mulai hari itu, aku memanggil mereka dengan panggilan ” otoosan (ayah)” dan ” okaasan (ibu)”, panggilan yang biasanya untuk ayah dan ibu kandung atau mertua. ”Kami akan berusaha bisa menjadi host yang baik. Syukur kalau sedikit banyak bisa kamu anggap seperti orangtuamu sendiri di Jepang. Jangan segan-segan berkonsultasi kalau ada masalah apa pun. Kami senang sekali bertemu dengan kalian sekeluarga.” Ujar Bapak Inuzuka. Setelah pertemuan itu, kami jadi sering bertemu. Kadang-kadang Ibu Inuzuka juga datang ke rumah sekadar menjenguk istri dan anakku, membawa sayur segar yang baru dibeli atau kue dan makanan lainnya. Pada saat liburan panjang, kami juga diundang ke rumahnya dan kadang-kadang menginap. Kamar Isamu, anak tertua yang telah bekerja di kota lain, kosong bisa kupakai sekeluarga. Satu hal yang sangat berkesan adalah ketika Bapak Inuzuka mengetahui bahwa kamar mandiku rusak, beliau berbaik hati mencarikan tukang untuk memperbaikinya dan menanggung semua biaya perbaikan. Meskipun aku sudah pindah dari Osaka, aku tetap menjaga hubungan baik itu. Setiap pertengahan tahun, aku mengirimi mereka bingkisan chugen (bingkisan tengah tahun) dan pada setiap akhir tahun mengirimi oseibo (bingkisan akhir tahun). Aku juga sering menginap di rumahnya kalau sedang berkunjung ke Osaka. Aku selalu dilarang untuk menginap di hotel atau tempat lain jika mereka mengetahui aku berada di Osaka. Bahkan, alamatku sekeluarga saat ini menggunakan alamat rumahnya untuk menjaga visa permanen sekeluarga. Bagiku mereka lebih dari sekedar keluarga! [] 66

11. Menjadi Penerjemah Bahasa Jepang “Sepanjang kita tetap berjuang, solusi akan selalu ada.” (Suyoto Rais) Salah satu yang kulakukan dan juga dilakukan oleh banyak teman alumni Jepang untuk mencari tambahan penghasilan adalah menjadi penerjemah bahasa Jepang. Selain fee -nya lebih mahal dari bahasa Inggis, juga untuk mengasah bahasa Jepang. Aku juga demikian. Bersama beberapa kawan yang relatif dekat, kami membuat biro jasa penerjemah bekerja sama dan salah satu kantor relasi di Jakarta sebagai sekretariatnya. Aku juga mendaftarkan diri di beberapa biro penerjemah dan siap menerima order penerjemahan, baik secara tertulis maupun lisan. Di kantor, kalau ada materi bahasa Jepang yang perlu diterjemahkan juga demikian. Aku dan kawan-kawan alumni Jepang akan diberi tugas menerjemahkan. Termasuk saat menyambut para tamu dari Jepang. Di sini aku bisa menerima penghasilan tambahan yang lumayan dan sedikit banyak bisa mulai membangun network baru. Soal jam kerja bisa diatur. Yang penting aku hadir pada saat diperlukan di kantor dan bisa mengatur jam kerja maka semua bisa diselesaikan dengan baik-baik saja. Aku juga masih berusaha rajin menulis apa saja. Termasuk materi yang kudapatkan dari penerjemahan dengan modifikasi dan tambahan seperlunya. Kantor yang kumintai sebagai sekretariat juga mendapatkan keuntungan lain. Selain prosentasi fee khusus, mereka juga bisa mendapat kenalan baru dan kadang berujung tambahan bisnis. Jadi bisnis penerjemahan ini bisa saling menguntungkan dan nyaris tanpa modal awal, hanya perlu kemampuan bahasa Jepang dan kepercayaan pelanggan. Sekitar bulan Juli 1991, aku menerima order dari Sumitomo Group, untuk menjadi interpreter ke Jawa Timur, kurang lebih selama 6 bulan. Saat itu, Sumitomo Electric Industries yang berkantor pusat di Osaka sedang membangun bendungan karet di Kali Brantas, tepatnya di daerah Jombang, Jawa Timur. Teknisi yang bertugas di sana memerlukan interpreter. Katanya, sebelumnya sudah ada beberapa interpreter, tetapi umumnya tidak pernah bertahan lama. 45

13. Menyesuaikan Diri sebagai Alumni Osaka “Perbedaan kerapkali sulit disatukan, mencari persamaan adalah solusinya, sekecil apapun persamaan akan menyelamatkan.” (Suyoto Rais) Berangkat dengan pesawat Garuda kelas bisnis dari Cengkareng, menuju Bandara Juanda. Di sana, sopir Sumitomo sudah stand by menunggu dan siap mengantarku ke Jombang. Di Jombang disediakan pula penginapan, untukku beristirahat. Ya, sebuah kamar di hotel terbaik di kota itu. Aku bertemu dengan penerjemah sebelumnya dan aku bertanya tentang banyak hal padanya. Dia bercerita bahwa di lokasi sedang banyak masalah, mulai dari pencurian spare part sampai memburuknya hubungan personal antara antara para kuli dengan pihak Jepang. Oleh karenanya, kedua “kubu” tersebut kerap bertengkar. Nahasnya, siapa pun yang bertugas sebagai penerjemah, akan turut disalahkan, termasuk dirinya. Dia bahkan mengatakan sudah tidak sanggup lagi menghadapi kondisi seperti ini. Setelah puas berdiskusi dengan sang penerjemah, aku pun menemui para teknisi dari Jepang dan koordinator para kuli di sana. Kutanyakan terlebih dahulu duduk permasalahannya satu per satu. Aku juga sempat melontarkan pertanyaan kepada beberapa kuli di lokasi. Kesimpulanku sederhana, bahwa telah terjadi kesalahpahaman antara mereka. Apa pasal? karena ternyata sang penerjemah kebetulan bukanlah orang Jawa. Ditambah, dia pun kurang mengerti bahasa Jepang dengan logat Osaka. Aku yakin, bahwa aku bisa menyelesaikan permasalahan ini. Mulai hari itu pula, aku “menjabat” sebagai interpreter pengganti. Proyek Sumitomo di Kali Brantas itu sebenarnya proyek nasional dari Departemen Pekerjaan Umum untuk membangun dam karet di Jatimlerek, Jombang. Sementara saingannya Bridgestone , juga mendapatkan proyek serupa di Menturus, Mojokerto. Kedua proyek itu termasuk proyek baru di Indonesia, yang 47

23. Posko Mahasiswa Indonesia “Saling bahu membahu adalah kewajiban manusia.” (Suyoto Rais) Beberapa saat kemudian, telepon di lab sering berdering. Aku banyak menerima telepon dari luar, termasuk dari pihak-pihak Jepang yang ingin mengetahui mengenai keselamatan para mahasiswa Indonesia. Saat itu, karena belum ada telepon genggam seperti sekarang, telepon lab kujadikan posko sementara atas izin profesor pembimbingku. Dia malah menyumbang uang lebih dari 10 ribu yen untuk disumbangkan kepada mahasiswa Indonesia yang terkena gempa di Kobe lewat PPI Osaka. Ada satu lagi mahasiswi dari Indonesia yang kuliah di program undergraduate di jurusan lain. Tetapi hari itu dia tidak terlihat di kampus. Jadi aku sendiri yang berada di “posko darurat” ini. Dengan cepatnya, para mahasiswa Indonesia di luar wilayah gempa bahu membahu. PPI Kyoto, Nagoya, dan Tokyo banyak yang melakukan kontak. PPI Osaka dan Kyoto yang dianggap terdekat menjadi koordinator kegiatan itu. Saat itu, PPI Kyoto diketuai oleh Istin Harsiwi, seorang mahasiswi graduate di Kyoto University. Kami sering berkomunikasi untuk mengatur segala kegiatan darurat bersama ini. Bantuan makanan, pakaian, selimut dan lain-lain juga mengalir, tetapi air sangat sulit. Air botol di semua toko habis. Bahkan, untuk membeli jerigen tempat air pun sulit. Saat itu, teman-teman dari PPI Nagoya dan PPI Tokyo juga ikut ambil bagian. Ada yang secara pribadi maupun melalui organisasi membelikan jerigen dan mengirimnya ke Osaka. Aku benar-benar merasa bersyukur mengetahui semuanya. WNI ternyata mudah disatukan untuk satu tujuan kalau tujuan itu jelas dan dikoordinir oleh mereka yang saling dipercaya. Maka di hari ketiga setelah gempa, kami sudah bisa ke Kobe dengan membawa air minum dalam jerigen. Kami juga sering memberikannya ke orang-orang Jepang di jalan-jalan yang kami temui. Perjalanan ke Kobe itu dilalui dengan naik sepeda ontel da juga scooter kecil seperti yang kupunya. 57

31. Bertemu Orangtua Asuh di Osaka “Berikan kesan baik di awal untuk menguatkan hubungan baik.” (Suyoto Rais) Pada awal kuliahku di S3, Pemda Osaka sedang menggalakkan berbagai kegiatan international exchange untuk membantu mahasiswa asing dan sekaligus promosi agar banyak mahasiswa asing yang mau belajar ke Osaka. Salah satunya mengadakan Host Family Programme. Host Family Programme merupakan program penerimaan mahasiswa asing berkunjung ke keluarga Jepang dan momen itu akan menjadi pertemuan berikutnya ketika sang keluarga menjadi orangtua asuh sang mahasiswa. Tidak semua orang berhasil mendapatkan orangtua asuh. Pertemuan bisa saja berlangsung sekali kemudian berakhir. Kebanyakan dari keluarga Jepang berharap bisa mengikuti program ini dan mendapatkan anak asuh dari negara berbahasa Inggris karena harapan mereka adalah bisa sambil meningkatkan kemampuan mereka berbahasa internasional tersebut. Bagaimana dengan mahasiswa dari negara Asia? Termasuk salah satunya Indonesia, kami kurang diminati oleh masyarakat Jepang dan sering mengalami kegagalan dalam program ini. Keluarga calon orangtua asuh kadang kecewa ketika mahasiswanya tidak bisa berbahasa Inggris sesuai harapan bahkan berbahasa Jepang pun kurang lancar. Saat aku ikut mendaftar, aku mendapatkan host family orang Sakai, tidak jauh dari tempat tinggalku. Namanya Bapak dan Ibu Inuzuka. Suatu hari, kami ditelepon untuk diundang makan malam di rumah mereka. Di seberang telepon sana, terdengar suara seorang ibu yang ramah. ”Terus-terang, kami tidak bisa berbahasa Inggris. Kami juga belum pernah ke Indonesia, tapi kami sangat ingin ke sana suatu saat nanti,” demikian sang ibu meneleponku. Suara lembutnya membuat hatiku langsung terkesan, lalu aku menjawab, ”Tidak apa-apa. Saya dan istri juga lebih senang berbicara bahasa Jepang. Termasuk anak saya yang masih kecil.” 65

20. Engineering , perpaduan antara Mechanical Engineering dan Industrial System Engineering . Tema penelitianku mengenai expert system untuk perencanaan proses las gesek ( friction welding ). Kebanyakan teman-teman seangkatan yang orang Jepang semua adalah mahasiswa yang baru lulus dan sebagian besar berasal dari universitas yang sama. Selisih usiaku dengan teman-teman seangkatan sekitar 3-4 tahun. Namun, aku tidak terlalu peduli dengan perbedaan usia. Aku juga tidak peduli bisa mendapatkan teman akrab atau tidak. Orientasi dan targetku adalah menjadi lulusan terbaik di program S2 dan bisa diterima di program S3 universitas lain yang memiliki level yang lebih baik. Aku mulai tahu, jika ingin bekerja di perusahaan favorit di Jepang maka harus masuk di universitas favorit pula. Sayangnya, Setsunan University bukan termasuk universitas seperti itu. Waktu kuliah S1 dulu, aku sebenarnya tidak peduli dengan level universitas. Yang penting aku bisa belajar di bidang yang kusukai. Semua universitas di Jepang telah diakreditasi dan diakui di seluruh dunia. Mereka juga memiliki syarat-syarat kelaikan sebagai lembaga pendidikan tinggi seperti gedung, sarana laboratorium, jumlah profesor, tenaga pengajar tetap, kerapihan administrasi, perpustakaan dan lain-lainnya. Jadi, level universitas tidak terlalu penting buatku saat itu. Baru setelah aku berpikir untuk bisa masuk ke perusahaan terkemuka di Jepang maka aku harus bersiap-siap mencari universitas yang telah meluluskan banyak mahasiswanya ke sana. Ini hukum alam di Jepang dan sulit diubah. Tentu tidak mudah untuk bisa diterima di universitas favorit setelah S2 nanti. Hal itu harus ditunjang oleh angka-angka di transkrip, ijazah, dan juga hasil penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah. Aku harus punya rencana dan target per tahapan yang matang. [] 54

18. Katanya dia akan menghadap ke menteri PU dan akan diminta pandangannya mengenai proyek bendungan karet di Jawa Timur tersebut. Aku mulai menyusun paper yang diminta. Ternyata keikutsertaanku di proyek Jombang ada manfaatnya untuk instansiku juga. Paper aku serahkan ke Pak Rahardi Ramelan, kurinci permasalahan di lapangan mengenai kekurangjelian dan kekurangsiapan kita menyerap teknologi bendungan karet ini. “Mitra di Indonesia yang dipilih mereka ternyata hanya menyediakan tenaga kasar level kuli. Konsultan teknik, spare part bahkan termasuk baut yang kecil- kecil pun semua didatangkan dari Jepang secara utuh. Harusnya mitra di Indonesia bisa memilah mana yang bisa dikerjakan oleh putra-putri Indonesia sendiri dan spare part yang bisa dipasok dari dalam negeri. Menurut saya, apa yang saya daftar di tabel ini masih bisa diupayakan di sini. Nanti kalau ada proyek serupa, mungkin bisa dicoba.” Sejak itu, aku kembali percaya diri dan merasa menjadi bagian dari BPPT. BPPT merupakan instansi yang paling kucintai dan ingin kutempati sejak kecil. Aku semakin rajin melakukan “penelitian” apa saja agar bisa kutulis dan menghasilkan kredit kenaikan. Tetapi kondisi nyaman ini justru membuatku berpikir terus, apakah benar ini ouput dariku yang diharapkan masyarakat Indonesia? Kalau aku mulai rajin menulis paper apa saja, mungkin aku cepat bisa mengumpulkan kredit untuk kenaikan pangkat, tetapi rasanya ada yang kurang pas di hati. Aku tidak pernah melihat hasil kerjaku dimanfaatkan oleh orang lain. Aku merasa interaksi dengan orang- orang calon pengguna di tahapan berikutnya tidak ada. Aku jadi berpikir untuk mendapatkan kesempatan belajar ke Jepang lagi dan kalau bisa bekerja di industri riil agar tahu aplikasinya, baru siap kembali ke Indonesia. Jepang adalah negara yang terkenal dengan kemampuannya mengadopsi hasil penelitian negara lain, memanfaatkannya menjadi produk buatan Jepang dan improvisasi lebih baik lagi. Aku harus berada di luar sistem penelitian Indonesia kalau ingin tahu dan merasakannya sendiri. Itu yang kupikir saat itu. [] 52

33. My Yakult Lady ! “Jaga hubungan dan kerjakan apa saja yang penting halal.” (Suyoto Rais) Selain keluarga Inuzuka, banyak sekali orang baik yang membantuku di Jepang. Salah satunya adalah Bapak Yamashita yang pernah membantu meminjami kapal perusahaannya untuk mengangkut bantuan ke Kobe pada waktu gempa bumi dulu. Dulu dia kepala bagian konstruksi yang juga menjadi salah satu pionir hubungan sister city Osaka dan Surabaya. Konon, dia banyak dimintai masukan pada saat pemda Jatim memikirkan konsep pembangunan jembatan Suramadu. Bapak Yamashita termasuk fans berat Indonesia. Dalam usianya yang sudah mendekati senja, dia masih semangat belajar bahasa Indonesia. Seminggu sekali, dia datang ke rumahku di Sakai. Dari rumahnya di Kyoto memerlukan waktu lebih dari 2 jam naik mobil atau lebih dari 1 jam naik kereta. Kadang dia datang bersama istrinya, dan mereka menganggap kami seperti anak-cucunya sendiri. Selain belajar bahasa Indonesia kepadaku, ia juga mengambil kursus di kelas seminggu sekali di Osaka. Dan juga masih pergi ke Indonesia, terutama Bali, minimal setahun sekali. ”Saya akan tetap belajar bahasa Indonesia meskipun level saya tidak bisa naik lagi. Ini untuk obat pikun saya,” demikian dia sering berseloroh. ”Saya juga sangat senang pergi ke Indonesia menenteng peralatan kamera dan berbincang-bincang dengan orang-orang Indonesia yang saya temui di jalan-jalan.” (Seumur hidupnya, sudah lebih dari 30 kali dia wisata ke Indonesia. Sampai sekarang saya masih sering berkomunikasi dengan beliau. Sayangnya, sekarang usianya sudah lebih dari 80 tahun, istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu dan sudah tidak kuat ke Indonesia lagi. Aku yang selalu mengunjunginya di setiap ke Osaka dan Kyoto). Satu lagi sahabat Jepang yang kudapat pada saat mengikuti kegiatan international exchange di luar kampus. Namanya Izumi Minami, alumni jurusan bahasa Indonesia dari Tokyo University of Foreign Study dan sangat pintar berbahasa Indonesia. Saat itu Mbak Minami, begitu kami biasa memanggil, baru pindah dari Tokyo mengikuti 67

19. Kembali ke Jepang “Keyakinan sejalan dengan kenyataan.” (Suyoto Rais) Pada bulan Oktober 1992, kembali ada pembukaan pendaftaran beasiswa ke luar negeri di BPPT. Untuk staf BPPT syaratnya agak ringan, lulus seleksi internal, mendapatkan izin atasan dan terakhir mendapatkan profesor pembimbing yang mau menerima di program S2. Aku pun segera konsultasi ke atasan langsung Pak Irwan Ibrahim, Direktur Pengkajian Industri Mesin dan Elektronika (PIME), dan Alhamdulillah mendapat izin. Izin dari Pimpinan Deputi Pengkajian Industri (PI), Pak Rahardi Ramelan, atasan dari Pak Irwan Ibrahim dan notabene atasan seluruh pegawai di PI, juga segera kudapatkan. Mereka para atasan yang bijaksana. Mangkirku selama ini tidak dipermasalahkan, malah menjadi point plus karena aku mampu membuat laporan dan presentasi yang diperlukan BPPT. Selanjutnya aku mengikuti proses seleksi internal dan juga lulus. Tinggal masalah terakhir, aku harus mencari profesor pembimbing dan lulus ujian masuk ke S2. Aku kembali menulis surat kepada profesor pembimbingku saat di S1 dulu, Prof. Toshiro Kurozawa di Setsunan University. Kujelaskan mengenai keinginanku untuk melanjutkan studi. Dia menyambut baik hal itu, tetapi aku tetap diharuskan mengikuti tes ujian masuk seperti mahasiswa Jepang umumnya karena aku lulus S1 dari Jepang. Februari 1993 aku pergi ke Jepang untuk mengikuti seleksi S2. Di sini, aku tidak mendapatkan perlakuan istimewa sebagai mahasiswa asing karena aku lulus S1. Jadi, aku harus mengikuti seleksi bersama para mahasiswa Jepang umumnya. Alhamdulillah lulus juga dan mulai April 1993, dua tahun setelah kepulanganku ke Indonesia, aku melanjutkan studi ke Master Program of Mechanical and System Engineering , Graduate School, Setsunan University. Kali ini aku memiliki gambaran yang lebih konkret mengenai apa yang harus kupelajari dan kulakukan nanti. Pada bulan April 1993, aku kembali ke Osaka untuk memulai studi ke Program S2 di Setsunan University. Kali ini aku mengambil jurusan Mechanical System 53

21. Tetap Ke Kampus dalam Gempa “Musibah ada dimana-mana, pastikan kita siap.” (Suyoto Rais) Di tengah-tengah kesibukanku menyusun tesis S2, tanggal 17 Januari 1995 adalah hari yang sulit kulupakan. Saat itu sekitar pukul 06.00 pagi waktu Jepang telah terjadi gempa hebat di sekitar Kobe yang dikenal dengan sebutan Hanshin-Awaji Daishinsai (Bencana Besar di wilayah Osaka-Kobe-Awaji) atau dikenal dengan nama resmi bahasa Inggris sebagai The South Hyogo Prefecture Earthquake in 1995. Suhu udara pada musim dingin bisa mendekati nol di wilayah Kobe dan sekitarnya. Gempa ini menewaskan lebih dari 6000 jiwa, lebih dari 40 ribu orang luka-luka dan banyak bangunan besar rusak berat, termasuk jalan-jalan utama dan life line lainnya di wilayah tersebut. Saat kejadian itu, aku tinggal di kota Ibaraki, daerah Osaka sebelah Timur. Meski pun jauh dari pusat gempa, tetapi goncangannya terasa sekali. Beberapa buku di rak buku terjatuh. Televisi dan telepon tidak berfungsi. Awalnya, aku tidak tahu kalau gempa kali ini begitu hebat. Di Jepang, sering terjadi gempa dan informasinya selalu ditayangkan hampir real time di semua televisi. Kupikir saat itu juga kurang lebih sama. Bulan Januari masih musim dingin. Biasanya aku bangun sekitar pukul 06:00 juga untuk salat subuh dan siap-siap ke kampus. Waktu fajar pada musim dingin lebih lama, jam enam masih agak gelap. Saat itu segera terasa ada goncangan di ruangan yang lumayan besar. Buku-buku di rak berjatuhan, televisi juga bergoyang seolah akan jatuh juga. Istriku bingung, dia baru pertama kali merasakan gempa. Tetapi kutenangkan dan santai saja. ”Gempa seperti ini biasa di Jepang. Coba kita nyalakan televisi dan mencari informasinya. Biasanya akan segera diinfokan hampir on time , dimana terjadinya dan seberapa besar kekuatannya.” Namun saat itu, televisi tidak lagi bisa memberikan informasi. Semua saluran mati. Mungkin agak besar dan perlu menunggu beberapa menit lagi. Aku idak 55

25. Lulus S2 dengan ” Summa Cum Laude ” “Jadilah yang terbaik.” (Suyoto Rais) Pada Maret 1995, aku mengikuti wisuda S2. Saat itu, istriku sudah tiba di Jepang. Aku mengajaknya ke kampus melihat prosesi wisuda kami. Namun, wisuda di Jepang tidak semeriah di Indonesia. Di aula kampus, wisuda hanya dilakukan secara simbolis. Seorang mahasiswa yang nomor mahasiswanya paling muda dipanggil ke depan untuk menerima ijazah dan setelahnya dilakukan di fakultas masing-masing. Semua nilaiku A, sehingga kalau dilihat di sistem penilaian Barat bisa dikategorikan “ Summa Cum Laude ”. Jika dilihat dari jumlah kredit dan juga jumlah presentasi dan publikasi di jurnal bidang terkait, aku menempati peringkat pertama. Namun, di Jepang tidak terlalu lazim menerapkan sistem peringkat yang dipublikasi luas di lingkup kampus. Peringkat hanya digunakan untuk menentukan rekomendasi ke perusahaan tempat bekerja, ke universitas selanjutnya apabila akan melanjutkan kuliah, atau melamar beasiswa dan grant lainnya. Hanya profesor pembimbingku yang mengetahui dengan pasti, dan beliau menyampaikan apresiasi untuk semua prestasiku. ”Tidak ada teman-teman seangkatanmu yang mendapatkan jumlah SKS dan juga nilai melebihimu. Lebih-lebih jika dilihat dengan banyaknya publikasi ilmiah. Aku bangga dan terima kasih banyak untuk semuanya. Tolong semangat belajarmu tetap dijaga di kampus berikutnya. Kamu pasti bisa berprestasi lagi dengan baik,” demikian profesorku memberikan nasihat terakhir sambil memberikan bingkisan berupa sepasang bolpen dan pensil ” Paper Branded ”, yang jika dipakai sehari-hari rasanya sangat sayang. ”Saya yang sangat berterima kasih Sensei . Atas bimbingan sensei juga saya bisa lulus S2, diterima di S3 dan mendapatkan beasiswa dari Jepang.” Profesor Kurozawa sebenarnya masih belum jadi guru besar penuh pada waktu membimbingku. Konon, berkat penelitianku yang beberapa kali di presentasikan di presentasi jurnal ilmiah terkait dan dipublikasikan dua kali di jurnal JSME (Japan Society Mechanical Engineers), salah satu himpunan ilmiah tertua di Jepang 59

26. dan paling dihormati di jurusan mesin dan industri, dia dianggap telah mampu membimbing mahasiswa pasca sarjana dan kemudian diangkat menjadi guru besar. Di bawah bimbingannya, aku melakukan penelitian mengenai pembuatan Expert System untuk mendukung proses planning di friction welding . Lab tempatku di Setunan University utamanya mengembangkan sistemnya, sementara hardware berupa mesin las, mesin bubut, dan peralatan praktikum lainnya bekerja sama dengan Laboratorium Friction Welding yang dikelola oleh Prof. Ogawa di Osaka Prefecture University. Kolaborasi penelitian seperti ini sering dilakukan di Jepang. Ini sekaligus memperkuat network sesama peneliti. Selama dua tahun kuliah di program S2, hampir setiap minggu aku ke lab Prof. Ogawa, untuk melakukan praktik dan mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk mengembangkan sistem. Dibantu oleh dua mahasiswa undergraduate yang kubimbing. Beberapa kali kami mempresentasikan hasil penelitian kami di presentasi ilmiah gakkai (himpunan ilmiah) terkait, seperti Gakkai JSME atau JSPE ( Japanese Society Presicion Engineers ). Untuk presentasi, tidak terlalu sulit. Asal bisa mengirimkan paper sesuai waktu yang dijadwalkan, semua penelitian akan diterima. Dan bagi para mahasiswa dijadikan semacam ajang untuk latihan presentasi hasil penelitian masing-masing. Sementara kalau untuk publikasi di jurnal ilmiah ada penjuriannya dan sering memerlukan waktu beberapa bulan sampai ada kepastian bisa dimuat. Selama itu akan ada beberapa kali pertanyaan dari juri, umumnya profesor dan expert di bidang tersebut dari universitas lain, yang harus dijawab. Untuk lulus S2 tidak disyaratkan bisa mempublikasikan hasil penelitian di jurnal ilmiah. Ini biasa dilakukan mahasiswa di program doktoral. Kalau aku berusaha keras agar penelitianku bisa dipublikasikan di JSME, itu hanya untuk menunjukkan kalau aku pantas direkomendasi ke S3. Dan itu bisa kulakukan 2 kali, sebuah pencapaian yang tidak mudah untuk level S2. [] 60

Views

  • 105 Total Views
  • 87 Website Views
  • 18 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 2

  • 6 ijb-net.org
  • 2 ijb-net.balaikota.info