Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [BAB 1] p017-034

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

14. sendirian dan aku tidak tega sehingga terpaksa minta izin lebih dari seminggu. Aku tidak bisa membayangkan hati ibu pada saat itu, dalam kondisi kekurangan uang dan harus sendirian menunggui anak kecil yang lunglai menunggu takdirnya. Maka aku merasa pilihan terbaik saat itu adalah menemani ibu. Selama menunggu, aku tidur di mana saja di area rumah sakit bertikar koran atau apa saja. Sambil tetap membawa beberapa buku pelajaran dan belajar sedapat mungkin. Di depan RS. Soetomo ada kampus megah UNAIR dan beberapa mahasiswa kedokteran yang sedang praktik tampak begitu bahagia berbincang- bincang dengan teman-temannya. Pemandangan biasa yang membuatku begitu sedih saat itu. Aku hanya bisa bermimpi seperti mereka! Semester 4 kulalui dengan prestasi yang jauh dari harapan. Jangankan juara sekolah, juara kelas pun tidak. Yang lebih membuatku frustasi adalah saat itu ada pemilihan pelajar teladan yang akan dikirimkan mewakili sekolah ke Kabupaten Tuban. Joko Sulistiyanto, sahabatku sejak SMP yang selama ini selalu membuntutiku terpilih. Saat itu dia ranking teratas di sekolah, jadi wajar kalau ditunjuk sebagai wakil sekolah. Di Tuban, ia dapat menyabet juara dua! Sekolah menyambutnya sebagai pahlawan. SMA baru yang guru-gurunya masih berganti setiap semester. Sekolah yang belum punya lab dan perpustakaan. Mampu meraih prestasi sedikit di bawah SMAN 1 Tuban yang memang sudah hebat sejak dulu di daerah Tuban. Aku seharusnya ikut bangga, sekolahku berprestasi. Tetapi kabar itu membuatku semakin frustasi saja. Kenapa pada saat-saat menentukan itu aku harus menunggui adik operasi? Kenapa Tuhan tidak menolongku untuk menjadikan aku wakil sekolah dan juara satu di Tuban agar ada orang atau lembaga yang memberiku beasiswa? Aku bahkan sempat iri kepada Joko yang selalu menjadi sahabat dan saingan terberatku sejak SMP. Ia terlahir dari keluarga mapan, anak terakhir tanpa beban, bisa indekos di rumah yang tenang dan memiliki fasilitas belajar cukup. Sudah begitu orangnya tampan, berkulit bersih, lumayan tinggi dan ramah terhadap teman-temannya. Kenapa anugerah itu tidak ada padaku Tuhan...? Di mana keadilan-Mu? [] 30

18. tidak akan pernah terjadi. Tetapi Ibu justru melihat ini peluang untuk meringankan beban keluarga dan mungkin lebih baik untuk masa depan Teguh. Teguh juga mau, tetapi minta ditemani kakaknya Titik (adik tertuaku). Sang nenek tidak keberatan, bahkan lebih sayang ke Titik. Maka, adikku berdua akhirnya ikut orang berhati mulia di Sidoarjo. Saat itu Titik baru naik ke kelas 5 SD dan Teguh kelas 1 SD. Di tengah jalan, Teguh lebih memilih pulang dan tinggal bersama kakek. Sementara Titik sudah terlanjur pindah sekolah dan meneruskan sampai lulus SD. Dia baru kembali pulang setelah melanjutkan ke SMP. Di mata Titik, mungkin sebaik-baik orang lain, tetap saja tidak bisa menggantikan peran ibu kandung. Sebelum menyadari betapa peran ibu sangat luar biasa dalam perjalanan karierku, aku pernah marah pada ibu yang menganggap tidak memperhatikan kebutuhanku. Saat itu, kuliah di ITS menjadi masa yang cukup menguras otakku. Setelah aku mengatakan hal tersebut pada ibu, Ibu nekad mendaftarkan diri menjadi pembantu rumah tangga ke Arab Saudi. Aku tahu, ibu hanya sebagai buruh menjahit dan itu tidak cukup membiayai kuliah, bahkan untuk makan pun kadang tidak cukup. Tapi, rasa marahku membutakan. Dan ibu nekad mendaftar jadi pembantu sebagai peruntungan baru, agar bisa membiayai kuliah dan sekolah anak-anaknya. Ibu berangkat ke Jakarta bersama beberapa wanita desa lainnya yang juga akan mengadu nasib yang sama. Tentu saja adik-adik menangis semua, dan berharap Ibu tidak meninggalkan mereka terlalu lama. Tetapi “kemarahanku” dan keinginannya agar aku bisa tetap kuliah mengalahkan segalanya. Ibu tetap berangkat ke Jakarta. Ibu sempat tinggal di asrama selama berhari-hari. Di saat-saat menjelang keberangkatan, ternyata ada masalah administrasi yang tidak lengkap. Selain itu, Ibu juga dianggap sudah terlalu tua. Ya, ibu terlalu tua untuk menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi! Ibu akhirnya pulang ke desa dengan wajah pasrah. Kehilangan uang untuk pergi ke Jakarta dan pulang dengan tangan hampa. Hingga, salah satu kawanku di kampus menawari untuk ikut tes beasiswa ke luar negeri bersama-sama. Saat itulah banyak hal yang terjadi padaku. Aku mulai tahu kalau Tuhan memang tidak pernah mencoba hamba-Nya di luar kemampuan masing-masing. Hanya saja, perlu kesabaran, ketabahan dan juga kebijakan untuk mengerti artinya. [] 34

6. satunya yang bisa membuatku pisah adalah aku harus sekolah. Untuk itu, aku pun terpaksa diganti tanggal lahir agar sudah cukup umur. Karena itu, jangan heran kalau wetonku yang sebenarnya Selasa Wage tidak pernah sama dengan tanggal lahirku 15 Oktober 1966. Ternyata setelah masuk sekolah, konon aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Meskipun tidak ranking satu, tetapi masih terbilang ranking atas. Dan setelah naik kelas dua, baru bertahan di peringkat atas. Aku teringat kebiasaanku belajar di waktu SD. Tidak banyak orang tahu, kalau aku sering menangis sendiri di kamar kalau ada pelajaran yang tidak aku mengerti. Aku seorang anak kecil yang pendiam dan pemalu di sekolah. Tidak tahu, pun tidak berani bertanya. Sementara di rumah tidak ada seorang pun yang bisa mengajariku. Aku harus belajar sendiri! Meski kadang belajar kulakukan bersama teman- teman anak tetangga, tetapi sebatas pada hal-hal untuk mengerjakan PR dan hal-hal yang bisa dilakukan bersama. Membaca dan menyimak misalnya. Di luar itu, keingintahuanku mengenai isi buku secara keseluruhan ada. Kadang aku belajar terlalu jauh sendiri, dan itu tentu membuat aku bingung apa artinya. Kalau sudah seperti itu maka satu-satunya hanya menangis di kamar. Bahkan aku pun malu kalau ketahuan kakek nenek, atau famili yang sedang berkunjung. Entah kenapa, aku selalu merasa menjadi nomor dua bukanlah pilihan. Dan itu juga persembahan untuk kakek. Bagiku kakek adalah orang yang amat berjasa dalam hidup ini. Seluruh kerja kerasnya hanya tertumpah demi aku sekolah. Mungkin saja, kesal, jengkel, dan marah pernah kakek rasakan saat mengasuhku, tetapi semua jerih payah dan rasa capek perjuangan itu konon bisa hilang pada saat dia menerima rapor. [] “Saya tidak bisa menolak pada waktu Suyoto kecil diantar oleh kakeknya ke rumah kontrakan saya pada waktu baru naik kelas 2 SMP dulu. Dia murid pintar yang saat itu perlu uluran tangan agar tetap bisa sekolah. Maka saya terima untuk tinggal bersama dan dia membantu pekerjaan apa saja. Saya ikut bangga mendengar kabar dia berhasil mendapat beasiswa ke Jepang, sukses di sana dan akhirnya kembali ke Indonesia untuk berbakti di negeri ini.” Drs. Bambang Sutrisnohadi Mantan Guru SMPN Singgahan Kab. Tuban yang pernah mengasuh penulis selama di SMP 22

12. Memang tidak juara satu, namun aku tetap mendapatkan piagam juara juga. Di situ aku berkenalan dengan peserta dari kecamatan Montong. Namanya Joko Sulistiyanto, anak terakhir dari keluarga mapan yang menjadi juara kecamatan Montong, kecamatan tetangga (Setelah lulus SD, ia masuk ke SMP sama denganku karena di Montong belum ada SMP. Dan kami sering bergantian untuk menduduki ranking teratas di sekolah. Ia satu-satunya kawan seangkatan di SMA yang sama- sama diterima di ITS, dan kemudian mendapatkan gelar insinyur dan sekarang menjadi salah satu pejabat di PT Semen Indonesia). Setelah Lomba Pelajar Teladan di Tuban itu, aku sering diikutkan Lomba Cerdas Tangkas di tingkat kecamatan dan sering menang. Lalu pada saat ada perayaan 17 Agustus di kecamatan, sesekali namaku juga dipanggil ke panggung untuk menerima hadiahnya. Saat itu, ada guru yang bercerita kalau di Indonesia ada orang super genius bernama Habibie. Dan entah dorongan dari mana, terpikir betapa hebatnya kalau suatu saat aku bisa bertemu beliau dan syukur bekerja bersamanya. Dengan berbagai keterbatasan informasi saat itu, aku mulai penasaran dengan nama Habibie tersebut. Dan setiap mendengar namanya, selalu saja memberikan inspirasi tersendiri yang sulit kuungkapkan. Aku memang tidak pernah mengatakan secara terbuka, tetapi dalam hati kecilku ingin sekali kalau sudah besar nanti merantau ke Jakarta untuk bisa bertemu Pak Habibie dan menjadi stafnya. [] “Pak Harjo semasa hidupnya sering bercerita mengenai Mas Suyoto sebagai “anaknya yang kuliah di Jepang”. Beliau sangat senang pada saat Mas Suyoto pulang dan mengunjunginya. Kesuksesan Mas Suyoto pasti akan semakin membuat beliau tenang di sisi-Nya. Buku ini saya baca sambil menitikkan air mata dan menemukan tambahan semangat baru ke depan.” Bu Harjo Istri almarhum Soehardjo, dosen ITS berhati emas yang memberi tumpangan dan makan gratis di Surabaya 28

16. “Suyoto adalah salah satu sahabat saya yang ulet, tangguh, dan pantang menyerah. Kami bersekolah di SMP dan SMA yang sama, selama belajar itulah saya mengenal betul bahwa dia memiliki kecerdasan yang luar biasa walaupun dengan kondisi yang serba terbatas, dia selalu menempati ranking teratas di sekolah. Seperti ungkapan bahasa arab “ man jadda wajada ” barang siapa bersungguh-sungguh pasti bisa, itulah yang diceritakan dalam buku ini sehingga sungguh menarik untuk dibaca dan sebagai sumber motivasi untuk berbuat yang terbaik dalam hidup ini.” Ir. Joko Sulistiyanto Sahabat penulis, karyawan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Aku merenung lama. Kembali bertanya kepada Tuhan di keheningan malam, dan memohon petunjuk. Aneh, aku merasa seperti ada angin baru di dadaku. Aku kembali punya semangat. Tinggal beberapa bulan lagi aku akan mengakhiri masa SMA, aku harus bisa kembali menjadi ranking satu! Kalau pun SMA menjadi ajang pendidikan terakhirku, aku tidak boleh menyesal karena prestasiku. Masalahnya aku tidak punya buku latihan soal yang cukup. Tidak punya buku referensi lain selain buku pelajaran yang diberikan sekolah. Sementara perpustakaan sekolah juga belum ada. Maka satu-satunya jalan adalah aku mencoba bertanya kepada kawan-kawanku. Tentu saja kawan-kawan kelas tiga juga perlu dan tidak mudah meminjamiku. Karena itu aku mencoba mencari info kepada adik-adik kelas yang punya buku referensi dan latihan soal. Ternyata melalui mereka, aku segera mendapatkan pinjaman buku-buku yang kuperlukan. Di sampulnya tertulis nama yang sulit kulupakan, yaitu Aini! Kata temanku, itu buku yang baru dia beli dan dipinjamkan ke aku sampai selesai ujianku. Ada semangat luar biasa yang tidak bisa kuungkap di sini. Buku baru kukembalikan sendiri ke Aini setelah ujian selesai. “Terima kasih, berkat buku-buku yang kamu pinjami ini, rasanya aku bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.” “Sama-sama, kebetulan aku belum perlu banget. Semoga hasilnya baik” Itu adalah percakapan kami yang pertama dan terakhir. Pada saat namaku diumumkan sebagai Juara Umum baik NEM maupun nilai ijazah, aku sangat ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi ke Aini. Tetapi sudah tidak ada keberanian untuk menemuinya. Aku hanya menerima ucapan selamat lewat seorang kawan dan juga titip ucapan terima kasih. [] 32

4. Menyelesaikan SMP dengan penuh perjuangan, demikian juga ketika aku akan melanjutkan ke SMA di Jatirogo, keputusanku saat itu adalah aku harus tinggal di pondok pesantren tua agar tidak perlu uang kos. Pengasuhnya K. H. Mawardi (almarhum), seorang kyai sepuh yang cukup dikenal di daerah Tuban. Beliau sangat ikhlas menerimaku, meskipun tahu kalau tujuan utamaku bukan untuk belajar agama. Dengan jujur juga kuakui kalau aku tidak pintar mengaji dan bukan dari keluarga santri. ”Yang paling dicintai Allah itu bukan orang yang pinter ngaji , bukan yang hafal Alquran dan tahu banyak dalil-dalil yang diperlukan. Namun, mereka yang benar-benar ikhlas menjalani kehidupan ini dengan segala ritual yang diperlukan, dan ikhlas menolong sesamanya. Kalau semua didasari dengan ikhlas, semua akan terasa ringan. Silakan saja tinggal di sini selama kamu mau.” Demikian kata bijak itu masih selalu kuingat seolah beliau tahu persis gejolak hatiku saat itu. Selama di pondok itu, aku nyaris tidak perlu keluar uang untuk biaya hidup. Beras juga disumbang oleh seorang guru SMP di desa dengan cara memberikan jatah beras pegawai negerinya setiap bulan. Perempuan yang sangat berjasa itu adalah guru IPS dari Surabaya, bernama Bu Ririn Alviati, kini beliau bertugas di Jakarta dan sudah kuanggap orangtuaku sendiri. Sementara untuk lauknya, aku sering diberi para tetangga pondok karena aku selalu siap membantu apa pun yang mereka minta. Sering juga hanya makan dengan lauk sambal dan garam, tetapi semua terasa nikmat karena dimakan rame- rame bersama para santri lainnya yang juga hidup prihatin! Gus Asnawi (sekarang karyawan swasta dan ustad di Gresik, Jawa Timur) dan Gufron (kepala sekolah SMA di Sulawesi) yang tinggal di ”gotak” yang sama (kamar di pondok pesantren yang berlantai kayu dan tidak ada apa-apa di dalamnya. Seperti kotak yang hanya cukup untuk menaruh barang-barang keperluan sehari-hari dalam jumlah minim. Untuk tidur pun tidak bisa di dalam kamar, tetapi di lokasi pondok lainnya). Kemudian ada adik kelas Januri dan Harsono dari SMP yang sama yang menyusul. Di hari-hari awal mereka selalu menangis dan mengeluh tidak bisa makan dan tidak bisa belajar, tetapi selalu kunasihati bahwa ini hanya ”sandiwara 3 tahun”, tidak selamanya! Untuk membayar SPP dan membelikan keperluan sekolah lainnya, kakek sering menggadaikan sawahnya. Dan kadang-kadang aku harus menyumbang dengan berjualan es lilin sepulang sekolah. Pernah juga mengamen keliling kabupaten Tuban pada saat libur panjang untuk menambah uang SPP, meskipun aku hanya bisa bermain gitar pas-pasan. [] 20

8. baru kali ini ada seorang putra desa yang diterima di PTN papan atas. Itu sungguh hal yang tak akan kulupakan selamanya! Bukan hanya berbekal belas kasihan saat menuju Surabaya. Saat di Surabaya aku juga tidak perlu indekos, sebab Ibu Ririn, guru SMP yang memberiku beras selama 3 tahun semasa SMA mengenalkanku pada seorang dosen yang memerlukan seorang pembantu. Almarhum Pak Soehardjo saat itu menjadi seorang dosen senior di ITS yang berhati emas. Meskipun tidak kenal sebelumnya, aku diterima sebagai pembantu rumahnya di perumahan dosen. Aku mendapat penginapan gratis dan makan tiga kali sehari. Untuk pergi ke kampus, cukup berjalan kaki. Ada empat orang mahasiswa lainnya yang juga tinggal bersama Pak Puh, begitu kami memanggil Pak Soehardjo. Juga dua orang staf administrasi ITS. Mereka juga segera menganggapku sebagai bagian dari keluarga besar ini. (Mereka baru berpisah dan indekos sendiri-sendiri setelah Pak Puh menikah). Bantuan demi bantuan aku terima demi memuluskan harapanku yang semakin menguat. Sungguh, aku tidak ingin hanya sekadar meminta, kelak, aku ingin mengganti setiap titik kebaikan yang diberikan semua orang yang telah menyalakan harapan menjadi sebuah kenyataan. Sungguh... [] “Suyoto yang saya kenal sejak dari SD sampai SMA orangnya ulet, tekun dan berbakti kepada kedua orang tua. Biarpun berangkat dari keluarga kurang beruntung, itu justru menempanya menjadi pribadi yang tangguh untuk mewujudkan impian besarnya. Meraih sukses di Jepang dan turut membangun negeri ini di kemudian hari. Saya turut bangga dengan keberhasilan sahabat saya ini yang kisahnya diabadikan di buku ini.” Nier Misbachul Kontraktor perumahan di Surabaya dan juga teman semasa kecil “Manusia itu bagai ilalang. Jika hidup di tanah tandus akan berakar kuat dan batang kuat. Hal itu terbukti pada Suyoto. Saat di SMP dia bukan siswa yang mudah memberikan kesan dari ketampakaan luarnya. Pakaiannya sangat sederhana dan tidak ada yang menonjol dalam penampilannya di sekolah atau kehidupan sehari-hari. Tetapi di setiap akhir semester, umumnya para guru akan segera tahu namanya dari prestasi akademiknya. Di luar akademik, dia pemain badminton sekolah dan sering menjaga jagung di sawah bersama kakeknya. Kami turut bangga dan mendoakan kesuksesannya selalu, dia adalah salah satu putra daerah yang kisahnya memang perlu dibukukan.” Drs. Sudjarwo Mantan Kepala Sekolah SMPN Singgahan, Kab. Tuban, Jawa Timur 24

1. 1 Kemiskinan yang Tidak Melemahkan “Kemiskinan tidak perlu menghancurkan harapan.” (Suyoto Rais)

5. Rapor Penyemangat Kakek “Kemiskinan mengajarkan perjuangan.” (Suyoto Rais) Setiap pembagian rapor, wajah renta itu akan berseri. Sinarnya bahkan membuat usianya menjadi jauh lebih muda. Usianya saat itu sudah sekitar 60 tahun. Kakek yang membesarkan dan menyekolahkanku ternyata memiliki motivasi lain yang selama itu tidak kusadari, yakni kebahagiaan saat rapor dibagikan. Wajah berseri itu selalu hadir dalam momen tersebut. Kakek akan datang sendiri ke sekolah dan duduk paling depan di antara para orang tua murid lainnya. Saat yang ditunggu adalah pada saat rapor dibagi walikelas dan biasanya diurut dari ranking. Kakek akan selalu melupakan semua pekerjaannya di sawah dan juga janji- janji lain kalau ada. Dia akan memprioritaskan untuk datang ke sekolahku paling awal sambil menunggu saat pembagian rapor. Tidak jarang di sepanjang perjalanan ke sekolah yang dilalui dengan berjalan kaki, ia bertutur sapa dengan para warga desa yang rata-rata saling kenal. Dan selalu saja ia akan cerita dengan wajah bangga kalau hari ini adalah hari pembagian rapor cucunya. Konon Kakek selalu dipanggil pertama dan selalu mendapat pujian dari guru dan para orang tua lainnya, karena aku selalu ranking satu. Tidak jarang dia ditanya bagaimana cara mendidik cucu kesayangannya. Namun, kadang kakek membisu saat harus menjawab, sebab sepanjang aku sekolah, kakek memang tak pernah mengajariku. Kakek hanya memberikan perhatian dan apa saja yang kuminta sebatas yang dia bisa. Entah karena aku lahir sebagai anak pertama atau ada hal lainnya, sejak baru masuk SD aku sudah merasa harus selalu nomor satu. Mungkin hanya pada saat kelas satu saja, aku gagal menjadi ranking satu. Saat itu aku sebenarnya belum waktunya untuk masuk ke SD. Tangan kanan belum bisa menyentuh telinga kiri, ukuran anak bisa masuk SD saat itu. Namun, kakek memaksa para guru untuk menerimaku. Kalau pun harus nunggak kelas juga tidak apa-apa. Waktu itu aku tidak mau pisah dari kakek sebentar saja. Di rumah, di sawah, bahkan saat ke tetangga atau lainnya, aku harus selalu bersamanya. Maka satu- 21

9. Pesan Kakek, “Ilmu Akan Membantumu” “Ilmu itu harta yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.” (Suyoto Rais) Salah satu hobi kakekku adalah menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Dia bisa semalam suntuk duduk bersila di tanah untuk hal itu. Biasanya aku selalu ikut, terutama pada saat malam minggu atau malam hari libur. Mungkin karena dari kebiasaan menonton wayang itu, dia sering belajar filsafat-filsafat yang menurutku terlalu tinggi untuk ukuran orang tua seusianya dan hanya berpendidikan rendah seperti kakek. Di desa juga tidak lazim memiliki kebiasaan dan karakter seperti kakek. Kakek selalu menasihatiku kalau yang bisa memperbaiki kehidupan kita adalah pulpen, bukan cangkul di sawah. Dengan pulpen orang bisa hidup berkecukupan dan tanpa batas, tetapi kalau hanya mengandalkan cangkul dan sawah semua serba terbatas. Dan pada saatnya nanti akan kekurangan. Itulah yang menjadi alasan kakek untuk menyekolahkanku sampai setinggi mungkin. Dia tidak peduli bila kelak saat wafat, tidak ada benda berharga lagi yang bisa diwariskan, tetapi dia akan senang kalau bisa menyelolahkanku setinggi mungkin. Mungkin itu juga karena dia ingin menjadi orangtua yang pertama dipanggil setiap pembagian rapor. Kakek adalah sosok sederhana yang berpikiran tidak sederhana! Aku tinggal bersama kakek di desa yang sama dengan ibu yang tinggal bersama ayah tiri dan adik-adikku. Tentu saja di waktu senggang aku sering main ke tempat ibu, atau adik-adik yang berkunjung ke rumah kakek. Saat aku masuk SMP pun demikian, termasuk ketika aku tinggal di rumah Pak Bambang Saat aku masuk SMP, pun demikian. Saat aku tinggal mengabdi di rumah guruku Pak Bambang, aku juga sering mengunjungi adik-adik. Usiaku beda enam tahun dengan adik pertamaku Titik, dan beda lebih dari 10 tahun dengan adik kedua Teguh. Jadi aku harus bisa berperan menjadi guru adik-adik. Namun kuakui, kadang aku jengkel kalau mengajari adik-adik yang sulit mengerti tentang apa yang aku ajarkan. Aku tidak menyadari kalau cara mengajarku kurang 25

15. Gita Tanpa Cinta di SMA “Jangan lupa cinta untuk orang lain dan cinta untuk diri sendiri.” (Suyoto Rais) Kesedihan karena tidak bisa mempertahankan predikat juara pada saat yang tepat masih belum hilang. Tetapi aku segera harus menghadapi realitas kehidupan. Waktu terus berjalan dan masa-masa di SMA akan segera berakhir. Aku tidak punya kenangan manis sedikitpun seperti halnya yang kubaca di buku dan kulihat di film mengenai masa-masa indah di SMA. Aku tidak punya siapa-siapa yang bisa diajak bercerita mengenai suka-dukanya kehidupan, dan sedikit banyak membantuku meringankan beban. Aku memang punya sahabat-sahabat karib di pondok pesantren, misalnya Zainudin dan Kak Ali Dimyati yang merupakan cucu K. H. Mawardi. Mereka sering menasihatiku agar aku selalu sabar dan tabah dalam kondisi apa pun, dan aku bisa tenang sesaat. Tetapi tidak lebih dari itu. Aku juga pernah ingin mendekati lawan jenisku atau istilahnya ingin punya pacar. Seperti beberapa siswa lainnya yang sering memboncengkan lawan jenisnya dengan sepeda motor dan tampak bahagia. Kuakui, aku juga siswa normal dan saat itu tertarik pada seorang adik kelas yang cantik. Anaknya pendiam atau istilah pasnya anggun. Namanya sering disebut para siswa sebagai primadona sekolah. Sebut saja namanya Aini. Tentu saja aku tidak berani mendekat. Lebih-lebih dia indekos di rumah yang membuat siswa kebanyakan enggan berkunjung. Dia pasti dari keluarga mapan dan terjaga lahir-batinnya. Aku harus melupakannya. Lagi pula, siapa yang mau kubonceng dengan sepeda ontel tuaku? Aku mesti tahu diri dan memendam perasaanku dalam-dalam. Tidak ada “Gita Cinta dari SMA” seperti yang dibintangi Rano Karno dan Yessi Gusman dulu. Untukku, yang ada hanya gita tanpa cinta! Semester 5 kulalui dengan kondisi semakin parah. Bahkan aku berada di bawah kawan-kawan yang sebelumnya sering minta kuajari matematika dan pelajaran lainnya. Saat ada penunjukan peserta Lomba Cerdas Cermat yang diwakili 3 orang pun, aku tidak kepilih. Aku sudah semakin frustasi... sampai menjelang ujian akhir di kelas tiga. 31

3. Si Kecil dengan Cita-cita yang Besar “Perjuangan dimulai bahkan sejak kita baru dilahirkan ke dunia.” (Suyoto Rais) Aku terlahir sebagai anak pertama dari keluarga kurang mampu di desa Jojogan, ibukota kecamatan Singgahan, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ayahku pernah menjadi guru SD, tetapi berhenti dan memilih pergi bertransmigrasi untuk berkebun karet di Kalimantan sampai akhir hayatnya. Sayangnya pernikahan kedua orangtuaku tidak berjalan dengan baik. Mereka bercerai ketika aku belum masuk SD. Masing-masing dari mereka kemudian menikah lagi, dan memberiku 5 orang adik seibu dan 3 orang adik seayah. Perceraian mereka membuatku harus dibesarkan oleh kakek-nenekku dalam kondisi penuh keprihatinan. Kedua orangtua ibuku itu adalah orangtua renta yang tidak memiliki harta “berharga”. Barangkali, harta mereka yang paling berharga hanyalah aku. Kakek dan nenek hidup dari bertani, tetapi mereka patut kuteladani sepenuhnya sebab meski dalam ekonomi yang terbatas, bahkan secara pendidikan mereka tidak lulus Sekolah Rakyat (setingkat SD), tetapi mereka sangat mendukung pendidikanku. Bagi mereka, pendidikanku adalah hal kedua yang terpenting setelah aku! Demi mendukung pendidikan itulah, mereka rela menjual apa saja yang dipunyai untuk menyekolahkan aku. Meski sudah melakukan segala hal, namun kondisi ekonomi kami jauh dari cukup untuk mendukung pendidikan. Aku menjadi si kecil dengan cita-cita yang besar, barangkali itu yang tertangkap oleh kakek dan nenekku, sehingga untuk mendukung cita-cita itu, mereka rela melakukan apa saja. Cita-cita besar di masa kecilku membuatku tidak pernah berhenti untuk mencari cara agar tetap bisa sekolah. Perjalanan dari sekolah dasar menuju sekolah menengah atas yang tidak bisa dibiayai oleh kakek nenekku, akhirnya membuatku menjadi pembantu di rumah guruku. Pak Bambang Sutrisnohadi merupakan guru Matematika yang sekarang menjadi penilik sekolah di Bojonegoro. Adakah rasa malu karena menjadi pembantu? Tidak ada! Bagiku mimpi besarku jauh lebih penting dibandingkan rasa malu! 19

2. “Saya menangis waktu mendengar dia berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang dulu. Saya tahu saat itu dia mulai kehabisan biaya kuliah di ITS meskipun sudah ada seorang dosen yang memberikan tumpangan gratis. Dan lebih terharu lagi setelah dia kembali ke tanah air bersama anak-istrinya. Dia memanggil dan menganggap saya seperti orang tua sendiri sampai sekarang. Keuletan dan kesantunannya sangat patut dicontoh, dan bisa dibaca di buku ini.” Ririn Alfiati, S.E. Guru di Jakarta, Mantan Guru SMPN Singgahan yang menyumbang beras selama di SMA dan mencarikan indekos gratis selama di ITS “Tiga tahun kami bersama-sama di pondok pesantren tua di desa Sugihan, Kec. Jatirogo, kab. Tuban. Kami makan pada saat nasi masih panas dan sering hanya dengan lauk garam, sambal atau “jangan taun” (sayur sisa kemarin yang tidak basi karena dipanaskan beberapa kali) pemberian tetangga. Kami tumpahkan nasi yang baru ditanak di piring besar (nampan) dan kami makan bersama-sama. Menu yang sangat lezat dan tidak pernah kami jumpai sebelum dan sesudahnya. Berkat menu itu, sobat saya Suyoto telah menjadi doktor yang sangat membanggakan kami semua. Kisahnya bisa jadi panutan anak-anak muda di seluruh Indonesia.” Gus Asnawi Ustad di Gresik, mantan teman sekamar di Pondok Pesantren Jatirogo, Tuban “Saya teringat saat Suyoto naik kelas 6 SD dan terpilih sebagai wakil kecamatan untuk ikut lomba Pelajar Teladan se Kabupaten Tuban. Saya sendiri yang mengantar naik sepeda motor dan ia berhasil mendapatkan salah satu piagam juara. Meskipun hidup serba kekurangan, dia tidak pernah kehilangan semangat belajar sejak kecil. Kisahnya perlu diketahui banyak orang.” Drs. Waidjono Mantan Kepala Sekolah SDN Jojogan Kab. Tuban, Jawa Timur 18

7. Harapan yang Tidak Pernah Memudar “Harapan yang besar dapat menyelamatkan hidup kita.” (Suyoto Rais) Situasi yang serba kekurangan tidak membuatku patah arang. Kondisi yang memprihatinkan tidak membuatku berhenti berjalan. Bagaimanapun keadaan yang aku alami saat mondok di pesantren tidak membuatku kehilangan semangat dan harapan. Semua memiliki sejarah hebat dalam perjalanan hidupku! Selama di pondok pesantren itu, aku baru bisa belajar setelah para santri tertidur dan tidak ada kegiatan lainnya. Sering aku menyendiri di lingkungan masjid dalam keheningan malam untuk bisa belajar. Belajar menjadi modal awal yang harus aku upayakan selalu terjaga meski aku memiliki tugas besar lainnya, yaitu mencari tambahan biaya untuk sekolah hingga mengenyangkan perut yang lapar. Allah Maha Baik, nilai-nilai sekolahku terbilang fantastis, dalam keterbatasan aku bisa lulus SMA dengan predikat terbaik di sekolah dan kemudian diterima di ITS Surabaya. Tapi, masalahnya darimana aku memperoleh biaya kuliah? Sawah kakek masih tergadai, Ibu sudah ada tambahan adik-adikku yang perlu biaya juga. Sementara ayah di Kalimantan nyaris tidak ada kabarnya. Haruskah aku melupakan mimpi karena kenyataan seolah tidak berpihak padaku? Tidak! Lagi-lagi aku harus kembali mengetuk hati para guru dan tetangga untuk meminta sumbangan. Mereka pada umumnya mengenalku sebagai murid teladan sejak SD, sering diikutkan cerdas tangkas, lomba pelajar teladan, dan berbagai prestasi di tingkat kecamatan dan kabupaten yang mengharumkan nama desa. Prestasi akademik itu menjadi satu-satunya modal untuk menarik belas kasihan. Dimotori oleh guru-guruku, para tetangga memberiku sumbangan, termasuk Pak Lurah dan Pak Camat saat itu. Semua ternyata mendukung kuliahku karena “Bantuan demi bantuan aku terima demi memuluskan harapanku yang semakin menguat. Sungguh, aku tidak ingin hanya sekedar meminta. Kelak, aku ingin mengganti setiap titik kebaikan yang diberikan semua orang yang telah menyalakan harapan menjadi sebuah kenyataan.” 23

10. pas dengan kondisi mereka. Namun, tetap saja aku senang bisa membimbing mereka, dan itu juga kuanggap sebagai satu-satunya waktu yang bisa kami lalui bersama. “Orang yang berilmu itu seperti padi. Makin berisi makin menunduk. Bedanya kalau padi bisa habis kalau dibagi-bagikan, tetapi ilmu akan makin banyak kalau dibagikan dengan sesamanya,” itu kata-kata yang juga sering diucapkannya. Entah karena sering menonton wayang kulit atau kakek juga pernah mendapatkan dari guru-gurunya terdahulu, tampaknya tidak perlu kutelusuri lebih dalam lagi. Dan nasihatnya itu juga diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang ia bisa, meskipun tidak banyak, juga berusaha ditularkan ke orang lain. Ia sering mengajari para buruh tani muda pada saat bercocok tanam di sawah. Dan juga “ilmu-ilmu Kejawen” yang berasal dari budaya-budaya Jawa yang diyakininya tidak pernah bertentangan dengan zaman dan juga agama mana pun. Oleh orang-orang di desa, kakek sering dimintai untuk memberikan saran pada saat akan mengadakan pesta pernikahan, sunatan dan lain-lain. Berkat kakek juga, lambat laun, jiwa pendidikku memang semakin menguat dan bertumbuh. Tetapi terus terang aku sering dikomplain adik-adik. Kalau mengajar orang lain begitu sabar dan menyenangkan, tetapi kalau mengajari keluarga sendiri sering uring-uringan. Hemm, mungkin saja aku memang belum cukup ilmu untuk menjadi pengajar. [] “Suyoto adalah lulusan pertama dan terbaik SMAN Jatirogo. Bukan hanya dari nilai akademiknya, tetapi juga semangatnya untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan pada watu itu yang serba sulit. Kami ikut bangga telah ikut mendidik salah satu aset bangsa yang mampu bersaing di tingkat global. Kisahnya sangat inspiratif dan bisa memberikan motivasi pembacanya.” Drs. Sutrisno Mantan Kepala Sekolah SMAN Jatirogo, Kabupaten Tuba n 26

11. Pesawat Habibie, Awal Mimpi “Kecintaan kita pada seseorang membuat kita berpikir menjadi orang tersebut.” (Suyoto Rais) Aku tidak ingat pasti, kapan pertama kali mengetahui nama Pak Habibie. Seingatku pada saat aku masih SD, di mana saat itu aku juga diminta guru untuk menghafal nama-nama menteri dan pejabat negara setingkat menteri. Maka saat itulah aku tidak pernah lupa nama beliau, sebagai orang jenius yang dimiliki bangsa ini. Entah kenapa, sejak mengenal nama Pak Habibie, setiap kali aku melihat ada pesawat terbang yang melintas nun jauh di angkasa sana, aku selalu teringat beliau. Guruku juga terkadang menceritakan tentang kehebatan Pak Habibie, yang akan membuat pesawat untuk Indonesia sehingga Indonesia disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Pesawat = Habibie. Itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. Pernah suatu saat aku sedang di sawah bersama kakek. Dan ketika aku terbengong-bengong melihat pesawat di atas sana, tiba-tiba kakek bilang kalau suatu saat nanti Indonesia akan membuat sendiri pesawat seperti itu, dan Pak Habibie adalah motornya. “Kalau kamu sekolah pinter dan bisa mengenyam pendidikan tinggi, pasti kamu juga bisa jadi staf Pak Habibie dan bikin pesawat nanti.” Demikian kakek bicara saat itu. Entah informasi darimana. Atau nama Habibie sudah demikian lekat di seluruh Indonesia sampai pedesaan, hingga kakekku secara khusus melihat kalau cucunya pantas jadi staf Habibie? Saat naik kelas 6 SD, aku dipilih mewakili kecamatan Singgahan untuk mengikuti Lomba Pelajar Teladan ke Tuban. Sebelumnya ada lomba juara SD sekecamatan Singgahan, dan syukur Ahamdulillah aku memenangkannya. Pak Waidjono, kepala sekolah SD saat itu, yang mengantarku sendiri. Kebetulan ia adalah satu-satunya guru yang memiliki sepeda motor di sekolah, dan saat itu belum ada angkutan umum yang mudah seperti sekarang. Maka aku diantar sendiri oleh bapak kepala sekolah ke Tuban yang berjarak sekitar 36 km dari desa kami. 27

17. Perjuangan Ibu “Seorang ibu akan melakukan apapun demi anak-anaknya.” (Suyoto Rais) Adikku menderita kencing batu sejak kecil. Penyakit itu tidak pernah diobati dengan baik dan sudah semakin parah. Setiap hari sering dia menangis kesakitan pada saat akan kencing. Kakeklah satu-satunya orang yang paling setia menemaninya. Hanya kakek pula yang tahan berada sekamar dengan Teguh. Kakek bahkan sudah merasa bahwa penderitaan cucunya adalah penderitaannya pula. Kondisi Teguh yang semakin memprihatinkan, membuatnya harus dibawa ke rumah sakit di Bojonegoro dan dioperasi. Tetapi setelah dioperasi, dokter bilang tidak sanggup melanjutkan dan satu-satunya harus dibawa ke RS Dr Soetomo di Surabaya. Kakek dan ibu tetap bertekad, bagaimana pun Teguh harus disembuhkan. Sementara ayah tiriku tidak peduli sama sekali. Ibu menjual semua harta simpanan, menggadaikan semua yang bisa digadaikan diuangkan, dan juga meminjam ke tetangga dan famili yang masih mau meminjaminya. Sampai-sampai Ibu menangis ke Pak Camat, dan akhirnya diantar menggunakan mobil dinas kecamatan berwarna merah. Semua hanya untuk kesembuhan adikku Teguh. Di Surabaya, ibu juga tidak malu-malu menawarkan jasa mencuci pakaian, menyeterika dan pembantu rumah tangga ke setiap suster dan dokter yang merawat Teguh. Dan Alhamdulillah ada yang merasa kasihan memberikan pekerjaan kepada ibu selama waktu menunggu itu. Beruntung pada saat itu ada yayasan Majalah Femina yang mengetahui kesulitan ibu dan membantu biaya pengobatan Teguh. Keberuntungan berikutnya adalah pada saat berjumpa seorang nenek di rumah sakit. Namanya Mbah Mariyam. Dia sedang menunggui cucunya yang sekamar dengan Teguh. Dari penampilan dan cara bicaranya, Mbah Mariyam berasal dari keluarga berkecupukan di Sidoarjo. Sejak perkenalan itu, dia selalu membelikan makanan dan mainan yang sama untuk cucunya dan juga Teguh. Dalam pertemuan singkat itu, Mbah Mariyam menganggap Ibu dan Teguh seperti anak-cucunya sendiri. Setelah Teguh keluar rumah sakit, dia bermaksud merawat dan menyekolahkan Teguh seperti cucunya sendiri. Dan Ibu setuju. Bagi “Ibu normal” ini mungkin akan 33

13. Sedihnya Tidak Juara Lagi “Meskipun berat, ada kalanya kita harus mengakui takdir Tuhan.” (Suyoto Rais) Lulus SMP aku diterima tanpa tes di SMAN Jatirogo yang berada di kecamatan Jatirogo, kabupaten Tuban. Itu SMAN ketiga di kabupaten Tuban yang baru menerima murid pada saat aku lulus SMP. Tiga SMPN yang berada di rayonnya adalah SMPN Jatirogo 1 dan 2, dan SMPN Singgahan yang baru meluluskan angkatanku. Lima murid terbaik di ketiga SMPN ini diterima masuk tanpa tes, termasuk aku. Dibanding murid kedua SMPN Jatirogo yang “lebih senior”, di tahap awal kami cukup underdog . Tetapi setelah semester 1 berlalu, ternyata prestasi siswa-siswi dari SMP-ku cukup menonjol. Banyak yang masuk ranking atas dan nomor satunya adalah aku! Saat itu gedung SMA belum jadi. Kami masuk siang menggunakan gedung SDN Sugihan, kec. Jatirogo, tidak jauh dari pondok pesantren tempatku “bertapa”. Saat istirahat salat Ashar, banyak kawan-kawanku yang ikut salat ke pondok dan pada heran melihat kehidupanku yang sama sekali di luar dugaan mereka. Lebih heran lagi pada saat ada keramaian di lapangan kecamatan atau acara- acara khusus di Jatirogo, tanpa malu aku sering menjinjing dua termos es lilin yang kujajakan keliling. Ada kawan SMA yang pura-pura melengos tidak kenal, tetapi juga ada yang bahkan memborong es lilinku dan tidak mau menerima uang kembalian. Mereka sahabat-sahabatku di SMA yang tahu persis kalau aku berjualan es lilin bukan untuk pengisi waktu senggang. Setahun kemudian, gedung sekolah sudah jadi dan dapat digunakan. Saat itu, kami masuk pagi dan pulang sekitar jam 1 siang. Jadi setelah itu ada waktu untuk jualan es keliling dan bisa lebih laku karena saat terik biasanya orang merasa haus. Dalam kondisi apa pun, Subhanallah , Tuhan tetap memberiku semangat belajar dan juga nilai baik. Aku bisa bertahan di ranking teratas..., sampai kejadian yang paling tidak kuinginkan itu terjadi! Menjelang ulangan semester ke 4 atau kenaikan ke kelas tiga, adik keduaku Teguh sakit keras dan harus dioperasi di Surabaya. Ibu pergi mengantar Teguh 29

Views

  • 107 Total Views
  • 83 Website Views
  • 24 Embeded Views

Actions

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 1

  • 12 ijb-net.org