Isi Buku Seindah Sakura di Langit Nusantara (edisi final)- [YANG BERSEMAYAM DALAM KENANGAN] 181-216

[E-book] Seindah Sakura di Langit Nusantara

Share on Social Networks

Share Link

Use permanent link to share in social media

Share with a friend

Please login to send this document by email!

Embed in your website

Select page to start with

Post comment with email address (confirmation of email is required in order to publish comment on website) or please login to post comment

36.

4. Kenangan bersama keluarga sebelum berangkat ke Jepang. Dari kiri belakang: Ibunda Suyatmi, aku, Kakek Warsi. Dari kiri depan: Yaroh (Adik No. 4), Teguh (No. 2), Titik (No. 1), dan Sisih (No. 3). Diyah, adik terakhir baru lahir setelah aku kuliah di Jepang Surat Keputusan Pak Habibie pada saat masih menjabat sebagai Menristek dan Ketua BPPT yang merubah nasibku kemudian 184

9. Hubungan silaturahmi terus dijaga, termasuk dengan kawan-kawan mahasiswa Kawan-kawan datang ke rumah saat Dana berusia 1 tahun 189

11. Bersama Prof. Kurozawa dan para junior di laboratorium kampus Foto wisuda S2 bersama teman-teman seangkatan. Istri juga turut hadir 191

13. Bertemu dengan orang tua asuh Bapak-Ibu Inuzuka yang sangat ramah dan baik hati. Bagiku, mereka lebih dari sekedar keluarga Makan bersama Bapak Yamashita (kanan) dan istrinya (almarhum) di sebuah restoran Jepang di Kyoto. Mereka juga menganggap kami seperti anak-cucunya sendiri 193

16. Bersama istri, aku (paling depan kiri) sering mendapatkan undangan, salah satunya dari Matsunami San (kanan tengah), pemilik hotel tradisional Jepang di Osaka Selatan. Bersama kawan-kawan mahasiswa Indonesia Aku juga mendapatkan undangan Fumoto San dari KOKOC (Kokusai Koryu Club). 196

19. Bermain golf di Pulau Sentosa (Singapura) pada saat menjadi ekspatriat Sumitomo Electric Industries Group. Ada kesombongan dan kekhilafan tanpa kusadari. Untung akhirnya Allah mengingatkanku dengan cara yang sulit kumengerti saat itu, yaitu PHK! Bersama Pak Kiki (paling kiri), Pak Sukma (paling kanan) dan keluarganya. Orang-orang berhati mulia yang memberiku harapan setelah aku kena PHK 199

22. Berbagi pengalaman hidup di Jepang selama 25 tahun di forum KAJI. Dari sini termotivasi untuk membuatnya yang lebih lengkap melalui penulisan di buku ini Diskusi mengenai pengembangan mobnas di kantor Kementerian BUMN, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Dari kiri ke kanan: Dasep Ahmadi (pembikin molinas), Menteri Dahlan Iskan, aku, dan Prof. Dr. Suhono H. Supangkat (ITB) Konsultasi dengan sesepuh alumni Jepang Pak Oloan P. Siahaan (Rektor Unsada) mengenai kontribusi ke depan untuk Unsada dan Indonesia 202

24. Menghadap ke Mantan Presiden Habibie untuk memohon testimoni atas penerbitan buku perjalanan hidupku sebagai salah seorang “Anak Intelektual Habibie” (Mei 2015) Menghadap Pak Wardiman untuk silaturahim dan memohon nasihat ke depan dari sesepuh Bangsa 204

25. Bersama Pengurus IABIE dan I4 saat buka bersama di kediaman Pak Habibie. Dari kiri: Tatang Gunadi, Arif B. Suyanto, Riza Muhida dan aku Konsultasi ke sekretariat PERSADA mengenai pendirian Formasi-G ke para senior. Dari kiri: Pak Teguh, Pak Ismadji, aku, dan Bang Hideki Membahas pendirian FORMASI-G di Lippo Cikarang bersama kawan-kawan IABIE dan relawan di sekretariat Pertemuan IABIE di Jakarta sambil memohon dukungan untuk pendirian FORMASI-G. Yang duduk di deretan depan adalah para pengurus IABIE. Dari kiri: Prof. Oni (Pengawas), Irland/Arif/Yudi (Ketua Presidium), dan Bimo (Sekjen) 205

1. Yang Bersemayam dalam Kenangan “Kenangan adalah salah satu cara untuk mempertahankan diri kita, apa yang kita cintai, dan apa yang tidak sanggup kita lepaskan.” “Masa lalu adalah sebuah bagian hidup yang tidak dapat diubah, ia hanya akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.”

3. Bu Ririn, mantan guru SMP yang banyak membantu biaya pendidikan sejak SMA sampai ITS. Dari depan kanan: Bu Ririn, Pak Pambudi (suami), Wahyu (menantu), Mitha (anak pertama, istri Wahyu), Dita (anak kedua), dan Dinar (anak ketiga) Pak Soehardjo, dosen matematika ITS berhati emas 183

6. Prosesi akad nikah di Mojokerto yang sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan para tetangga. Kami nyaris tidak punya apa-apa saat menikah Adik dan teman-teman dari Tuban yang turut mengantar pada 16 Februari 1992 186

10. Maret 1996, anak pertama kami lahir. Kami sering memanfaatkan liburan akhir pekan ke obyek-obyek wisata di sekitar Kansai. Atau kalau ada acara tertentu, anak-istriku pasti diajak Istriku juga bisa bersosialisasi, baik dengan tetangga maupun dengan para pelanggan Yakult-nya. Salah satunya kegiatan memanen ubi pada akhir pekan 190

31. negara. Kita pun kembali merdeka, dalam artian terlepas dari belenggu IMF dan para donatur lain yang punya kepentingan tertentu. Pada akhirnya, orang-orang Barat dan Jepang akan memberikan kita julukan baru untuk keberhasilan pengembangan iptek kita. Bukan “creativity”, bukan pula “japanity”, tetapi “indonesianity”. Hem, namanya juga mimpi! [] “Perjalanan sukses Anda dimulai dari tingginya impian Anda. Impian rendah akan menghasilkan pencapaian yang rendah dan impian tinggi menghasilkan pencapaian yang tinggi.“ “Tanpa impian yang tinggi, Anda tidak akan memaksimalkan potensi kekuatan Anda. Besarnya impian Anda akan memastikan Anda menggali potensi Anda lebih dalam.” 211

23. Aku dikenalkan ke publik Indonesia di detik.com pada tanggal 11 Januari 2015, empat tahun setelah aku kena PHK di perusahaan Jepang terdahulu Profilku juga dimuat di Halo Jepang edisi Februari 2015 203

5. Foto saat kembali ke Jakarta dan disambut Pak Habibie dan Pak Wardiman saat baru pulang dari Jepang setelah lulus S1. Penulis duduk di deretan depan ketiga dari kanan (April 1991). Antara kebanggaan berada di kantor impian dan kenyataan gaji yang cenderung kurang Saat bertugas sebagai penerjemah di Bendungan Karet, Jombang, Jawa Timur. Aku terpaksa mangkir beberapa bulan dari BPPT agar bisa menyelesaikan proyek baru ini (November 1991) Presentasi mengenai Bendungan Karet setelah kembali dari bertugas di Jawa Timur. Awal aku mendapatkan tempat kembali di BPPT yang membuat aku diizinkan melanjutkan studi ke Jepang. Alhamdulillah, ternyata “mangkir”ku dari BPPT juga ada hasilnya 185

8. Atas, istri (belakang ketiga dari kiri) dan Perdana (deretan anak paling depan kiri) saat berfoto bersama para Yakult Ladies. Istriku adalah orang asing satu-satunya yang masuk dalam lingkungan ini, tetapi pernah dinobatkan sebagai Top Sales Lady Mulai aktif di PPI. Menjadi Ketua PPI Osaka dan mengoordinir seminar sehari pada Oktober 1994 bersama Pak Sanyoto (Menteri BPKM) dan Pak Tungki (Menteri Perindustrian) 188

14. Berkunjung ke Japan Friendship Association in Kansai yang dipimpin oleh Ibu Arita (duduk sebelah kanan) dan sesepuhnya Ibu Umeda (duduk sebelah kiri). Grand opening di Ohkuma pada bulan Agustus 2014 bersama chairman dan undangan VIP 194

15. Aku diberikan kesempatan menulis di kolom salah satu koran nasional JepangSankei Shinbun beberapa kali karena aktivitas international exchange di Osaka Istriku turut meramaikan Midosuji Parade di Osaka (parade tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Pemda Osaka dan diikuti banyak negara termasuk Indonesia). Saat itu, istriku menjadi salah satu wakil Indonesia yang dikoordinir oleh KJRI Osaka 195

18. Aku juga sering ikut Festival Rakyat Jepang dengan membuat acara bersama para “Indonesia Fans Club”, teman-teman mahasiswa dan trainees di daerah Kansai Bersama Prof. Sugimura (tengah) dan juniorku Iwakura (kiri) di laboratorium kampus 198

34. P ENGEMBANGAN M OBNAS P ERLU D IKOORDINIR (Artikel di President Post, 30 Januari 2013) Dari beberapa prototipe mobnas yang muncul seperti jamur, setidaknya ada 3 pihak yang menyatakan siap untuk melangkah ke produksi massal. PT Great Asia Link di Surabaya yang akan memproduksi mobil listrik nasional Evi-Ravi, PT Sarimas Ahmadi Pratama di Depok memproduksi Evina dan Solo Manufaktur Kreasi akan memproduksi Esemka dengan mesin 1.500 cc. Meskipun pemerintah pasti memberikan perlindungan dan berbagai insentif, meskipun rakyat telah lama merindukan kelahiran mobnas di tangan anak bangsa ini, meskipun pangsa pasar yang dibidik berlainan, tetapi itu saja tidak bisa menjamin mereka bisa melaju ke produksi massal dan berkembang. Diakui atau tidak, para pengembang mobnas dan pemilik kebijakan saat ini belum bisa bersinergi bersama. Kesan terkotak-kotak, tujuan tidak jelas dan tidak fokus juga ada. Ini hal yang sangat tidak kondusif dan perlu koordinator nasional untuk memperbaikinya. Saya jadi merindukan tokoh seperti B. J. Habibie. Sayang bukan mobil yang dikembangkannya. Sayang pula dia nampaknya kurang didukung oleh para staf yang bisa membuat laporan keuangan yang baik dan kurang didukung lingkungan pengembangan di Indonesia yang bisa menemukan model bisnis yang tepat, sehingga meskipun hampir sepanjang hidupnya dibaktikan untuk mengembangkan industri pesawat di tanah air ini, hasilnya belum bisa sesuai harapan. Ada juga harapan kepada Dahlan Iskan. Dalam kapasitasnya sebagai bos BUMN dan mantan CEO profesional yang memiliki kedekatan dengan dunia akademik, media massa, departemen terkait, industri swasta, dan lain-lain, Dahlan Iskan seharusnya memiliki kemampuan serta kewenangan cukup. Terobosan untuk mengembangan mobil listrik nasional dengan kantongnya sendiri sebenarnya juga membuktikan kalau dia sebenarnya mampu. Sayang mulai terlihat ego yang terkadang kurang didasari pemikiran rasional dan objektif. Sementara pemerintah telah menunjuk Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Ristek untuk mengkoordinir semua potensi untuk mengembangkan mobil listrik nasional. Dan Kementerian Perindustrian nampaknya akan 214

28. agar para peneliti selalu berada di jalur yang bisa memberikan kontribusi yang bisa dibuktikan dengan kriteria penilaian yang objektif. Penilaian terhadap hasil kerja peneliti Penilaian terhadap kerja peneliti seharusnya mendasarkan dua hal: proses penelitian dan hasilnya. Proses yang dimaksud di sini, dikaitkan dengan tanggungjawab, kesiapan, kejelasan sasaran, prosedur kerja, cara bekerja dan berpikir sehari- hari. Sementara hasil dari penelitian berupa manfaat yang didapat orang lain, atau indikator umum lainnya yang membuktikan kontribusi dari hasil penelitiannya. Laporan, dalam bentuk publikasi atau tidak, seharusnya hanya merupakan pemolesan untuk mengakhiri suatu penelitian. Sayangnya, sistem penilaian yang berlaku saat ini justru terbalik. Hasil kerja peneliti identik dengan jumlah publikasi ilmiah dan mengesampingkan proses kerja sehari-hari. SK No.12/ MENPAN/1988 yang digunakan sebagai patokan untuk menilai hasil kerja para peneliti pada saat saya masih aktif di salah satu instansi iptek pemerintah di awal tahun 90-an yang lalu, atau rujukan terbaru SK No: 38/KEP/ MK.WASPAN/8/1999 yang dipergunakan lingkup akademik jelas-jelas memihak hal itu. Di dalamnya diatur dengan rinci mengenai angka kredit dan struktur jabatan peneliti, di mana gelar akademis, sertifikat, dan publikasi sangat menonjol sebagai hasil kegiatan pengembangan iptek. Sepintas, sistem penilaian ini nampaknya bisa memacu persaingan sehat dan meningkatkan kreativitas para peneliti untuk berprestasi memperbanyak karya ilmiah. Tetapi realitas di lapangan ternyata karya ilmiah yang dihasilkan para peneliti kita lebih ditujukan untuk mempercepat jenjang karier pribadi, bukan untuk menghasilkan manfaat riil buat masyarakat luas. Selain itu juga mengesampingkan adanya tingkat kesulitan yang berbeda untuk menghasilkan laporan yang sama panjang. Contohnya, seorang peneliti sistem yang kerjanya di depan komputer tiap hari. Kalau ia sudah in di lab dan rajin, dalam sebulannya bisa saja menghasilkan 1 sistem baru dan 1 publikasi ilmiah, atau lebih. Sementara peneliti di bidang pertanian yang prakteknya di kebun sungguhan, mungkin hanya bisa memanen hasil percobaannya setahun sekali. Begitu juga peneliti yang harus ke desa, belepotan lumpur di sawah atau berbaur dengan 208

2. Suyoto waktu lulus SMP dan lulus SMA Di Air Terjun Nglirip, salah satu obyek wisata lokal di desa kelahiranku. Bersama adikku Teguh (duduk sebelahku), sepupuku Hera dan Kanang (berdiri). Foto diambil pada saat liburan bulan Agustus 1989, saat kepulangan pertamaku setelah studi ke Jepang K ENANGAN B UKANLAH KUNCI MENUJU MASA LALU , TETAPI KUNCI MENUJU MASA YANG AKAN DATANG Pak Bambang Sutrisnohadi, mantan guru Matematika di SMP yang pernah memberi tumpangan dan makan gratis pada saat di SMP 182

12. Menjadi penyiar radio di Osaka. Dari kiri: Bung Aki, Bung Sato, dan Ade Mirzhanty. Rekan lain yang menjadi penyiar adalah Bung Ikaputra, Bung Indra, dan Mbak Istin. Di luar studio, kami juga sering membuat acara bersama para fans club . Bung Aki terlihat sedang memetik gitar mengiringi aku bernyanyi yang bersuara pas-pasan. 192

20. Bersama Kepala Divisi Mr. Nakayama duduk di deretan kedua nomor 5 dari kanan, aku disebelahnya nomor 6 dari kanan, dan para anak buah di Divisi Otomotif Nidec-Cina. Di sini aku ditugaskan sebagai direktur produksi Ichikoh training . Sebulan mengikuti pelatihan di kantor pusat sebelum bertugas ke Indonesia Dinner party kecil bersama atasan dan kolega di Nidec Japan. Mereka melepasku pergi ke Cina dengan harapan baru 200

27. dan tanpa nama yang mau belepotan dengan petani di sawah untuk memproduksi sekian kilo beras per tahun, jauh lebih baik daripada guru besar pertanian yang bekerja keras untuk menghasilkan konsep besar di atas kertas. Atau pada saat harga komponen otomotif melangit, ‘peneliti’ lulusan sekolah kejuruan yang mau berbaur dengan tukang reparasi pinggir jalan untuk memperbaiki mobil rusak dengan memodifikasi komponen sebisanya, jauh lebih bermanfaat daripada doktor permesinan yang harus kerja lembur untuk menyusun publikasi di jurnal internasional. Tetapi untuk merubah budaya para peneliti kita yang sudah terlanjur academic minded jelas hal yang sangat sulit. Perlu terobosan baru dan pembenahan mendasar di tingkat manajerial pengembangan iptek yang meliputi, (1) koordinasi dan bimbingan yang terarah di tempat kerja, (2) penilaian hasil kerja peneliti, dan (3) kejelasan tanggung-jawab pelaksanaan dari top decision maker hingga ke ujung tombak di lapangan. Koordinasi dan bimbingan yang terarah di tempat kerja Koordinasi dimaksudkan agar peneliti terbiasa bekerja dengan orang lain yang terkait, termasuk para calon pengguna iptek. Bimbingan dimaksudkan untuk mengarahkan para peneliti yang belum in di tempat kerja dan para pendatang baru. Khusus untuk pendatang baru, harus diakui bahwa, apa yang diperoleh di luar tempat kerja (termasuk di lembaga pendidikan dari luar negeri) tidak sepenuhnya bermanfaat dan sesuai dengan tuntutan di tempat kerja. Para pendatang baru harus dibuat agar bisa merasa sebagai anggota dan berada di dalam sistem lingkup kerja. Setelah itu, baru diharapkan improvisatif dengan mengefektifkan pengetahuan dan pengalaman yang didapat sebelumnya. Tanpa bimbingan yang cukup, sangat mungkin mereka yang belum in akan bekerja sesuai dengan kemauan sendiri-sendiri, dan lebih mengutamakan keahlian masing-masing daripada memikirkan kontribusi riil di tempatnya bekerja. Ini jelas kondisi yang tidak harmonis. Dan sayangnya, kondisi ini telah menjadi hal yang tidak aneh di banyak instansi iptek kita. Tujuan koordinasi dan bimbingan ini untuk memacu dan memudahkan para peneliti memiliki interaksi positif dengan para calon pengguna hasil penelitiannya. Juga untuk mengharmoniskan dan menjaga 207

17. Kenangan bersama Konjen KJRI Bapak Subagio pada saat perpisahannya menjelang kembali ke tanah air, Februari 1996. Saat itu, aku diundang bersama istri yang sedang mengandung anak pertama. Menjelang sidang terbuka S3 di Osaka Prefesture University dengan disertasi “ Studi on Proess Planing for Holonic Manufacturing System ”. Akhirnya mendapat gelar Doctor of Engineering meskipun agak terlambat dari target (September 1999) 197

7. April 1994, istri menyusul ke Jepang. Tempat pertama yang kami kunjungi pada akhir pekan adalah Kuil Emas ( Kinkakuji ) dan Kuil Perak ( Ginkakuji ) di Kyoto Kunjungan perusahaan bersama Prof. Sugimura (belakang tengah) dan anggota JSME (Japan Society Mechanical Engineers). Aku berdiri di deretan belakang nomor dua dari kiri 187

35. memperhatikan mobil konvensional. Tetapi mereka mungkin hanya bisa berperan sebagai birokrator yang belum tentu menguasai masalah-masalah teknis di lapangan. Wacana pendirian Pusat Pengembangan Teknologi Industri Otomotif juga belum jelas bagaimana formasi dan kapan realisasinya. Siapa pun koordinator aktualnya, dia harus mampu menyatukan potensi anak- anak bangsa berpotensi yang terlibat pembikinan Esemka, Tuxuci, Evina, Evi- Ravi, Gea, Tawon, Kancil, Mahator, Komodo, MushikaOne, EC-ITS, bahkan Timor, Bimantara dan lain-lainnya. Bisa mengarahkan BUMN dan juga industri swasta potensial untuk mendukung misalnya dengan memproduksi komponen, dan juga harus paham mengenai tahapan yang harus dilalui untuk melaju ke tahapan selanjutnya dengan selamat. Setidaknya ada empat tahapan yang harus dilalui. Pertama, tahap perencanaan. Di sini perlu dibikin model bisnis dan rantai pemasok komponen yang bisa dijadikan partner. Kedua, desain dan prototipe. Berdasarkan bidikan pasar dan model yang bisa diterima pasar, dibuat desain, dan prototipe. Ketiga, uji coba agar bisa memenuhi semua uji kelaikan dan standar yang ditentukan. Keempat, produksi massal. Tahapan terakhir ini masih perlu dipilah menjadi produksi massal dengan pemantauan khusus selama beberapa bulan untuk membuat stabil mutu dan produktivitas, serta produksi massal yang sudah dikelola sepenuhnya oleh bagian produksi. Setiap tahapan memerlukan review dari segi mutu dan biaya, yang dilakukan oleh auditor berpengalaman yang dihadiri para investor dan pimpinan perusahaan. Masing-masing perusahaan punya standar kelulusan tertentu dan review bisa diulang beberapa kali sampai semua pihak menyatakan layak maju ke tahapan berikutnya. Jadi semua harus diarahkan menapak tahap demi tahap dan tidak ada jalan pintas di sini. Siapakah yang bisa mengoordinasikan pengembangan mobnas di Indonesia? [] “Cita-cita besar adalah sebuah mimpi besar untuk menjadi sukses.” 215

33. mendekati mobil konvensional. Mitsubishi, Toyota, Honda, GM, BMW, Ford dan lain-lain juga memiliki model bisnis masing-masing untuk masuk dan bersaing di pasar mobil listrik. Tanpa model bisnis yang tepat, produsen mobil tidak akan bisa bertahan lama. Atau akan cepat goyah pada saat iklim bisnis berubah, subsidi pemerintah dikurangi dan masalah lainnya. Pemasok komponen Satu lagi yang penting sebelum produksi massal adalah merintis kerjasama saling menguntungkan dengan para pemasok komponen. Menurut investigasi penulis, mobil listrik terdiri dari 12 ribu sampai 18 ribu komponen. Komponen-komponen ini dipasok oleh lebih dari 100 pemasok untuk setiap model. Untuk komponen yang menentukan performa dan desain mobil, hampir semuanya telah didedikasikan hanya bisa digunakan untuk model tertentu. Jepang dengan 9 produsen mobil, memiliki pemasok komponen yang dikelompokkan ke dalam Tier-1 (pemasok langsung ke produsen mobil) sekitar 400 perusahaan. Di bawahnya masih ada Tier-2, Tier-3 dan seterusnya jumlahnya tidak kurang dari 20.000 perusahaan. Di Korea, Cina, India dan Malaysia juga kurang-lebih sama kondisinya. Meskipun jumlah pemasok tidak sebanyak di Jepang, bersamaan dengan perilisan mobil nasional, mereka juga merintis kerjasama dan mengembangkan industri komponen. Tanpa itu, mobil akan berpotensi punya masalah SQCD ( safety, quality, cost, and delivery ) dan juga riskan pelanggaran HAKI setelah produksi massal. Semoga para pengembang molinas di Indonesia sudah memikirkannya. [] “Impian adalah penuntun orang- orang hebat dalam menciptakan dunia modern seperti yang kita lihat sekarang. Tanpa mereka, kita masih berpergian menggunakan kereta kuda dengan peralatan sederhana.” 213

29. tukang-tukang, jelas akan kalah cepat menyusun publikasi dengan mereka yang berada di kantor pusat yang dikeliling perangkat komputer dan jurnal-jurnal ilmiah. Hal-hal itu akan menimbulkan kecemburuan prestasi yang bisa membuat peneliti malas meneliti obyek-obyek penelitian tertentu yang kurang subur publikasi. Juga malas meninggalkan menara gading iptek dan melakukan koordinasi dengan pihak- pihak terkait yang memerlukan energi ekstra tidak kecil. Harus diupayakan adanya sistem penilaian lain yang bisa membuat peneliti mudah ditempatkan di mana pun, untuk meneliti masalah apa pun. Di sini unsur-unsur yang lebih memperhatikan proses penelitian dan kerja sehari-hari perlu diprioritaskan. Tanggung jawab pelaksanaan Tanggung jawab pelaksanaan harus menyeluruh dari top decision maker hingga ke ujung tombak sesuai posisi masing-masing. Dimulai dengan tanggungjawab para peneliti secara individu agar terjamin mereka tahu betul prosedur kerja, sasaran, dan indikasi sukses atau gagalnya. Berikutnya, tanggung jawab pimpinan tim atau atasan langsung di masing-masing tempat kerja. Ia harus tahu apa yang telah, sedang dan akan dikerjakan oleh seluruh anak buahnya. Kalau sang atasan ini dirasa tidak mampu memenuhi tanggung-jawabnya, tanggung-jawab selanjutnya bisa dilarikan ke tahapan di atasnya sesuai hirarki organisasi. Maka, pada saat ada pertanyaan siapa yang paling bertanggung-jawab untuk memasyarakatkan iptek di Indonesia, jawabnya sangat jelas: Dr. Muhammad A.S. Hikam, Menristek RI saat ini! Minimal, ia harus tahu tahapan dan proses yang diperlukan untuk mengimplementasikan konsep besarnya. Juga kriteria untuk menilai apakah proses berlancar lancar atau tidak. Di tangan Hikam lah kita bisa berharap dan sekaligus bertanya-tanya, apakah iptek kita benar-benar “membumi” dan memberikan manfaat riil bagi rakyat Indonesia, atau tetap rapi tersimpan di menara gading. Belajar dari Jepang Dalam banyak hal kita perlu belajar dari Jepang mengenai cara mengembangkan iptek. Pertama, karena Jepang mulai mengenal iptek dengan jalan adopsi dan 209

21. Bersama Dr. Candra Dermawan (kanan), mengunjungi Dr. Warsito P. Taruno (tengah), kawan sesama alumni OFP-BPPT yang berhasil menemukan jaket pembasmi kanker dan namanya telah mendunia, tetapi belum mendapat izin untuk memproduksinya di Indonesia Hadir di pertemuan Persada ikut teleconference “ monozukuri ” dengan pihak Jepang. Di deretan kanan mulai paling ujung: Pak Heru Santoso (VP. Panasonic), Pak Oloan P. Siahaan (Rektor Unsada) dan Pak M. Solichin (Pofesional di industri swasta) Bersama kawan-kawan Heartfull DENSO yang banyak membantu berbagai aktivitas sosialku selama di Nagoya Konser amal Love Indonesia yang kulakukan bersama-sama para WNI dan sahabat-sahabat Jepang pada bulan Desember 1998. Foto dari kiri: aku yang jadi penanggung jawab acara, Prof. Taizo Watanabe (mantan dubes Jepang di Jakarta) datang dari Tokyo dengan biaya sendiri, Ibu dan Bapak Yulwis Yatim (Konjen KJRI Osaka saat itu) yang juga mendukung penuh kegiatan ini. 201

32. M OBIL L ISTRIK N ASIONAL A KAN S EGERA D IRILIS ? (Artikel di President Post, 13 Januari 2013) Syukur, kecelakaan Dahlan Iskan (DI) pada saat uji coba prototipe Tuxuci di Magetan 5 Januari yang lalu tidak mengendurkan niatnya untuk melanjutkan pengembangan mobil listrik nasional (molinas). DI juga tetap mematok target akan merilis molinas pada bulan Mei mendatang sesuai dengan instruksi Presiden SBY (Kompas, 8/1). Ini hal positif yang patut diacungi jempol. Tetapi benarkah molinas akan segera melangkah ke tahap produksi massal? Untuk melangkah ke tahap tersebut, masalah terberatnya saat ini bukan bagaimana mendapatkan teknologinya, bukan pula bagaimana menyiapkan infrastruktur atau layanan purna jualnya. Tetapi, membikin model bisnis yang tepat dan menjalin kerja-sama dengan para pemasok komponen. Model bisnis Model bisnis ini berisi target penjualan, strategi pemasaran, rencana produksi dan optimalisasi seluruh aset agar perusahaan bisa meraih keuntungan dalam kondisi apa pun. Model bisnis yang baik juga perlu dilengkapi dengan analisis ROI ( return of investment ) dan analisis kelemahan/ kekuatan (SWOT) sebagai bagian dari analisis resiko manajemen. Contoh model bisnis yang dianut oleh Reva Electric Vehicles cukup menarik untuk dikaji. Karena pertimbangan pasar yang kecil di India, dari awal mereka membidik konsumen di wilayah perkotaan di 24 negara lainnya. Mereka juga mematok kapasitas produksinya hanya 1.000 unit/ tahun dan sampai saat ini hanya ada sekitar 4.500 unit yang mereka jual ( http://www.mahindrareva.com ). Tetapi perusahaan ini tetap meraih untung karena bisa menekan biaya produksi dengan mendapatkan komponen dan merakitnya di negara tempat pembelinya (Takanori, 2010). Beda lagi Nissan yang berhasil menjual Leaf sekitar 50 ribu sejak merilisnya akhir 2010 yang lalu. Dari awal mereka mentargetkan pasar di Jepang, Amerika dan Eropa yang menginginkan mobil listrik yang suaranya tenang tetapi larinya 212

30. bukan tempat ditemukannya iptek. Sama dengan kita. Kedua, karena keberhasilan Jepang memasyarakatkan iptek dan merubahnya menjadi produk-produk bernilai ekonomis tinggi yang mampu mensejahterakan masyarakat Jepang. Sama dengan impian kita. Di dalam “Kenkyu Kaihatsu Manejimento (Management of R & D, 1994)”, misalnya, Prof. Y. Matsui membagi pengembangan iptek menjadi dua kategori, “ discovery driven style (DDS)” dan “ market driven style (MDS)”. DDS lebih mengutamakan gagasan inovatif untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru. Pengembangan iptek bergaya DDS lebih cenderung academic oriented dan pemanfaatan hasil penelitian selanjutnya diserahkan ke masyarakat. Sementara MDS mengutamakan improvisasi dari penemuan iptek sebelumnya agar menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. MDS lebih cenderung market oriented , di mana target penelitiannya jelas: kapan saat pengkajian, kapan saat penerapan, seberapa nilai ekonomisnya, dan apa manfaat riil lainnya bagi masyarakat luas. Di sini, peneliti tetap diharuskan menjadi pionir sampai tugasnya untuk menjadikan iptek berubah menjadi produk yang bermanfaat menjadi kenyataan. Menurut Matsui, DDS hanya kondusif di negara-negara asal iptek seperti Amerika dan Eropa. Negara lain yang mengenal iptek setelahnya dengan jalan adopsi, mau tak mau dihadapkan pada alternatif kedua. Baru setelah iptek berakar di masyarakat dan bisa memberikan keuntungan ekonomis, sedikit demi sedikit berubah haluan ke alternatif pertama. Hal itu juga berlaku di Jepang. Jepang yang saat ini telah menjadi salah satu tumpuan iptek dunia, juga memilih MDS di awal pengembangan ipteknya. Baru setelah terjadi friksi perdagangan memuncak di awal tahun 80-an, mereka sedikit memberikan perhatian kepada penelitian DDS. Namun prioritas utamanya tetap melakukan improvisasi terus menerus ( kaizen ) terhadap iptek yang diapdosi untuk menciptakan produk-produk yang lebih unggul dibanding produk di negara asalnya. Jepang juga seolah tak terlalu peduli pada saat Masyarakat Barat memberi istilah kemampuan Jepang mengadopsi dan improvisasi iptek ini sebagai “japanity”, bukan “creativity” sebagaimana yang dibanggakan oleh orang-orang Barat. Maka, bolehlah saya pun bermimpi. Sepuluh tahun mendatang, keberhasilan pengembangan iptek kita telah mampu memberikan kontribusi besar pada perekonomian nasional. Lalu sepuluh tahun berikutnya, berkat produk-produk unggulan hasil adopsi dan improvisasi iptek, kita bisa mengembalikan seluruh utang 210

26. HIKAM DAN “INDONESIANITY” IPTEK (Artikel di Suara Pembaharuan, 1 Mei 2000) Pertengahan bulan lalu saya kembali mendengar ucapan Menristek Hikam yang menegaskan tekadnya melakukan pembenahan dalam upayanya untuk “membumikan iptek” di Indonesia (Detik.com, 15 April 2000). Di tengah-tengah maraknya berita-berita politik selama ini, rasanya lama sekali tak ada berita di sekitar perkembangan iptek di tanah air, sehingga berita sekecil apa pun berusaha tidak saya lewatkan. Sayang sekali, Hikam belum memperlihatkan langkah kongkrit dan terobosan baru untuk mengimplentasikan konsep besar tersebut, sehingga saya pun kembali bertanya, mampukah dan bagaimana cara merealisasikannya. “Membumikan iptek” yang dimaksud Hikam kemungkinan sama dengan memasyarakatkan iptek yang berarti mendayagunakan manusia Indonesia peneliti iptek untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Itu hanya bisa dilakukan apabila ada interaksi dua arah yang seimbang antara para peneliti sebagai pemilik iptek dan masyarakat umum sebagai para calon penggunanya. Melalui interaksi tersebut para peneliti diharap tahu kebutuhan masyarakat, dan masyarakat juga tahu apa yang telah, sedang dan akan dilakukan para peneliti. Untuk itu, orientasi pengembangan iptek harus lebih menyesuaikan kemampuan adopsi masyarakat, dan menitik beratkan penelitian pada iptek untuk dikembangkan menjadi produk yang menghasilkan nilai ekonomis ( market oriented ). Selama ini, disadari atau tidak, pengembangan iptek di Indonesia lebih berorientasi kepada kegiatan akademik yang arahannya melakukan pengkajian dan menghasilkan ide- ide baru untuk kemajuan iptek itu sendiri ( academic oriented ). Idealnya, academic oriented hanyalah merupakan tahapan pengembangan iptek sebelum ke market oriented . Tetapi, keterbatasan jumlah peneliti, anggaran dan juga daya adopsi masyarakat menyebabkan hasil penelitian mandeg di menara gading. Karena itu, kalau Hikam sungguh-sungguh berniat “membumikan iptek” di Indonesia, jalan satu-satunya adalah memperkecil porsi penelitian academic oriented dan memperbesar porsi penelitian market oriented . Dalam pengertian penelitian yang market oriented ini, secara ekstrim bisa dikatakan, bahwa pada saat masyarakat kekurangan pangan, peneliti tanpa pangkat 206

Dilihat

  • 147 Total Views
  • 123 Website Views
  • 24 Embeded Views

Tindakan

  • 0 Social Shares
  • 0 Likes
  • 0 Dislikes
  • 0 Comments

Share count

  • 0 Facebook
  • 0 Twitter
  • 0 LinkedIn
  • 0 Google+

Embeds 2

  • 5 ijb-net.org
  • 3 ijb-net.balaikota.info